Original Character In “I Can’t Hate You Cho Kyuhyun!”

Kyu-Ra Wedding

Kyu-Ra Wedding

1. Jung Yeon as Kim Hye Ra

Kim Hye Ra

Kim Hye Ra

Kim Hye Ra

Kim Hye Ra

Kim Hye Ra

Kim Hye Ra

Kim Hye Ra

Kim Hye Ra

2. Leo as Cho Hyun Hae

Cho Hyun Hae

Cho Hyun Hae

Cho Hyun Hae

Cho Hyun Hae

Cho Kyuhyun-Cho Hyun Hae

Cho Kyuhyun-Cho Hyun Hae

Cho Hyun Hae - 1,5 y.o

Cho Hyun Hae – 1,5 y.o

Cho Hyun Hae

Cho Hyun Hae

Kyuhyun - Hyun Hae

Kyuhyun – Hyun Hae

3. Ryu Hye Ju as Kang Ji Yoon

4. Park Ji Ho as Goo Jun Hee

Kang Ji Yoon - Goo Jun Hee

Kang Ji Yoon – Goo Jun Hee

Kang Ji Yoon - Goo Jun Hee

Kang Ji Yoon – Goo Jun Hee

Kang Ji Yoon hug Kyuhyun

Kang Ji Yoon hug Kyuhyun

Kang Ji Yoon and Goo Jun Hee

Kang Ji Yoon and Goo Jun Hee

Kang Ji Yoon

Kang Ji Yoon

5. Yang Kiljin as Jung Rae Mi

Jung Rae Mi

Jung Rae Mi

Semoga visualisasinya sesuai dengan penggambaran di pikiran kalian ya :)

I Can’t Hate You, Cho Kyuhyun! ( It’s Your Baby ) Part 19 (Ending)

new

Tittle               : I Can’t Hate You, Cho Kyuhyun! ( It’s Your Baby )

Author            : Hilyah Nadhirah / Shin Hye Mi

FB                   : www.facebook.com/hilyah.nadhirah

Twitter           : www.twitter.com/#!/HilyahNadhz

WordPress      : www.nadhzworld.wordpress.com

Genre             : Sad Romance

Rating             : PG-15          

Leight             : Chapter

Main Cast      : Cho Kyuhyun, Kim Hye Ra, Kim Jongwoon

Disclaimer      : Don’t Bash.. Don’t PLAGIARISM..

 

FF I Can’t Hate You, Cho Kyuhyun! ( It’s Your Baby ) Part 1-18 bisa langsung klik di

www.nadhzworld.wordpress.com

~ HAPPY READING!!! ~

 

 

 

3 tahun lamanya ia tak terikat suatu apapun dengan Cho Kyuhyun. 3 tahun lamanya ia tak pernah bicara dengannya. Tetapi 3 tahun lamanya ia selalu memperhatikan pria itu dari kejauhan dengan secuil harapan pria itu dapat kembali padanya. Meski dengan sederet cara keji yang disusunnya untuk menyingkirkan Hye Ra setelah ia tahu bahwa wanita itu ternyata adalah sosok yang mulai dicintai Kyuhyun dengan segenap rasa penyesalannya.

Masih ingatkah kalian dengan Jung Rae Mi? Gadis yang bersikap manis dan mulai dekat dengan Donghae?

Apakah kalian percaya bahwa gadis manis itu adalah sekongkol Ji Yoon?

Dia adalah sang penjalan misi yang disusun Ji Yoon bersama dengannya.

Masih ingatkah kecelakaan pertama Hye Ra tepat didepan sekolah Hyun Hae?

Dialah salah satu dalangnya dan juga pelakunya.

Bukan tanpa alasan Rae Mi memilih bergabung dengan misi pembalasan dendam Ji Yoon. Ya, alasannya klise, Rae Mi mencintai Donghae sejak semester pertama. Dan ia begitu kesal begitu melihat Donghae bersama dengan seorang wanita. Dialah Kim Hye Ra.

Dan sekarang, ketika ia telah mengetahui semua kebenarannya, masa lalunya, peran Hye Ra didalam hidupnya dulu, pantaskah jika Ji Yoon masih mengharapkan Kyuhyun kembali padanya disaat pria itu sangat mencintai Hye Ra?

~Story Beginning~

 

Sinar matahari telah memancar deras memasuki ruangan perawatan melalui jendela berkaca besar yang kelambunya telah dibuka semenjak tadi entah oleh siapa. Hal itu juga yang membuat Kyuhyun mengerenyit sebelum pada akhirnya kedua mata onyx itu perlahan terbuka dan mengerjap untuk menyesuaikan retina-nya dengan sinar matahari yang telah begitu terang.

Kyuhyun menegakkan tubuhnya yang semalaman tertidur di tepian ranjang tempat Hye Ra terbaring. Matanya yang telah normal kembali itu menatap lekat tubuh Hye Ra yang tampak kurus dan pucat. Ia hanya terdiam seiringan dengan pergerakan tangannya yang menggapai tangan Hye Ra dan kemudian menggenggamnya erat.

“Aku mencintaimu, Hye Ra. Maafkan aku,” lirih Kyuhyun.

Kyuhyun meletakkan tangan Hye Ra yang ada didalam genggamannya itu pada pipinya. Dapat dirasakan betapa dingin kulit wanita tercintanya itu ketika menembus permukaan kulit wajahnya.

Ia ingin menangis jika saja air matanya tak mengering, tapi nyatanya, tak ada lagi sisa air mata yang akan dikeluarkan. Sekarang Kyuhyun hanya bisa merasa hatinya yang kian sakit setiap menatap Hye Ra yang masih terlelap diam tanpa ada tanda-tanda akan terbangun. Entah sampai kapan wanita itu betah berkelana di alam mimpinya, melupakan dan tak memperdulikan betapa banyak orang yang menantikan mata indah itu terbuka kembali.

Kyuhyun menggersah, menghembuskan nafas kasar ketika berusaha menepis dan menghapus semua pikiran akan resiko terburuk yang akan dialami Hye Ra.

Bagaimana jika Hye Ra tak akan pernah bangun lagi? Meninggalkannya dengan segala kenangan, meninggalkannya dengan beribu kata maaf yang belum tersampaikan. Akankah Kyuhyun bisa menerimanya? Akankah pria itu sanggup melanjutkan kehidupannya nanti jika hal itu benar-benar terjadi?

Kyuhyun merutuk dirinya sendiri yang dengan teganya pernah terlintas pemikiran semacam itu. Bodoh. Bagaimana bisa dia mengandai-andai hal buruk?!

“Aku akan memeriksa keadaan Hye Ra. Bisakah kau menunggu diluar sebentar?”

Suara sedikit berat itu sukses membuat Kyuhyun menolehkan kepalanya. Didapatinya seorang pria dengan jas putih dan stethoscope menggantung di lehernya itu tengah berdiri di belakang Kyuhyun dengan tatapan dingin yang terpancar dari kedua manik matanya.

Kyuhyun diam sejenak sebelum pada akhirnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun ia beranjak dari kursi dan melangkah keluar ruangan.

-oOo-

Donghae melihat grafik kesehatan Hye Ra di dalam map yang baru saja di berikan oleh salah satu perawat. Ia tersenyum tipis ketika mendapati kesehatan Hye Ra yang meningkat meskipun belum terlalu pesat.

“Kau bisa kembali lebih dulu,” Donghae menyunggingkan senyumnya kepada dua orang perawat yang sedari tadi selalu mengikutinya saat memeriksa pasien-pasien.

“Baik,” kedua perawat itu keluar meninggalkan Donghae dan Hye Ra yang ada di dalam ruangan.

Seiringan dengan tertutupnya pintu, Donghae mematung menatap Hye Ra dengan tatapan kian sendu. Ia tak melangkahkan kaki mendekati Hye Ra. Hanya diam membeku. Konstan.

Di dalam kepalanya, pikiran Donghae benar-benar tengah berkecamuk. Hatinya bimbang. Pemandangan yang baru saja ia lihat sempat membuat hatinya goyah. Melihat Cho Kyuhyun yang begitu mencintai Hye Ra hingga air matanya mengering menangisi wanita itu, membuat ia sedikit tak tega saat mendapati dirinya secara tak langsung menjadi tembok penghalang diantara mereka.

Donghae menghela nafas berat, diusapnya dengan kasar permukaan wajah yang berekspresi dingin itu. Ia tak tega, namun di lain sisi ia juga mencari pembenaran atas apa yang telah dilakukannya.

Jika memori diputar kembali, ia mengingat Hye Ra yang telah menerimanya tanpa paksaan sedikit pun, bukankah itu artinya Hye Ra telah membuka hatinya?

Hye Ra juga tak pernah mengungkit dan menyebut lagi nama Kyuhyun, bukankah itu artinya Hye Ra telah menutup pintu hatinya untuk Kyuhyun?

Donghae akhirnya merasa dirinya ada benarnya juga, karena ia merasa memiliki alasan untuk tetap mencintai Hye Ra, tetap mengharapkan wanita itu akan bersanding dengannya nanti.

“Izinkan aku untuk egois sekali ini saja, Ra-yaa,” gumam Donghae pelan dengan tatapan yang tak terlepas dari wajah Hye Ra.

“Aku hanya ingin memberitahumu, bahwa aku tak akan lagi dengan mudahnya melepaskanmu, karena aku mencintaimu,”

-oOo-

Jongwoon duduk berhadapan dengan Hyun Hae yang tengah lahap memakan sushi. Ditatapnya dengan amat lekat wajah keponakan tampannya itu. Ia tahu betul wajah tampannya sangat kental menurun dari gen istimewa ayah biologis-nya. Siapa lagi jika bukan Cho Kyuhyun.

Samchon kaph..an dath..ang di Jeph..ang?” tanya Hyun Hae dengan mulut yang masih penuh dengan sushi.

Aigoo, keponakan samchon sudah tidak makan berapa bulan? Mengapa sampai serakus itu, Hyunie?”

Jongwoon terkekeh pelan melihat Hyun Hae yang dengan susahnya berusaha menelan makanannya. Disodorkan segelas air mineral pada Hyun Hae dengan isyarat menyuruhnya untuk minum terlebih dahulu.

Hyun Hae menenggak hingga habis segelas air mineral yang di sodorkan pamannya untuk membantu dirinya menelan semua sushi super enak itu.

“Sudah. Sekarang katakan pada Hyunie, kapan samchon datang?” terlihat sekali bocah itu sangat penasaran hingga ia melipat tangannya diatas meja dan mencondongkan tubuhnya.

Samchon  datang kemarin pagi,” ujar Jongwoon menjelaskan.

“Kenapa tidak memberitahu Hyunie? Kan’ Hyunie sudah memberitahu samchon  nomor ponsel Hyunie,” sungut Hyun Hae.

“Hyunie kan sedang sekolah,”

“Tapi mengapa tidak menelpon ketika Hyunie sudah pulang sekolah? Kalau tahu begitu, Hyunie akan memilih untuk menginap di rumah sakit saja daripada di rumah dengan Ji Yoon noona,

Mianhaeyo, Hyunie. Kemarin samchon sibuk mengurus Hye Ra eomma,

Hyun Hae hanya mendesah berat layaknya pria dewasa.

“Apa haraboji dan halmeoni juga ikut?”

Ne,”

“Apa Kyuhyun samchon juga ikut?” mata Hyun Hae seketika berbinar-binar saat menyebut nama ‘Kyuhyun’

Jongwoon terdiam sejenak, ia menatap mata Hyun Hae yang membulat dengan berbinar-binar itu. Ia sangat tahu bahwa Hyun Hae sangat menunggu kedatangan Kyuhyun. Ya, siapa yang bisa menentang ikatan bathin anak dan ayahnya. Jongwoon merasa bersalah ketika mengingat bahwa dirinya yang berusaha mengubur semua fakta atas jati diri Hyun Hae.

Ne,” Jongwoon mengangguk dengan tersenyum tipis.

Jinjjayo, samchon?!” mata Hyun Hae berseru tak percaya.

Ne, dia datang dengan Tuan dan Nyonya Cho,”

Assa!” Hyun Hae mengepalkan tangan kanannya dan mengangkatnya seperti hendak meninju udara untuk menggambarkan ekspresi kegembiraannya.

“Antarkan Hyunie ke rumah sakit ya, samchon. Tapi Hyunie masih ingin tambah sushi-nya. Boleh ‘kan, samchon? Hyunie masih lapar,” Hyun Hae memasang wajah memelas dengan tangan mengusap-usap perutnya.

Aigoo,”

-oOo-

Jongwoon duduk diam di dalam taxi yang akan membawanya menuju rumah sakit tempat Hye Ra di rawat setelah sebelumnya menjemput Hyun Hae pulang sekolah dan makan siang di salah satu restoran Jepang bersama keponakannya itu.

Ia masih mendengar ocehan Hyun Hae yang duduk disebelahnya. Ocehan bocah berusia hampir empat tahun itu tetap saja bertema sama, yaitu tentang pria bernama Cho Kyuhyun.

Selama lima belas menit perjalanan, Hyun Hae sudah menceritakan berbagai kegiatan yang telah dilakukannya bersama Kyuhyun saat di Seoul. Mulai dari bermain playstation, jalan-jalan di Myeongdong, membeli hadiah ulang tahun untuk Hye Ra, dan membuat pesta kejutan untuk Hye Ra.

Mereka benar-benar sudah begitu dekat. Meski hanya bertemu beberapa hari, yang namanya ikatan bathin memang tak akan bisa dibohongi.

Samchon,” panggil Hyun Hae.

“Hmm?”

“Kyuhyun samchon pernah bilang kalau dia sangat mencintai eomma. Hyunie juga ingin Kyuhyun samchon jadi appa Hyunie. Tetapi kan eomma sudah dengan Donghae appa. Apa boleh eomma menikah lagi?” tanya Hyun Hae yang membuat Jongwoon ternganga.

Untuk urusan Donghae, Jongwoon sudah mengetahuinya bahwa lelaki itu juga sangat mencintai adiknya. Dia adalah dokter yang selama ini menjaga dan merawat Hye Ra dengan amat baik. Jongwoon sedikit merasa lega saat mengetahui Hye Ra berada di bawah pengawasan pria baik-baik.

Jongwoon juga senang Hye Ra dapat mengenal pria yang mau dan mampu menerima segala kekurangan Hye Ra dan menerima kehadiran Hyun Hae yang notabene bukanlah anak kandung Donghae.

Jongwoon juga sudah tahu bahwa Donghae telah menyatakan perasaannya dan melamar Hye Ra sebagai bukti kesungguh-sungguhannya. Tetapi untuk urusan menikah, entah mengapa ia sedikit berat memikirkannya. Ia memikirkan Hyun Hae yang memang harus tahu cepat atau lambat tentang siapa dirinya sebenarnya. Tak selamanya ia harus menganggap bahwa Donghae adalah ayah biologis-nya.

“Menurut Hyunie, Kyuhyun samchon cocok sekali dengan eomma. Ya tidak, samchon?” lanjut Hyun Hae kepada Jongwoon yang masih terdiam.

Jongwoon menoleh dan hanya menyunggingkan senyuman tipisnya kearah Hyun Hae karena ia tak tahu harus menjawab pertanyaan bocah ini dengan jawaban apa.

-oOo-

Hyun Hae berlari dengan kaki mungilnya. Ia tak menunggu Jongwoon melainkan langsung membuka pintu taxi dan berlari dengan girangnya. Jongwoon hanya menatapnya dengan pandangan yang sulit dimengerti.

Setelah membayar argo taxi, pria bermata sipit itu mengikuti langkah Hyun Hae yang berada beberapa langkah di depannya.

‘Hyunie benar-benar bahagia, pantaskah aku merusak kebahagiaannya?’ batin Jongwoon.

Jongwoon tak berniat menyusul Hyun Hae, cukup hanya berjalan dibelakang bocah yang tengah kegirangan itu. Tak sadar, sesungging senyum tipis itu terkembang lagi dibibir Jongwoon saat melihat keponakannya itu bahagia.

Tak lama kemudian, mereka telah berada di koridor rumah sakit dimana ruang perawatan Hye Ra berada di salah satu sisinya. Jongwoon melihat Hyun Hae menambah kecepatan berlarinya ketika bocah itu telah mendapati suatu objek yang sangat di rindukannya selama ini.

Mata Jongwoon menatap lurus kedepan dan didapatinya seorang pria dengan kemeja putihnya tengah duduk disalah satu bangku tunggu yang ada di depan ruang perawatan Hye Ra. Tak butuh cenayang untuk mengetahui pria itu adalah Cho Kyuhyun.

“Kyuhyun samchoooon!” Jongwoon sedikit tersentak ketika mendengar teriakan Hyun Hae.

Cho Kyuhyun yang mendengar teriakan namanya itu pun menolehkan kepalanya. Wajah yang tadinya suram tiba-tiba berubah menjadi cerah, secerah matahari yang tengah bersinar di atas awan. Ia bangkit dari duduknya dan menekuk lututnya menunggu rengkuhan si bocah kecil, Hyun Hae.

Hyun Hae merentangkan kedua tangan mungilnya itu dan diikuti dengan gerakan serupa oleh Kyuhyun.

GREPP..

Hyun Hae memeluk leher Kyuhyun dengan begitu erat. Kyuhyun pun juga memeluk tubuh mungil Hyun Hae dengan erat dan kemudian menggendongnya. Kyuhyun tersenyum bahagia melihat anaknya berlari kemudian memeluknya begitu erat seperti saat ini.

Bogoshipeoso, Kyuhyun samchon,”

Nado bogoshipeoso, Cho Hyun Hae,” ujar Kyuhyun yang meletakkan kepalanya di atas bahu sempit Hyun Hae.

“Mengapa samchon tidak menelponku jika akan datang ke Jepang?” ujar Hyun Hae dengan suara yang mulai parau.

Jeongmal mianhaeyo,”

“Akan Hyun Hae maafkan jika samchon selalu bersama Hyun Hae,”

Ne, yaksokake,”

Kyuhyun tak berniat sekalipun untuk melepaskan rengkuhannya pada Hyun Hae. Seperti halnya ia tak akan mau meninggalkan anaknya itu lagi. Sudah cukup rasa bersalah atas apa yang diperbuatnya di masa lalu karena menyia-nyiakan Hyun Hae dan Hye Ra dan sekarang adalah waktunya untuk sedikit demi sedikit memperbaiki kesalahannya.

-oOo-

“Hyunie, noona bawakan makanan untukmu,” suara seorang gadis terdengar seiringan dengan suara derak pintu yang terbuka menampakkan sang pemilik suara itu.

Seorang gadis dengan balutan cardigan berwarna peach dan celana jeans itu memasuki ruang perawatan Hye Ra dengan kantung belanjaan yang ada di kedua tangannya.

Sepertinya gadis bernama Kang Ji Yoon itu tak menyadari bahwa bukan hanya Hyun Hae yang ada di dalam ruangan itu, karena ketika ia mengangkat kepalanya, Ji Yoon hampir saja menjatuhkan kantung belanjaannya karena terkejut.

“Cho Kyuhyun,” panggil Ji Yoon lirih.

“Hai,” jawab Kyuhyun sambil tersenyum dan mengangkat tangan kanannya.

Hyun Hae yang ada di pangkuan Kyuhyun pun hanya bisa menatap bingung kedua orang yang tengah bertegur sapa dengan nada canggung itu.

“Ji Yoon noona mengenal Kyuhyun samchon?” tanya Hyun Hae penasaran.

Ji Yoon beralih menatap Hyun Hae dan kemudian mengangguk sambil tersenyum.

“Kalau begitu noona berbohong. Noona bilang noona bisa meramal,” tuduh Hyun Hae.

“Meramal?” sekarang giliran Kyuhyun yang bingung. Ia sama sekali tak mengetahui bahwa mantan kekasihnya itu bisa meramal.

“Ahh itu.. haha. Mianhaeyo,Hyunie,” Ji Yoon yang salah tingkah meluapkan rasa malunya dengan menggaruk tengkuknya yang sama sekali tak terasa gatal itu.

“Ahh, noona pembohong! Padahal Hyunie baru saja ingin bertanya sesuatu lagi,” sungut Hyun Hae sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

“Memangnya Hyunie ingin tanya apalagi pada noona?” Ji Yoon meletakkan kantung belanjaannya dan kemudian sedikit menunduk untuk mencubit pipi gembil Hyun Hae.

“Hyunie ingin noona memberitahu Hyunie kapan eomma sadar. Hyunie sudah rindu sekali pada eomma,”

-oOo-

At Cafetaria

“Dia benar-benar mirip denganmu ya, Cho Kyuhyun,” ujar Ji Yoon sambil memilin ramyun cup yang ada dihadapannya.

Nugu?”

Pabbo. Siapa lagi jika bukan anakmu, Cho Hyun Hae,” Ji Yoon sedikit memicingkan matanya.

“Ya, dia tampan sepertiku, dan dia pintar sepertiku,”

“Cih. Jangan lupakan bahwa dia juga bermulut pedas sepertimu,” sergah Ji Yoon.

“Tetapi apa yang diturunkan Hye Ra padanya?” lanjut Ji Yoon.

Kyuhyun termenung memikirkan hal yang diturunkan Hye Ra pada Hyun Hae.

“Sifat memaafkannya, baik hatinya, ketegarannya. Kira-kira seperti itulah yang Hye Ra berikan pada Hyunie,” Kyuhyun menerawang jauh menatap lurus kedepan.

“Hye Ra memang benar-benar wanita baik hati. Tak seperti diriku yang pendendam, jahat, dan bertindak sesuka hati. Kau pasti menyesal telah menyia-nyiakannya. Benar kan?” Ji Yoon tersenyum kecut sambil menyuapkan garpu penuh gulungan ramyun kedalam mulutnya.

“Benar, aku sangat menyesal. Tetapi apa katamu? Pendendam, jahat, dan suka bertindak semaunya sendiri? Ya, kuakui dirimu memang seperti itu dulu. Tetapi aku yakin kau juga punya sisi baik,”

“Aku tak begitu yakin,” Ji Yoon mempertahankan senyum kecutnya.

“Kau ingin aku membuktikannya?”

“Bagaimana?”

“Bantulah aku. Kumohon, Yoon-aah,”

“Dengan?”

“Meyakinkan Hye Ra bahwa aku benar-benar mencintainya dan tak ingin menyakitinya lagi. Kau mau?” Kyuhyun menggenggam tangan Ji Yoon sehingga membuat wanita itu tersentak kaget.

Ji Yoon tak bisa melihat lama wajah penuh harap yang Kyuhyun tunjukkan, karena semakin lama menatapnya, mata Ji Yoon akan perih dan kemudian mengeluarkan cairan bening dari kedua matanya. Menangis. Satu kata paling bodoh dan tak pernah sudi dilakukannya di masa lalu. Tetapi mengapa sekarang ia malah sering dengan mudahnya menangis?

Mendengarnya memohon padanya untuk wanita lain tak disangkanya akan sesakit ini. Atau mungkin karena Kyuhyun yang mengatakannnya.

-oOo-

At Japan International Hospital

Yeobo-yaa,” panggil Nyonya Cho pada suaminya yang tengah sibuk membaca koran.

Ne, waeyo?” Tuan Cho menanggapi istrinya itu dengan menurunkan sedikit koran yang tengah dipegangnya.

“Lihatlah,” Nyonya Cho sedikit mengendikkan dagunya kearah Hyun Hae yang disibukkan oleh PSP-nya.

“Memang kenapa Hyunie?” tanya Tuan Cho sambil terus memperhatikan Hyun Hae dan sama sekali tak ada yang salah dengan bocah lucu itu.

“Tidakkah kau merasa bahwa Hyunie sangat familiar?”

“Ya, Hyunie sudah seperti cucu kita sendiri, bukan?”

Aissh. Bukan itu. Tapi aku merasa Hyunie benar-benar mirip dengan Kyuhyun. Mulai dari wajahnya, tingkah lakunya, dan hobinya bermain game. Benar-benar Kyuhyun sekali,”

Menyadari perkataan sang istri, Tuan Cho menjadi lebih memperhatikan Hyun Hae dengan amat jeli.

“Benar juga. Wajahnya mirip sekali dengan Kyuhyun waktu kecil,” Tuan Cho menatap sang istri dan kemudian berujar pelan agar bocah yang tengah menjadi bahan pembicaraan itu tak terusik.

Aigoo, halmeoni dan haraboji sedang apa?” Hyun Hae yang seketika menoleh pun dibuat terkaget-kaget oleh tingkah nenek kakeknya yang tengah melihat dirinya seperti melihat sebuah spesies yang baru saja ditemukan.

“Ah anniyo!”

“Oh ya, halmeoni, haraboji, kapan Kyuhyun samchon kembali?”

-oOo-

At Donghae’s Room

Donghae termenung sambil mengetuk-ngetukkan ballpoint-nya keatas meja. Berkali-kali ia mendesah berat, wajahnya juga terlihat kian suntuk. Bagaimana tidak, sudah hampir seminggu Hye Ra terbaring lemah dan belum juga sadarkan diri. Hal itu membuatnya khawatir meskipun dari catatan medis kondisi Hye Ra semakin hari semakin membaik.

Drrt.. Drrt..

Lamunan Donghae pun buyar ketika mendengar ponselnya yang bergetar diatas meja kerjanya. Ditatapnya malas layar ponsel yang menyala menampilkan sebuah nomor bernama “Kantor Polisi Tokyo”. Ekspresi Donghae pun berubah dan tubuhnya telah duduk dengan tegak sekarang. Diraihnya ponsel berwarna putih itu dan ditekannya symbol dengan gambar telepon berwarna hijau itu.

“Halo,” ujar Donghae setelah sebelumnya telah menarik nafas terlebih dahulu.

“Dengan Tuan Lee Donghae,”

“Ya, saya sendiri,”

“Oh baguslah. Begini, menurut laporan Anda tentang kasus tabrak lari seminggu yang lalu di persimpangan jalan dekat Japan International Hospital, kami ingin mengabarkan bahwa kami telah menangkap pelakunya,”

“Benarkah? Apa sekarang dia ada di kantor polisi? Kapan saya bisa menemuinya?” ujar Donghae antusias dengan bahasa Jepang yang fasih.

“Ya, Anda bisa menemuinya siang nanti,”

“Baiklah, arigatou gozaimasu,”

“Ya,”

Sambungan telepon itu pun terputus. Wajah Donghae terlihat sedikit lebih tenang daripada beberapa menit sebelumnya. Bibirnya menyunggingkan senyuman miring sambil matanya menyorot tajam lurus kedepan.

“Siapapun dirimu. Rasakan kekalahanmu. Aku tak akan pernah bisa memaafkanmu,”

-oOo-

Donghae melirik arloji di pergelangan tangannya yang telah menunjukkan pukul dua belas lewat lima menit. Itu artinya waktu untuk jam makan siang telah tiba. Ia pun melepaskan jas putihnya dan menyampirkannya di kursi. Donghae melangkah menuju pintu dan kemudian membukanya untuk akses keluar.

Bukan untuk makan siang seperti biasanya, tetapi Donghae akan pergi menemui seseorang. Ya, siapa lagi jika bukan si penabrak itu. Dalam hati, Donghae sudah teramat geram dan tak sabar bertemu pecundang itu. Ia tak tahu pasti apakah dirinya bisa mengontrol emosi saat bertemu nanti.

Donghae berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit dengan cepat sampai akhirnya saat ini ia telah berada di halaman parkir tempat mobilnya berada. Tanpa pikir panjang dikeluarkannya kunci mobil itu dari saku celana bahannya dan membuka otomatis audy silver-nya itu.

Dengan cepat, Donghae melajukan mobilnya di jalanan Kota Tokyo yang selalu padat. Untung saja jarak rumah sakit dan kantor polisi tak terlalu jauh dan bisa ditempuh dalam waktu 10 menit. Selama perjalanan Donghae hanya diam menahan emosi dengan mencengkram kemudi kuat-kuat, setidaknya ia harus menormalkan emosinya untuk menghindari keributan nantinya.

Sesuai perkiraan, setelah 10 menit berkendara, sampailah Donghae di kantor polisi pusat. Ia benar-benar penasaran dengan wajah si pelaku itu.

“Oh, Tuan Lee,” sapa salah seorang pria berpakaian polisi disaat Donghae baru saja memasuki gedung kepolisian itu.

“Ya, Inspektur Nakamura, Saya kemari untuk menemui tersangka tabrak lari seminggu yang lalu,” ujar Donghae.

“Baik, mari ikut saya,”

-oOo-

            “Kk..kau?” Donghae membelalakkan matanya disaat menatap seorang wanita berpakaian tahanan tengah digiring oleh beberapa polisi dengan keadaan tangan telah di borgol.

Oppa,

Mata gadis itu tak kalah membulatnya disaat ia melihat wajah Donghae yang tengah berdiri dihadapannya. Ia tak tahu harus apa karena gadis itu sudah terlanjur malu untuk muncul dihadapan Donghae disaat dirinya telah menjadi seorang tersangka.

“Apa benar kau?”

Gadis itu hanya diam sambil menunduk dalam guna menyembunyikan airmatanya yang mulai menggenang. Nafasnya tercekat, membuatnya sama sekali tak berhasil mengeluarkan sepatah kata pun.

“KATAKAN, RAE MI?!!” bentak Donghae yang mulai kesal.

Gadis bernama Jung Rae Mi itu merasakan tubuhnya lemas. Ia tak kuat mendengar untuk pertama kali dirinya dibentak oleh seorang pria, apalagi pria itu adalah pria yang dicintainya.

Mianhayeo, Oppa. Mianhaeyo,” lirih Rae Mi saat suaranya telah parau. Bahunya bergetar menandakan isakan tangis yang tak bisa ditahannya lagi.

“Mengapa kau melakukannya?” ujar Donghae pelan namun tajam.

Mianhae, Oppa,

“Aku tak memintamu meminta maaf. Aku hanya ingin kau menjawab pertanyaanku,”

Rae Mi pun akhirnya memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya dan menatap mata sayu Donghae yang telah berubah tajam itu lekat-lekat.

“Karena aku mencintaimu, Oppa. Maafkan aku,” kini suara Rae Mi jauh lebih tegar meskipun di dalam hatinya ia bergetar ketakutan.

Donghae sedikit terkejut mendengar pernyataan Rae Mi yang menurutnya begitu tiba-tiba tetapi hal itu tak membuat ekspresi wajah Donghae berubah. Ia tetap mempertahankan ekspresi dinginnya itu.

“Tsk. Jinjja. Aku tak menyangka seorang gadis yang kukira manis dan baik hati, tega melakukan hal seperti ini. Dan apa katamu? Cinta? Karena kau mencintaiku? Apakah hanya karena kau mencintaiku, kau akan menghancurkan dan melenyapkan semua orang yang ada di dekatku?”

“Bukan seperti itu. Aku hanya ingin kau…”

“Kau ingin aku hanya menatapmu? Menjadi milikmu? Begitu?”

Sekarang tak ada lagi yang bisa dikatakan Rae Mi. Dirinya telah kalah telak dan telah di skak mat oleh Donghae. Tak ada lagi sisa sisa pembelaan diri yang bisa diucapkannya.

Rae Mi kembali menunduk dalam. Ia tahu ia salah, ia tahu ia egois, ia tahu semua yang telah dilakukannya adalah kejahatan. Ia tahu itu dan sekarang ia menyesalinya.

“Kau tahu Rae Mi, jika kau tak se-egois ini, tak segila ini, dan tak semengerikan ini, mungkin saja aku bisa mempertimbangkan cintamu,” nada suara Donghae mulai melembut.

“Tetapi sekarang aku sudah tak bisa mempertimbangkannya,” lanjut Donghae.

Rae Mi menunduk semakin dalam. Ia terisak dalam diam. Ia membiarkan airmatanya yang semakin deras itu jatuh.

“Inspektur Nakamura, kurasa sudah cukup aku bertemu dengannya. Sekarang silahkan bawa dia kembali,” ujar Donghae pada lelaki berpangkat di sebelahnya itu.

“Baik,”

-oOo-

At Hye Ra’s Room, Japan International Hospital

Seperti hari-hari sebelumnya, Kyuhyun selalu duduk menatap Hye Ra yang masih betah memejamkan matanya itu. Ia tetap setia menunggu sampai tiba waktunya wanita tercintanya itu kembali sadar dan membuka kedua matanya. Meski ia tak pernah tahu kapan hal itu akan terjadi.

Terhitung sudah sejak satu jam yang lalu Kyuhyun berada disini. Menunggu dengan sabar hingga akhirnya ia terlelap di sisi ranjang Hye Ra dengan tangan yang masih menggenggam erat jemari lentik wanita itu.

Dan tiba-tiba saja Kyuhyun terbangun karena merasakan tangan yang ada di dalam genggamannya bergerak.

“Hye…Hye Ra.. kau..” mata Kyuhyun yang sebelumnya masih berat seketika terbelalak lebar ketika mendapati wanita tercintanya itu telah sadar.

Namun Hye Ra hanya diam dan menerawang jauh menatap langit-langit ruangan dengan tatapan kosong. Ia seperti tak menganggap keberadaan Kyuhyun sama sekali, ia seolah tengah sendirian di ruangan luas ini.

Sedangkan Kyuhyun, air matanya langsung saja keluar dan mengalir di kedua belah pipinya yang tirus itu. Senyuman lebar terkembang di bibir tebalnya. Mulutnya tak henti-hentinya mengucap rasa syukur pada Tuhan yang akhirnya mendengarkan do’a-do’a-nya, menyadarkan wanita cantik ini lagi sehingga Kyuhyun mampu bernafas lega kembali karena telah menatap binar manik mata yang indah itu lagi.

Kyuhyun dengan masih berselimut haru dengan gemetaran menekan tombol pemanggil suster yang ada di samping ranjang Hye Ra.

“Akhirnya Hye Ra, akhirnya kau kembali,” Kyuhyun meraih tangan Hye Ra yang terkulai disamping tubuhnya dan menggenggamnya erat.

Lagi-lagi Hye Ra tak menjawab, ia hanya menoleh menatap Kyuhyun dengan pandangan asing. Dan sesaat sebelum Kyuhyun hendak mencium punggung tangan Hye Ra, wanita itu malah menarik tangannya kembali.

“Baiklah, Ra-yaa. Tak apa. Yang penting saat ini kau telah kembali dan dapat kulihat lagi manik matamu,” tindakan Hye Ra yang seperti hendak menjauh itu tak membuat Kyuhyun lantas menanggalkan senyum sumringahnya.

Memang seperti ini kan janji Kyuhyun, dia akan bahagia ketika Hye Ra sadar kembali dimana ia bisa menatapnya dan Hye Ra bisa menatap Kyuhyun walaupun dengan pandangan benci.

-oOo-

A Street, Tokyo, Japan

Pikiran pria bermarga Lee itu benar-benar tengah kacau. Bagaimana tidak, ia mendapatkan fakta bahwa seorang gadis yang telah dianggap adik sendiri itu dengan teganya melakukan hal jahat ang hampir saja merenggut nyawa Hye Ra –gadis yang dicintainya- . Terlebih lagi, motif gadis itu adalah karena ia mencintai Donghae. Benar-benar bersikap seperti psikopat gadis itu, pikir Donghae.

Donghae mengemudikan mobilnya dalam diam. Ia hanya menatap lurus kedepan tanpa adanya semangat di matanya. Dia benar-benar terlihat lesu. Sampai akhirnya ponselnya kembali bergetar, dan ditatapnya nama sang penelpon di layar smartphone-nya itu.

Kang Ji Yoon?

Untuk apa gadis itu menelpon lagi?

Dengan malas pun Donghae menerima panggilan sepupunya itu dan menyambungkannya pada earphone yang menempel di kedua telinganya.

“Hae-yaa, Hye Ra sudah sadar,” dari seberang sana terdengar suara Ji Yoon yang terdengar tengah menahan diri untuk tak berteriak saking senangnya.

Mwo? Jeongmalyo?!” sampai-sampai Donghae menghentikan laju mobilnya untuk memastikan dengan jelas ucapan Ji Yoon.

Ne, jeongmalyo,”

“Katakan padaku sekali lagi,” suruh Donghae mencoba untuk memastikan.

“Lee-Donghae,Kim-Hye-Ra-sudah-sadar,” Ji Yoon menekankan semua kalimat yang diucapkannya dapat langsung ditangkap oleh Donghae.

Donghae menghembuskan nafas lega meskipun saat ini dadanya sesak karena lupa cara untuk menarik nafas kembali saking senangnya. Ia juga merasa seperti akan mati sesak karena rasa bahagia itu terlalu melambung tinggi hingga memenuhi semua rongga dadanya.

Reaksi yang diberikan Donghae dan Kyuhyun tak jauh beda, mereka berdua sama-sama menitikkan air mata dan juga mengucap beribu-ribu kata syukur pada Tuhan.

“Baiklah, aku akan secepatnya kesana,” putus Donghae.

Chakkaman,” tahan Ji Yoon di seberang sana.

“Apa lagi?”

“Berhubung kau sedang berada di luar, bisakah kau membawakan beberapa pasang pakaian untuk Hye Ra. Ia harus segera bebersih,” tutur Ji Yoon.

“Baiklah,”

-oOo-

Donghae dengan cepat berlari kedalam rumah. Tak diperdulikan bunyi gemebrak dari pintu kayu yang di tabraknya dengan tak sabaran tadi. Yang ada didalam pikirannya adalah mengambil semua barang yang dibutuhkan Hye Ra dan cepat kembali ke rumah sakit untuk merengkuh tubuh yang sangat dirindukannya itu.

Dengan langkah cepat, Donghae membuka pintu kamar Hye Ra dan langsung mengambil tas berukuran besar dari lemari kayu. Dimasukkan beberapa helai pakaian dan segala tetek bengek yang mungkin saja berguna bagi Hye Ra nantinya.

BRUK..

Sebuah buku berwarna coklat yang telah usang itu terjatuh dari meja disaat Donghae hendak mengambil sebuah bedak milik Hye Ra. Ia mendengus kesal karena hal itu sedikit menghambatnya.

Dibungkukkan badannya untuk mengambil buku bertali vertical itu. Tetapi ketika hendak menaruhnya kembali di tempat semula, Donghae melihat sebuah foto terjulur keluar, begitu menarik perhatian Donghae sampai-sampai ia merasa penasaran.

Akhirnya perlahan ditarik keluar foto tersebut.

Dan..

“Kyuhyun…. Hye Ra..”

-oOo-

Donghae berlari melewati lorong-lorong rumah sakit dengan tangan kanan yang membawa beban dari tas berukuran besar berisi kebutuhan Hye Ra itu. Dadanya semakin bergemuruh disaat langkahnya tak jauh lagi akan membawanya ke depan pintu ruang perawatan Hye Ra. Ia tak tahu harus mengatakan apa, melakukan apa saat melihat wajah Hye Ra dengan mata terbuka untuk pertama kalinya semenjak seminggu yang lalu.

Donghae berhenti di depan pintu berwarna putih itu untuk sejenak menormalkan pernafasannya setelah berlari dari halaman parkir. Sebelum menjeblak masuk ke dalam, di lihatnya ruangan itu dari jendela yang ada di pintu. Ternyata semua keluarga Hye Ra tengah berkumpul mengelilingi ranjang tempat Hye Ra berada. Tampaknya mereka juga amat senang melihat putrinya kembali siuman.

Setelah beberapa saat, akhirnya Donghae pun memberanikan diri untuk masuk ke dalam ruangan itu.

“Oh, wasso.” Ji Yoon yang pertama kali menyadari kehadiran Donghae pun menyambut pria itu dan mengambil alih tas besar dari tangan kanan Donghae.

Nafas Donghae yang masih sedikit tersengal itu masih terdengar. Ia tak merespon sedikitpun ucapan Ji Yoon padanya, melainkan malah menatap lekat kearah Hye Ra yang sedang duduk terdiam di atas ranjangnya.

Gumawo, jeongmal gumawo, Kim Hye Ra. Terimakasih kau membuka kedua mata indahmu itu lagi. Terimakasih,” entah apa yang mendorong Donghae sehingga berani memeluk tubuh Hye Ra dengan erat di tengah-tengah Tuan, Nyonya Cho dan Kim, juga Jongwoon dan Kyuhyun.

Mungkin egoisme dalam tekadnya yang sangat ingin memiliki Hye Ra lah yang membuatnya seberani ini. Karena ia telah bertekad tak akan melepaskan Hye Ra dengan mudah lagi.

Semua orang yang ada di dalam ruangan itu tercengang melihat bagaimana pria bergelar dokter itu memeluk tubuh Hye Ra dengan eratnya, tak terkecuali Kyuhyun.

Tangan pria itu terkepal kuat meredam emosinya yang mulai memuncak. Terbesit rasa amat tak rela melihat ada pria lain yang memeluk tubuh Hye Ra.

-oOo-

Hari ini, kondisi Hye Ra jauh lebih membaik sejak dua hari yang lalu ia terbangun dari komanya. Pagi ini, Hye Ra tengah duduk bersantai di taman belakang rumah sakit dengan novel yang sedang dibacanya. Ia butuh merilekskan seluruh pikirannya dan menghirup udara segar untuk mengisi kadar oksigen didalam otaknya.

“Kau akan kedinginan jika tak memakai jaketmu,”

Merasa arah pembicaraan seseorang yang tertuju padanya, Hye Ra pun menolehkan kepalanya dan mendapati seorang gadis seumuran dengannya tengah berjalan mendekat.

“Kang Ji Yoon?” Hye Ra menyebutkan nama lengkap gadis itu.

Ya, kedua wanita itu –Ji Yoon dan Hye Ra- telah menunjukkan sikap persahabatannya kembali seperti berbelas tahun yang lalu. Hal itu dikarenakan cerita yang Ji Yoon bagikan pada Hye Ra, mengingat semua masa lalu mereka, bernostalgia bersama di masa mereka masih bersahabat, dan menjadi sepasang sahabat kecil yang bahagia.

Mereka tak luput dari tangisan, disaat mengenang masa lalu itu. Ji Yoon juga tak henti-hentinya meminta maaf atas semua kesalahan yang pernah di perbuatnya di masa lalu dan di ikuti dengan Hye Ra yang berkali-kali mengatakan ‘Sudahlah, aku sudah memaafkanmu sejak dulu,’

“Ya, ini aku. Jangan katakan kau melupakanku,” ujar Ji Yoon sambil mengambil duduk disebelah Hye Ra.

Hye Ra terkikik pelan menanggapi gurauan sahabatnya itu.

“Ra-yaa, aku kemari karena ada hal yang ingin kutanyakan padamu,” Ji Yoon merubah posisi duduknya menjadi menghadap kearah Hye Ra.

“Hmm, tanyakan saja,”

Ji Yoon terdiam sesaat sambil menatap Hye Ra lekat-lekat. Diaturnya terlebih dahulu nafasnya sebelum menanyakan hal penting yang telah berputar-putar di kepala Ji Yoon sejak kedatangannya di Jepang tempo hari itu.

“Ini tentang perasaanmu yang sebenarnya,”

“Apa maksudmu?” tanya Hye Ra tak mengerti.

“Tentang Donghae dan Kyuhyun,”

Raut wajah Hye Ra berubah menjadi sedikit tegang. Meskipun tak terlalu kentara.

“Apa yang ingin kau ketahui dari itu, Yoon?”

“Hatimu,”

“Hatiku?”

“Ya, hanya itu. Hatimu, hati kecilmu,”

“Memangnya ada apa dengan hatiku?”

“Hyunie pernah mempercayai bahwa aku bisa meramal. Padahal saat itu aku berbohong padanya,” Ji Yoon menyunggingkan senyumannya ketika pikirannya melayang dimana Hyun Hae dengan mata berbinar mempercayai begitu saja tentang bualan konyol Ji Yoon.

“Tetapi saat ini, aku rasa aku bisa meramal. Yaitu hatimu,” lanjutnya.

“Yoon,”

“Kau tengah bimbang, bukan?”

“Aku benar-benar tak mengerti maksudmu,”

“Sudahlah, kau tak perlu menyembunyikannya dariku,”

Hye Ra mencoba untuk mengendalikan ekspresi dan suaranya agar tak tergagap. Ia juga memasang ekspresi tenang seperti tak ada sebuah pergolakan didalam dadanya.

“Ahh, apa maksudmu bimbang untuk memilih Cho Kyuhyun dan Lee Donghae?” nada bicara Hye Ra seketika berubah menjadi amat tenang.

“Ya,”

Hye Ra menyunggingkan senyum tipisnya sambil menatap sahabat lamanya itu.

“Bukankah kau telah mengetahui jawabannya? Aku sebentar lagi akan menikah dengan Lee Donghae,”

“Benarkah? Apa hatimu yang memilihnya?” tanya Ji Yoon tak kalah tenangnya.

“Ya, aku bersama hatiku yang telah memilihnya,” Hye Ra mengatakannya setelah sebelumnya menghela nafas diam-diam.

“Apa kau bahagia?”

“Tentu,”

“Apa kau merasa pilihanmu tepat?”

“Ya, aku yakin,”

“Apa menurutmu Donghae cukup baik untukmu?”

“Selama lebih dari 3 tahun dia menjagaku dengan baik, tak ada alasan untuk mengatakan bahwa dia tak cukup baik untukku,”

Ji Yoon lagi-lagi tersenyum misterius, membuat Hye Ra sedikit bergedik ngeri.

“Baiklah, tetapi apakah hatimu bergetar saat dia memelukmu?”

Hye Ra termenung diam, ia mencoba mengingat-ingat segala respon tubuhnya saat bersentuhan dengan Donghae selama ini. Tetapi semua ingatan di dalam memorinya mengatakan bahwa Hye Ra sama sekali tak pernah merasakan getaran seperti yang dikatakan Ji Yoon.

“Apakah jantungmu berdebar kencang disaat ia mengatakan bahwa ia mencintaimu?” tanpa sempat Hye Ra menjawab pertanyaan Ji Yoon sebelumnya, Ji Yoon telah mencecarinya dengan pertanyaan lain.

Hye Ra masih berada dalam angannya, masih terlalu sibuk memutar roll memorinya untuk mencari semua jawaban atas pertanyaan Ji Yoon.

Semakin dalam ia memutar ingatannya, semakin jelas juga jawabannya. Bahwa ia juga tak pernah merasakan jantungnya berdebar kencang saat bersama Donghae.

“Apakah Donghae yang selalu ada di dalam pikiranmu setiap saat? Setiap pagimu, siangmu, dan malammu?”

Hye Ra kali ini hanya mampu menunduk, mengisyaratkan dan mengerti bahwa dirinya sebentar lagi akan kalah telak. Ia tak mampu lagi membual cerita, pernyataan, dan memanipulasi semua perasaannya.

Memikirkan Donghae? Ya, Hye Ra memang pernah memikirkan pria itu, tetapi hanya dalam kata PERNAH, bukannya SELALU. Tak perlu dijelaskan lagi siapa yang telah mampu mengambil alih seluruh pikiran Hye Ra selama ini karena hal itu sudah terlalu kentara.

“Apa kau merasakan seperti akan mati sesak karena terlalu senangnya ketika dia berlutut dengan sebuah cincin ditangannya saat melamarmu dulu? Apa kau merasakannya?” Ji Yoon lagi-lagi menimpalinya kembali dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan Hye Ra.

Hye Ra menunduk semakin dalam, rongga dadanya terasa semakin sempit sehingga membuatnya sesak. Menyembunyikan perasaan yang sebenarnya memang tak akan mudah. Sakit, pasti.

“Ini yang terakhir yang akan kutanyakan, jadi… apa kau mencintainya? Dengan seluruh hatimu, seluruh ruang yang ada di dalam hatimu? Apa kau mencintainya?”

DEG..

Inilah pertanyaan final yang telah diprediksikan Hye Ra sebelumnya. Pertanyaan yang membuat otaknya berhenti berpikir untuk menjawab dengan sebuah omong kosong. Ia tak mampu lagi memikirkan kilahan-kilahan yang akan dilontarkannya karena otaknya saat ini berubah menjadi blank.

Tanpa perintahnya, tanpa disadarinya, air mata telah sukses menggenang dan kemudian mengalir di kedua belah pipi Hye Ra. Kekangan di dalam hatinya yang ia buat sendiri akibat membohongi perasaan sudah terlalu kuat sehingga Hye Ra tak mampu lagi menahan sakitnya.

Kedua bahu Hye Ra telah bergetar seiring dengan isakan lirih yang mulai terdengar. Ji Yoon yang duduk di hadapan Hye Ra, yang sedari tadi memasang tampang dingin dengan nada bicara tenang, kini dengan kedua tangan yang telah gemetarnya menarik cepat tubuh Hye Ra dan kemudian memeluknya erat.

“Maafkan aku, Yoon. Aku berbohong. Sampai saat ini, aku masih teramat sangat mencintai Kyuhyun. Aku tak bisa menggantikannya. Maafkan aku. Maafkan aku, Yoon,” ujar Hye Ra di sela-sela tangisnya yang mulai meledak.

Ji Yoon memejamkan matanya perlahan, kemudian menghela nafas panjang, berusaha untuk membuang dan melepas segala beban berat yang menggelayut di hatinya.

“Tak apa. Akhirnya kau mengatakannya juga. Aku hanya ingin kau jujur dengan perasaanmu. Jangan sembunyikan apalagi membohongi perasaanmu sendiri. Karena itu sangat menyakitkan,” ujar Ji Yoon dengan suara yang telah parau.

Ji Yoon merasakan sesak di dadanya, entah karena terlalu senang melihat Hye Ra yang telah jujur pada perasaannya atau karena dengan jujurnya Hye Ra itu berarti siap tak siap ia harus membuang perasaannya jauh-jauh terhadap Kyuhyun.

Tanpa sadar, sebenarnya Ji Yoon juga telah membohongi perasaannya sendiri.

Ia terlihat baik-baik saja disaat sakit di ulu hatinya kian mendera.

-oOo-

Donghae’s Room

Pria itu tengah duduk di tepian ranjangnya dengan tatapan kosong yang terpancar jelas dari balik mata sendunya. Raut wajahnya begitu datar, tanpa ekspresi, namun entah mengapa di lain sisi tersirat jelas sebuah kesedihan mendalam.

Mata pria itu akhirnya beralih menatap sebuah buku bersampul coklat pudar yang terlihat usang di tangan kanannya dan kemudian beralih lagi menatap sebuah map coklat dengan label rumah sakit bertaraf internasional tempatnya bekerja di tangan kirinya.

Donghae -pria itu-, ia diam sesaat untuk meloloskan beban berat di dadanya dengan menghembuskan nafas kasar yang terdengar menyakitkan. Dipejamkan juga mata hazzle itu kuat-kuat olehnya hingga menimbulkan guratan-guratan di dahinya.

Kedua tangan Donghae terlihat semakin mencengkram benda yang ada di dalam genggamannya, map dan buku usang itu.

Tak lama, akhirnya tubuh pria itu terguncang hebat. Bahunya bergetar seiringan dengan suara isak tangis yang tersendat-sendat. Air mata tak mampu lagi dibendungnya, mereka lolos dengan mudah, jatuh dari pelupuk matanya tanpa rasa bersalah.

Pria itu, Donghae, dia menangis.

Hatinya perih setiap kali mengingat sebuah kata yang selalu terngiang di benaknya semenjak kemarin. Kata yang cukup singkat tetapi sukses membuat luka menganga lebar di hati pria bermarga Lee itu.

“Sampai saat ini, aku masih teramat sangat mencintai Kyuhyun. Aku tak bisa menggantikannya. Maafkan aku,”

Kalimat menyakitkan itu adalah kalimat yang paling ingin dilupakan oleh Donghae seumur hidupnya, tetapi semakin ia ingin melupakannya, semakin melekat juga kalimat itu di dalam benaknya.

“Bagaimana bisa, Hye Ra?! Mengapa kau melakukan ini padaku?!”

Malam ini terasa begitu pahit dan menyakitkan bagi Donghae yang berkali-kali harus merelakan hatinya semakin terluka dengan hal-hal yang baru saja diketahuinya tentang Hye Ra dan perasaannya.

Semua karena buku harian Hye Ra yang ada di genggamannya. Ia telah membuka semua fakta.

-oOo-

At Hye Ra’s Room, Japan International Hospital

Menurut keputusan dokter, besok Hye Ra telah diperbolehkan untuk pulang. Hal itu membuat wanita itu sedikit senang ditengah kebimbangannya. Ya, ia bingung harus bagaimana setelah ini, setelah ada satu orang yang mengetahui isi hatinya. Apakah ia harus melanjutkan semuanya bersama Donghae dengan pura-pura bahagia? Ataukah mengatakan sebenarnya tetapi dengan menyakiti perasaan pria yang telah berlaku sangat baik padanya selama ini?

Ia tahu, semua yang diawali dengan kesalahan akan berakhir kesalahan juga.

Ia tahu, ia tak akan bisa hidup dengan kepura-puraan untuk selamanya, tetapi ia juga tahu bahwa bukan hal yang baik menyakiti dengan begitu kejam seseorang yang selama ini selalu ada disaat Hye Ra  tengah membutuhkan sosok tempatnya bersandar, yang selalu ada disaat dirinya terpuruk, selalu menjaga dan merawatnya dengan begitu baik.

Ingin rasanya Hye Ra menghilang. Meninggalkan semuanya tanpa jejak. Membebaskan pikirannya yang carut-marut. Tetapi lagi-lagi ia tahu, ia tak mungkin melakukannya.

Ohaiyo gozaimasu, Hye Ra-san,” sebuah suara bariton yang selalu terdengar merdu itu terdengar seiringan dengan terdengarnya derakan pintu yang terbuka.

Hal itu membuat Hye Ra tersadar dari lamunannya. Sedetik kemudian, nafas wanita itu tercekat dan jantungnya berdegup kian kencang.

“Kyu..Kyuhyun-ssi?”

Mata Hye Ra terlihat tak fokus. Ia berusaha mengalihkan pandangannya dari pria tampan setinggi kurang lebih 180 cm itu. Untuk saat ini, ia masih belum siap menatap pria itu lagi dari jarak sedekat ini. Ia takut terjatuh lagi, terpuruk dalam kubangan cintanya yang masih menganga lebar di dalam hatinya.

Pria itu tersenyum penuh pesona sambil menatap lekat Hye Ra. Langkah kaki panjangnya itu dengan cepat membawa pria bersenyum maut itu berada dihadapan Hye Ra. Kyuhyun menumpukan kedua tangannya di ranjang Hye Ra sehingga membuat tubuhnya condong pada tubuh Hye Ra.

“Ada..apa?” tanya Hye Ra gelagapan.

“Tidak ada. Hanya ingin melihatmu,”

Hye Ra memalingkan kepalanya, menatap sinar matahari yang tengah menyorot terang ruang perawatannya dari balik kaca jendela. Sebenarnya, saat ini Hye Ra bukannya sedang ingin menatap cahaya terang yang berbias itu, tetapi hanya dengan hal inilah ia bisa menghindari tatapan dalam yang terpancar dari kedua mata Kyuhyun.

“Kau sudah melihatku, kau bisa pergi sekarang,” ujar Hye Ra ketus, tanpa berniat menoleh sedikitpun.

“Baiklah, aku akan pergi setelah aku mengatakan bahwa besok kau akan pulang ke Seoul,”

Hye Ra terkejut mendengar ucapan Kyuhyun. Sontak ia menoleh dan menatap Kyuhyun dengan tatapan heran.

“Aku tak bisa. Sebentar lagi aku akan menikah,”

“Aku juga tak bisa, aku tak bisa membiarkanmu menikah dengan orang lain,”

“Kau memang tak pernah berubah. Egois,”

Kyuhyun mencerna semua kalimat yang dilontarkan Hye Ra. Ia merasa ucapan wanita itu sedikit terdengar janggal olehnya sehingga otaknya mulai bekerja dan kemudian dapat ditarik sebuah kesimpulan, bahwa… sebenarnya Hye Ra telah mengingat semua masa lalunya.

“Darimana kau tahu aku egois sejak dulu?”

“Aku…”

“Kau sudah mengetahui semuanya? Mengingat semuanya?”

Hye Ra tersudut ketika menatap mata Kyuhyun yang menelisik ke dalam matanya dengan segala pancaran mengintimidasinya. Mengapa ia begitu bodoh sehingga membuka kenyataan yang disembunyikannya itu? Apa ini rencana Tuhan yang akan membuka semua rahasia Hye Ra dengan cara-NYA sendiri?

“Katakan padaku, Ra-yaa,” titah Kyuhyun.

Hye Ra terpekur diam. Ia tak tahu harus bagaimana. Jika ia menundukkan kepala untuk menyembunyikan wajahnya, itu berarti sama dengan ia mengakui. Tetapi apakah mampu ia menatap mata Kyuhyun dihadapannya itu?

“Tolong katakan padaku, Hye Ra,”

Hye Ra tetap diam sampai akhirnya lengan Kyuhyun melingkar di pundak Hye Ra, menarik wanita itu ke dalam pelukannya dengan begitu egois. Ia merengkuh erat Hye Ra, mencurahkan semua rasa rindu, rasa sakit, yang selama ini telah dirasakannya.

-oOo-

            “Hye Ra,”

Merasa dirinya dipanggil, Hye Ra menurunkan novel yang tengah dibacanya dan mengalihkan pandangannya kepada sang pemilik suara.

“Donghae Oppa,”

Hye Ra seketika menegakkan posisi duduknya. Entah mengapa aura canggung tiba-tiba menyeruak di dalam ruangan ini. Hye Ra mendadak tak tahu harus berkata apa dan berlaku bagaimana saat bersama Donghae. Semua terasa asing baginya.

Wanita bermarga Kim itu terus menatap wajah Donghae yang telah duduk di atas kursi di samping ranjang Hye Ra. Hye Ra mendapati paras tampan itu sedikit berubah, senyum manis penuh ketulusan yang biasa dilihatnya dari pria itu tiba-tiba menghilang begitu saja digantikan oleh senyum yang terkesan dipaksakan. Wanita itu heran, apa yang sebenarnya telah terjadi dengan pria baik hati itu?

Oppa, gwenchanayo?”

Donghae mengangkat wajahnya menatap Hye Ra yang tengah bertanya untuk memastikan keadaannya. Ia tak menjawabnya melainkan hanya menatap penuh dan begitu lekat mata Hye Ra.

Oppa,” lirih Hye Ra.

Hye Ra menemukan sebuah pancaran sarat atas kepedihan di dalam manik mata sendu pria di sampingnya itu. Hal tersebuat membuatnya sangat khawatir, ia takut ia telah melakukan sesuatu yang salah sehingga menyakiti hati lembut pria itu.

“Maafkan aku, Hye Ra. Maafkan aku..” tiba-tiba Donghae menggenggam erat tangan Hye Ra seiringan dengan bulir air mata yang telah menggenang dari sudut kedua matanya.

Oppa, waeyo?” Hye Ra terheran-heran menatap Donghae yang baru pertama kali dilihatnya tengah menangis.

“Maafkan aku,”

Oppa, apa yang harus ku maafkan? Bahkan kau saja tak pernah berbuat salah padaku,”

Nafas Donghae memburu, ditatapnya lagi manik mata wanita disampingnya itu.

“Aku salah padamu. Salah besar,”

“Tidak, Oppa. Kau pria yang sangat baik untukku, tak ada yang perlu kumaafkan,”

“Cukup, Hye Ra! Kumohon jangan bohongi perasaanmu sendiri!” untuk pertama kalinya Donghae membentak Hye Ra.

Oppa,

“Mengapa kau tak pernah katakan padaku sebelumnya bahwa kau masih mencintai Kyuhyun?” nada bicara Donghae mulai kembali melembut.

Hye Ra merasakan detak jantungnya semakin cepat, hingga suara debarannya sampai terdengar oleh dirinya sendiri.

Mengapa hidup ini begitu rumit untuk wanita baik-baik sepertinya? Mengapa jalan hidupnya begitu menyakitkan? Mengapa terlalu banyak masalah yang menderanya? Dan mengapa ada orang yang tersakiti karenanya? Kira-kira begitulah pikiran Hye Ra saat ini.

“Kau tahu, betapa besar rasa bersalahku ketika mengetahui bahwa aku telah menjadi tembok pembatas antara kalian?” Donghae menghela nafas panjang untuk melegakan rongga dadanya yang terasa seperti terhimpit beban berat.

“Kukira Kyuhyun hanya memiliki rasa sepihak terhadapmu sehingga aku tak terlalu mengkhawatirkan hal itu, karena lagi-lagi aku mengira bahwa kau tidak lagi mencintainya. Aku mengira bahwa aku berhak mencintaimu, berhak mengharapkanmu menjadi pendampingku. Tetapi sekarang aku tahu, jika itu hanya perkiraanku. Aku memang adalah seorang dokter yang sering membuat perkiraan akurat, tetapi untuk hal ini, aku sama sekali tak berhasil membuat perkiraan yang tepat,” lanjut Donghae dengan nafas tercekat dan suara parau.

Hye Ra hanya diam. Ia menenggelamkan wajahnya dalam-dalam. Ia tak tahu harus bagaimana sekarang. Ia merasa telah menjadi wanita yang sangat jahat dengan menyakiti perasaan pria di sampingnya itu.

“Aku sudah melihat, mendengar, dan membaca semua kenangan kalian selama ini. Aku sadar bahwa aku tak bisa memaksa. Terlalu banyak kenangan diantara kalian dan terlalu besar rasa cinta kalian. Aku tahu, mungkin kau mencoba melupakan Kyuhyun dengan memilih bersamaku, tetapi aku juga tahu perasaanmu itu tak mungkin berubah semudah membalikkan telapak tangan.”

Oppa.. jeongmal mianhaeyo, Oppa,” sekarang giliran Hye Ra-lah yang meminta maaf dengan linangan air mata yang tak bisa ditahannya lagi.

“Tidak, seharusnya aku yang meminta maaf. Selama ini aku terlalu memaksakan kehendak dan juga menutup mata dan telinga tentang kalian berdua, jadi tolong maafkan aku,” ujar Donghae dengan tegar.

“Sekarang aku lega telah mengatakannya. Meski teramat sakit seperti akan mati saja, tetapi bebanku perlahan telah menghilang,”

Donghae mengusap wajahnya, menghilangkan jejak air matanya yang terlanjur terlukis di kedua belah pipinya. Ia juga menarik kedua sudut bibirnya untuk melukiskan senyum yang seperti biasa ditunjukkannya pada Hye Ra.

“Tatap aku,” Donghae meraih dagu Hye Ra dan mengangkat wajah wanita itu agar ia bisa menatap matanya.

See. I’m okay right now,” Donghae memamerkan senyuman lembutnya kepada Hye Ra.

Oppa, jeongmal mianhaeyo,

“Sudahlah. Aku tak semenyedihkan itu. Mungkin memang sakit, tetapi aku yakin aku akan bisa bangkit lagi,”

Donghae meraih tangan Hye Ra yang sempat dilepaskannya tadi. Digenggamnya erat seperti sebelumnya. Lama, cukup lama mereka hening tanpa ada lagi pembicaraan. Donghae sepertinya masih enggan mengeluarkan kata-kata lagi. Ia hanya diam, sambil menatap Hye Ra lembut bersama dengan senyuman manisnya yang khas.

“Kurasa aku punya satu hal lagi yang harus kulakukan,” setelah sekian lama, akhirnya Donghae membuka pembicaraan kembali.

Ne?

“Melepaskan ikatan ini,” Donghae menunduk menatap jemari lentik Hye Ra yang telah tersemat sebuah cincin berlian yang pernah diberikan olehnya.

Oppa,” lirih Hye Ra menatap tak percaya lelaki di sampingnya itu.

Menurut Hye Ra ini begitu mendadak dan terburu-buru. Ia begitu merasa iba pada Donghae yang tetapo memaksakan hatinya untuk menerima semua kenyataan pahit baginya dalam waktu secepat ini.

“Aku masih bisa menunggu sampai Oppa benar-benar siap. Aku tak apa,”

“Malah semakin sakit jika aku tak segera melepaskanmu, Hye Ra. Aku takut tak mempunyai keberanian seperti ini lagi nanti,”

Nafas Hye Ra tercekat. Hatinya begitu sakit karena terlalu sedih melihat kondisi Donghae yang selalu pura-pura baik-baik saja itu. Ia membayangkan betapa hancurnya hati pria itu, dan mungkin rasa sakitnya hampir sama ketika dirinya dulu dicampakkan oleh Kyuhyun.

Dan Hye Ra tahu pasti, rasanya seperti sekarat. Sakit yang tak terhingga.

Hye Ra hanya bisa diam ketika Donghae memutar cincin berlian di jemarinya untuk melepaskan benda itu dari jemari Hye Ra.

“Maafkan aku pernah membuatmu mengenakan cincin ini,”

Oppa, sudahlah. Aku tak pernah menyesal mengenakannya,”

“Cha, sudah selesai. Sekarang kau bebas. Maafkan aku membuatmu terikat selama ini,”

OPPA, SUDAHLAH! JANGAN MEMINTA MAAF LAGI!” kali ini tangis Hye Ra pun pecah. Ia tak kuat menatap Donghae dengan kepura-puraannya itu.

“Baiklah. Aku tak meminta maaf lagi. Tetapi bolehkah aku memelukmu?”

Dengan cepat, Hye Ra merengkuh pinggang Donghae. Didekapnya erat pria tampan itu sambil menangis pilu di dada bidangnya. Hye Ra juga bisa merasakan detak jantung Donghae yang berdegup kian kencang.

Oppa, jeongmal gumawo… untuk semuanya yang pernah kau lakukan untukku. Aku sama sekali tak pernah menyesal bertemu dengan pria sebaik dirimu. Aku tak tahu jika tak ada dirimu, bagaimana keadaanku saat ini,”

Ne.. sekarang.. kau hiduplah dengan baik. Ikuti kata hati kecilmu. Jangan pernah sembunyikan perasaanmu,”

-oOo-

At Japan International Hospital

09.00 A.M

“Akhirnya, Ra-yaa. Kau di perbolehkan pulang. Kau setuju ‘kan jika kita pulang ke Seoul siang nanti?” Nyonya Kim menangkup wajah Hye Ra dengan senyum penuh kelegaan yang terpancar di wajah cantik beliau.

“Mmm. Ne, eomma,”

Eomma, eomma, saat sudah di Seoul, Hyunie ingin jalan-jalan berkeliling kota bersama eomma dan Kyuhyun samchon, boleh?” tanya Hyun Hae sambil melirik Hye Ra dan Kyuhyun bergantian.

Hye Ra mengerenyitkan dahinya sesaat sebelum akhirnya menjawab pertanyaan anak semata wayangnya.

“Baiklah,”

Kyuhyun yang sedang membantu Jongwoon dan Tuan Kim membawa beberapa tas milik Hye Ra pun tiba-tiba membeku di tempat. Ditatapnya Hye Ra dengan pandangan tak percaya.

Jeongmal?! Jinjjayo?!

Hye Ra hanya menundukkan kepalanya dan pura-pura sibuk dengan beberapa pakaiannya yang belum terlipat.

“Mmm. Tapi sebentar saja. Aku masih lelah,” lirih Hye Ra.

Jinjjayo?” ulang Kyuhyun yang masih tak percaya namun hanya dibalas dengan anggukan lemah dari Hye Ra.

Jeongmal gumawo-yo, Hye Ra,”

Kyuhyun langsung memeluk tubuh Hye Ra. Hatinya begitu senang melihat Hye Ra telah membuka pintu hatinya untuk Kyuhyun kembali. Ya, walau hanya menerima ajakan Hyunie untuk berjalan-jalan bersama, tetapi ini adalah sebuah kemajuan yang tak boleh dilewatkan begitu saja.

“Le..le..lepaskan aku..”

“Kyuhyun-aah, kau bisa membunuh anakku,” canda Nyonya Kim yang tengah mengulum senyuman melihat tingkah pria yang sempat akan menjadi menantunya itu.

Kyuhyun pun langsung melepaskan tubuh Hye Ra dari pelukannya. Ia memegang kedua bahu Hye Ra dan menatap wanita yang tengah menunduk dalam itu dengan senyuman khasnya.

“Mmm. Mianhae,” sebuah deheman diikuti dengan kata berbahasa korea itu terdengar dari mulut seorang pria berjas dokter yang baru saja membuka pintu.

Oppa,” Hye Ra langsung menjauhkan diri beberapa senti dari Kyuhyun hingga tangan pria itu terlepas dari bahunya.

Annyeong, Ra-yaa,” sapa Donghae canggung.

“Oh ya, bisakah Hye Ra, Kyuhyun, Tuan dan Nyonya Cho, juga Tuan dan Nyonya Kim datang ke ruangan saya? Ada yang ingin saya bicarakan. Jongwoon-ssi, bisakah Anda membawa Hyun Hae jalan-jalan?”

-oOo-

Donghae’s Room, Japan International Hospital

Pria bermata sendu itu telah duduk berhadapan dengan Hye Ra, Kyuhyun, dan juga kedua orang tua mereka. Donghae meletakkan kedua tangannya yang terlipat itu di atas meja kayu jati dihadapannya.

“Sebenarnya ada apa dokter memanggil kami semua?” tanya Nyonya Cho sedikit terheran.

Donghae menghela nafasnya dalam diam sebelum akhirnya ia membuka laci mejanya dan mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat dari dalamnya.

“Apa ini?” tanya Tuan Kim sambil menatap amplop yang baru saja disodorkan oleh Donghae.

“Apa sesuatu terjadi pada Hye Ra?” ucap Nyonya Kim ketakutan.

“Tidak, Nyonya. Tapi sebelumnya, Kyuhyun, Hye Ra, maafkan aku. Aku berbuat lancang seperti ini. Tetapi ku kira sudah waktunya untuk mereka mengetahui semuanya,”

“Apa ini tentang….” Kyuhyun terbelalak kaget hingga tak mampu melanjutkan menyuarakan jalan pikirannya.

“Tak apa. Memang sudah seharusnya,” tiba-tiba Hye Ra menggenggam tangan Kyuhyun erat untuk meredakan gejolak di dalam diri Kyuhyun.

“Hye Ra…”

“Sudah waktunya. Aku tak mungkin lagi menyimpan semuanya sendiri,”

Kedua orang tua mereka masing-masing hanya bisa saling pandang dengan tatapan bingung mendengar pembicaraan penuh misteri kedua anaknya itu.

“Bolehkah amplop ini kami buka sekarang?” tanya Tuan Cho berinisiatif.

Donghae pun mengangguk. Sedangkan genggaman tangan Hye Ra semakin mengerat pada tangan Kyuhyun. Tak disangkalnya, dirinya juga sangat gemetar. Ia tak tahu bagaimana reaksi kedua orangtuanya ketika mengetahui semua kebenarannya.

Tentang dirinya dan Kyuhyun di masa lalu. Tentang jati diri Hyun Hae sebenarnya.

Suara sobekan kertas amplop pun terdengar, semua terlihat slow motion, terasa begitu lama bagi Kyuhyun dan Hye Ra. Mereka sudah tak mampu lagi menghadapi jika memang kekuatan cinta mereka teruji lagi. Mereka hanya berharap keajaiban tangan Tuhan diatas sana yang tak pernah tidur.

“MWO?! HYUN HAE….”

-oOo-

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

3 Month Later….

I, Cho Kyuhyun, take you, Kim Hye Ra, as my wife and promise to be faithful to you always, in joy and in pain, in health and in sickness, and to love you and every day honour you, for the rest of my life,”

“And I, Kim Hye Ra, take you, Cho Kyuhyun, as my husband and promise to be faithful to you always, in joy and in pain, in health and in sickness, and to love you and every day honour you, for the rest of my life,”

Suara tepukan tangan langsung menggema di setiap sudut ruangan tepat saat kami selesai mengucapkan janji sakral itu. Aku memutar tubuhku sembilan puluh derajat untuk menghadap kearah sesosok pria dengan tuxedo hitam nan elegant yang membalut apik tubuh proposionalnya.

Pria itu juga telah menghadapkan tubuhnya kearahku, sehingga bukan hal yang sulit untuk kami memulai acara saling pandang. Kutatap lekat manik mata berwarna cokelat onyx yang bernaung dibawah kelopak mata elang itu. Menawan. Mata itu mampu membuat hatiku bergetar hebat hingga membuat lututku melemas. Kurasakan dadaku yang bergemuruh, aliran darah yang mengalir deras didalam sana hingga membuat pipi-ku memanas tetapi kedua telapak tangan-ku mendingin. Dan yang terpenting, terselip rasa bahagia yang amat sangat menggebu-gebu sehingga rasanya seperti akan mati sesak.

Kali ini entah untuk berapa kalinya aku terkesiap kaget ketika mendapati pria dihadapanku tengah melangkah mendekat. Mempersempit jarak diantara kami. Aku hanya bisa membulatkan kedua mata ketika kulihat ia mulai merundukkan tubuhnya dan mencondongkan wajahnya ke wajahku. Dapat kurasakan terpaan nafas teraturnya diatas permukaan kulit wajahku. Oke, aku akui nafasku tercekat kali ini.

“Kau cantik,” suara lembut itu sayup-sayup masuk ke dalam indera pendengaranku.

Diam-diam, aku menghela nafas dan menghembuskannya dengan perlahan juga teratur. Tubuhku seketika menegang ketika pria itu menangkup pipiku dengan kedua telapak tangannya. Ia seperti ingin menguasai kendali tubuhku.

Aku hanya mampu mengepalkan telapak tangan kananku dan semakin menggenggam erat bucket bunga Gardenia di tangan kiriku ketika merasakan sebuah benda kenyal berada diatas bibirku. Aku melihat kedua mata pria yang telah berstatus sebagai suamiku itu mulai tertutup rapat seiringan dengan lumatan-lumatan kecil yang dibuat oleh bibirnya atas bibirku. Tak tahu harus melakukan apa, aku hanya mengikuti insting-ku untuk ikut menutup kedua mataku dan berusaha menikmati pergerakan lembut di bibirku meski tanpa sedikit niat untuk membalasnya.

Entah berapa lama kami bertahan dalam posisi seperti ini, tetapi disaat kami menyudahinya, tiba-tiba aku mendadak canggung menatap wajah suamiku sendiri. Aku lebih memilih untuk mengedarkan pandanganku kearah tamu undangan yang tengah duduk diatas kursi panjang di sisi kanan dan kiri altar sambil sesekali tersenyum ramah.

Yeobo, Hyunie telah menunggu kita,” Kyuhyun langsung melipat lengannya membentuk celah tempatku akan menaruh tangan saat nanti aku akan berjalan berdampingan bersama pria itu melewati altar.

Kulihat seorang bocah laki-laki yang ada tepat didepan kami, dialah putra tercinta kami, Cho Hyun Hae. Ia membawa keranjang anyaman bamboo berisikan kelopak-kelopak mawar putih yang akan di tebarkannya sebagai wujud sambutan terhadap kami saat berjalan diatas karpet altar berwarna merah yang membentang sampai pintu kayu nan kokoh di depan sana.

Dibawah kelopak-kelopak mawar putih yang berterbangan karena ditebarkan oleh Hyun Hae, aku dan pria disampingku terus berjalan sambil sesekali tersenyum kepada tamu undangan yang tengah memperhatikan kami dengan tatapan penuh minat. Kami pusat perhatian. Kami raja dan ratu sehari-nya saat ini.

“Hye Ra,” suara itu lagi. Tak kusangkal aku merindukan kelembutan suara itu saat memasukki indera pendengaranku.

Kuhentikan langkahku dan kuedarkan pandanganku ke seluruh sudut ruangan untuk mencari si pemilik suara lembut itu.

“Disini,”

Aku menemukannya. Pria tampan dengan wajah forever young yang tak pernah pudar. Lee Donghae. Pria yang hampir saja menjadi suamiku. Dia tengah melambaikan tangannya sambil tersenyum manis kearahku. Ingin sekali kuhampirinya.

“Baiklah, kita kesana,” ujar Kyuhyun ketika aku menatapnya meminta persetujuan.

Aku berjalan sambil terus mengamit lengan Kyuhyun. Mendekat, terus mendekat kearah Lee Donghae. Oh tunggu, aku tak hanya melihatnya, aku juga melihat sahabatku, Kang Ji Yoon bersama sesosok pria tampan disampingnya. Mereka duduk tepat disamping Donghae.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Kyuhyun pada Donghae.

“Baik. Sekarang apa kau senang karena aku telah mengembalikan Hye Ra padamu?” canda Donghae.

“Hahaha. Benar,”

Oppa,” ujarku canggung.

“Bagaimana? Kau bahagia?” tatapan Donghae berubah menjadi sendu.

“Maafkan aku,”

“Hei, aku tak semenyedihkan yang kau kira, Kim Hye Ra-ssi. Cincin yang kuberikan padamu tempo hari saja sudah tak ada lagi di tanganku. Benda itu telah di kenakan seorang gadis,” ujar Donghae dengan percaya diri.

“Benarkah? Siapa gadis beruntung itu?”

“Kau akan mengetahuinya jika sudah saatnya,”

“Aku tak sabar untuk itu,”

Donghae tersenyum kearahku. Aku benar-benar lega, akhirnya pria baik hati ini telah menemukan gadis yang terbaik untuknya. Akhirnya tak ada lagi alasan untukku mengkhawatirkannya lagi.

“Ehmm. Kalian mengabaikanku?” kulihat Ji Yoon tengah berdehem.

Anniya. Yoon, siapa dia? Apa dia pria yang membuatmu selalu gusar ketika tak mendapat kabarnya?” ujarku sambil menatap pria tampan berjas hitam yang tengah sedikit membungkuk kearahku.

“Hei.. bisa-bisanya kau mengatakannya!”

“Apa dia Goo Jun Hee itu?” kataku sambil terkikik geli.

“YA! Aku tidak se-kanak-kanak-an itu. Awas kau Kim Hye Ra,” ancam Ji Yoon.

Aku tergelak menatap wajah Ji Yoon yang sudah bersemu merah akibat menahan malu atas perkataanku yang secara gamblang membuka rahasianya.

Annyeonghaseo, Goo Jun Hee imnida,” pria yang duduk disebelah Ji Yoon pun berdiri dan memberi salam kepada kami.

Annyeonghaseo Jun Hee-ssi,” kata Kyuhyun menimpali.

“Akhirnya kau bisa melihat pria selain diriku ya, Kang Ji Yoon,” sekarang giliran Kyuhyun yang menggoda Ji Yoon.

“Ya, setidaknya dia tidak sejahat dan se-egois dirimu,”

“Benarkah?!”

“Hei, diam kau!”

“Oh ya, apa kau mengharapkan bucket bunga kami?” aku hanya terkekeh melihat pertengkaran sepasang mantan kekasih ini.

“Cho Kyuhyun!!!”

Kami pun tertawa lepas bersama. Akhirnya semua berakhir indah. Walaupun tak ada jaminan kisah ini akan bahagia sampai akhir, karena ku yakin badai kehidupan masih menunggu kami. Tetapi aku juga yakin, kami akan melewatinya tanpa ada satu pun kata berpisah. Karena kami telah berjanji bahwa akan menghadapinya segala rintangan bersama, hingga kehidupan mendatang, kami tetap bersama.

END

Akhirnyaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…

Setelah FF ini dikerjakan bertahun-tahun, akhirnya nyampe juga ke part ENDING…

Semoga kalian nggak bosen baca part ini, karena ini adalah part yang paling panjang yang pernah aku buat.. *geplak*

Semoga alurnya nggak kecepetan dan nggak protes endingnya yang mungkin nggak sesuai dengan harapan reader-dul.

Apa masih penasaran sama ceweknya Donghae? Atau penasaran sama Jongwoon, Hyun Hae, dan cast lainnya?

Mungkin kalau ada waktu dan ide, bakal buat After Story-nya, tapi belum tahu kapannya.

Aku ngucapin banyak banyak banyak terimakasih buat kalian semua yang masih nungguin tulisan geje ini. Karena kalian aku tetep ngelanjutin story ini.

Jeongmal jeongmal gumawo-yo #deepbow

 Oh ya, yang penasaran sama OC / Ulzzang yang di pakai di FF ini untuk jadi visualisasi cast-nya, bisa CLICK HERE

 

 

Regards,

Nadhz

 

I Can’t Hate You, Cho Kyuhyun! ( It’s Your Baby ) Part 18

new 

Tittle               : I Can’t Hate You, Cho Kyuhyun! ( It’s Your Baby )

Author            : Hilyah Nadhirah / Shin Hye Mi

FB                   : www.facebook.com/hilyah.nadhirah

Twitter           : www.twitter.com/#!/HilyahNadhz

WordPress      : www.nadhzworld.wordpress.com

Genre             : Sad Romance

Rating             : PG-15          

Leight             : Chapter

Main Cast      : Cho Kyuhyun, Kim Hye Ra, Kim Jongwoon

Disclaimer      : Don’t Bash.. Don’t PLAGIARISM..

 

FF I Can’t Hate You, Cho Kyuhyun! ( It’s Your Baby ) Part 1-17 bisa langsung klik di

www.nadhzworld.wordpress.com

~ HAPPY READING!!! ~

 

 

 

“Menikahlah denganku, hidup bahagia denganku dan kita besarkan Hyun Hae bersama,” ulang Donghae.

Hye Ra semakin terdiam. Nafasnya tercekat dan dadanya bergemuruh. Ia tak tahu harus menjawabnya dengan kalimat “Ya” atau “Tidak”. Ia tak mengerti bagaimana perasaannya selama ini terhadap Donghae. Ia tak sempat memikirkan perasaannya pada Donghae.

Tiba-tiba sekelebat bayangan Kyuhyun melintas di benaknya. Entah apa yang membuat ia menjadi memikirkan pria itu lagi. Tanpa kehendaknya ia mulai memikirkan perasaannya pada Kyuhyun. Dan hal itu membuat Hye Ra semakin bingung.

“Jadi… Maukah kau menikah denganku, Kim Hye Ra?”

Hye Ra masih mematung disana. Ia ingin menghilang saat ini juga. Ia tak tahu harus menjawab pertanyaan simple namun membutuhkan jawaban dengan pemikiran penuh itu dengan jawaban apa.

Ia menghela nafas panjang dan Hye Ra pun tersenyum. Tanpa sepatah kata pun yang menyertainya.

Donghae pun berdiri dan tersenyum senang sambil memeluk tubuh Hye Ra erat-erat.

Dan..

Hye Ra masih diam mematung saat Donghae menyematkan cincin indah itu dijari manisnya.

 

~Story Beginning~

 

Ji Yoon menghempaskan tubuhnya di ranjang empuk berwarna putih miliknya. Entah mengapa seminggu kebelakang ini ia selalu merasa seperti ada sebuah beban berat yang bergelayut di tubuhnya. Matanya menerawang jauh ke langit-langit kamar apartement yang sudah ditinggalinya kurang lebih setahun itu. Ia menghela nafas panjang disaat pikirannya melayang dan berputar ke hari dimana Kyuhyun menceritakan semuanya. Tentang perasaannya.

Empat hari yang lalu, Ji Yoon mendengarkan ungkapan perasaan seorang Cho Kyuhyun yang benar-benar dari lubuk hati terdalamnya. Untuk pertama kalinya ia melihat sisi lain Kyuhyun yang selama ini tak pernah terlihat dan terjamah. Kyuhyun ternyata adalah sosok yang rapuh. Hal itu karena seorang wanita. Seorang wanita dan hanya satu-satunya wanita yang bisa memutar balikkan hati pria tampan itu.

Tak disangkalnya masih ada perasaan sakit yang menohok hatinya ketika mendengar perkataan Kyuhyun tentang wanita itu, karena sampai sekarang, hatinya masih membingkai rapi perasaan cintanya pada Kyuhyun.

Kyuhyun menceritakan semuanya. Mulai apa yang terjadi antara dirinya dan wanita itu, betapa menyesal dirinya telah melakukan hal-hal buruk pada wanita itu, bagaimana keadaan wanita itu saat ini, sampai tentang bagaimana wanita itu tega meninggalkan dirinya disaat rasa cinta itu kian tumbuh.

Rasanya seperti akan mati tersengat listrik ribuan volt ketika mendengar Kyuhyun mengungkapkan bahwa ia telah mempunyai seorang putra. Anaknya bersama wanita itu.

Ji Yoon memegangi dadanya yang kian berdegup kencang. Rasa sesak yang dirasanya telah menghasilkan bulir-bulir air mata disudut mata gadis itu. Ia terisak dalam diam sambil memejamkan matanya erat tak membiarkan butiran kristal hangat itu lebih banyak membasahi pipinya.

Drrt.. Drrt..

Ponsel Ji Yoon bergetar membuat gadis itu segera membuka mata dan beringsut turun menuju nakas kayu di sebelah ranjangnya.

“Lee Donghae? Mengapa dia menelpon?” Ji Yoon bermonolog sembari menatap layar ponselnya dengan heran.

Ji Yoon mengangkat bahunya dan lantas menerima panggilan sepupunya itu.

Yeobseo, Hae-yaa. Waegareyo?

“Yoon, aku akan segera menikah,”

Mwo? Menikah?”

Ji Yoon menganga lebar ketika disebrang sana, Donghae mengatakan bahwa dirinya akan segera menikah. Tetapi sebenarnya bukan bagian itu yang membuat mata Ji Yoon juga membelalak ketika itu. Tetapi bagian dimana Donghae mengatakan siapa wanita yang akan dinikahinya. Tepatnya nama wanita itu.

“Ya. Aku akan menikah dengan Hye Ra, Kim Hye Ra. Masih ingat?” ulang Donghae dari seberang sana yang sukses membuyarkan lamunan Ji Yoon.

Jinjjayo?” tanya Ji Yoon lirih tanda masih belum sepenuhnya percaya.

Ne, jinjjayo. Dan kuperingatkan, jangan kau berani-berani menyakitinya lagi. Karena sekarang dia akan menjadi milikku. Kau tak ada urusan lagi dengan dirinya ketika Hye Ra telah menjadi istriku. Jangan sakiti dia lagi dengan alasan Kyuhyun, si ambisi terbesarmu itu,” jelas Donghae panjang lebar dengan nada tegas.

“Apa Hye Ra bersamamu saat ini?” tanya Ji Yoon dengan masih mempertahankan nada lirihnya.

“Ya, dia sekarang tinggal denganku. Wae?

“Kurasa aku perlu minta maaf dengannya. Aku ingin ke Jepang lusa. Bolehkah aku minta alamatmu di Jepang?”

Mwo? Aku tak ingin….”

“Aku bersumpah tak akan menyakitinya lagi. Jebal, Hae-yaa. Kumohon,”

-oOo-

Hye Ra memandangi malaikat kecilnya yang telah tertidur pulas dengan tersenyum penuh rasa kasih sayang sambil menyibakkan rambut yang menutupi mata bocah lelaki itu. Ia mencondongkan wajahnya untuk menggapai pipi Hyun Hae -bocah itu- kemudian dikecupnya.

Tanpa sadar Hye Ra menitikkan air mata. Tak ingin Hyun Hae terbangun karena terkena air matanya, Hye Ra langsung menghapus jejak air mata di pipinya dengan cepat. Ia menegakkan duduknya dan menghela nafas panjang sebelum pada akhirnya ia beringsut turun dari ranjang.

Dengan langkah gontai, Hye Ra berjalan menuju sebuah meja lengkap dengan kursi tepat berhadapan dengan jendela besar dimana ia bisa mengamati bintang-bintang yang bertaburan diatas sana. Ia menarik kursi kayu itu dan menghempaskan diri diatasnya.

Tangannya merogoh-rogoh kedalam sebuah tas yang ia bawa dari Seoul seminggu yang lalu. Tas itu sama sekali belum ia sentuh saat telah berada di Jepang. Entah apa yang dirasanya, tetapi untuk mengeluarkan suatu benda didalam tas itu butuh persiapan mental dan kesiapan diri tersendiri baginya.

Hye Ra menghentikan pergerakan tangannya di dalam tas ketika sebuah kotak telah tersentuh olehnya. Ia memejamkan mata sambil menghela nafas panjang sebelum pada akhirnya mengeluarkan kotak itu.

Sebuah kotak karton polos berwarna coklat yang terlihat sama sekali tak ada istimewa-istimewanya itu telah teronggok dihadapan Hye Ra, menunggu untuk dibuka oleh sang pemilik. Tangan Hye Ra pun akhirnya membuka kotak itu dengan gemetar. Ia tak tahu mengapa jantungnya berpacu dan berdetak semakin kencang.

Didalamnya, terdapat sebuah pigura sederhana yang membingkai indah foto seorang pria yang tengah melingkarkan tangannya di pundak seorang wanita disebelahnya. Mereka terlihat begitu gembira dengan senyum manis yang dipamerkan keduanya. Mungkin bagi siapa saja yang melihatnya, mereka akan berasumsi bahwa mereka adalah sepasang kekasih yang sangat cocok.

Hye Ra menatap lama pigura itu dengan pandangan kosong sebelum pada akhirnya ia menaruh pigura itu kembali. Sekarang, pandangannya beralih pada sebuah buku dengan setumpuk debu yang telah sukses memudarkan warna aslinya. Yaitu sebuah buku yang dulu berwarna coklat tua namun sekarang telah memudar, dilengkapi dengan tali yang melintang vertikal diatasnya. Itulah sebuah buku harian Hye Ra. Sebuah buku harian, tempat dimana semua kebenaran berada, tempat semua kisah tercurah didalamnya.

Masih gemetar, tangan Hye Ra melepas tali vertikal itu agar bisa membuka buku hariannya dan membaca apa yang dulu telah ditulis didalamnya. Matanya pun menelisik setiap deret kalimat yang tertulis di dalamnya, disetiap halamannya.

2009, September 15th

Disaat cherry blossom berguguran, disanalah saat aku menerima perasaan seorang pria yang sejak dulu kucintai. Kyuhyun Oppa, nan jeongmal saranghaeyo! Akhirnya kau mengerti perasaanku.

2008, September 22th

Hari ini adalah hari ulangtahun-ku. Terimakasih hadiahnya, Kyuhyun Oppa. Aku suka sekali, tetapi sebenarnya aku tak perlu hadiah apapun, selama ada dirimu disampingku, aku merasa sangat bersyukur. Kau tahu, kau adalah hadiah terindah dari Tuhan.

2008, November 11th

Aku sebenarnya malu untuk mengatakan ini. Hari ini Pepero Days dan aku… melakukan Pepero Kiss dengan Kyuhyun Oppa. >,,<

2008, November 20th

Aku kenyang sekali! Hari ini, Kyuhyun Oppa mengajakku ke Jeonju untuk Korean Food Tourism Festival disana kami dapat mencicipi semua masakan dan berbagai jenis kue yang selama ini menjadi ikon kuliner Korea. Semua disajikan dengan cara prasmanan, jadi bebas memilih mana yang ingin kami santap.

2008, Desember 24th

Day-100 in realitionship with Kyuhyun Oppa. Nan haengbokke ^^

2008, Desember 31th

Tahun boleh berganti. Tetapi jangan merubah perasaanmu, Oppa.

 

Hye Ra merasakan bulir-bulir airmata telah kembali membasahi pipinya. Ia sebal sendiri, mengapa dia menjadi sosok yang cengeng seperti ini. Hye Ra tak mau melanjutkan membaca semua yang telah ditulisnya dulu. Cukup. Tak perlu dilanjutkannya lagi karena ia tahu bahwa setelah pergantian tahun, kisah yang ditulisnya tak lagi manis.

Ya. Hye Ra telah mengingatnya semua. Tanpa cela, ia telah berhasil mengingat kembali apa yang pernah hilang sebelumnya. Bahkan ia telah mengingatnya kembali ketika masih berada di Seoul, tepat disaat Kyuhyun akan melakukan hal buruk itu lagi padanya. Ia mengingatnya.

“Mengapa begitu susah dan begitu sakit melupakanmu kembali, Kyuhyun… Oppa,

-oOo-

Kyuhyun Family’s Home, Yeonju, Seoul

06.30 A.M

Kyuhyun menguyah sarapannya dengan gerakan lambat dalam suasana yang begitu hening pagi ini. Tatapannya terlihat amat kosong memandang kearah piring porselen berisi nasi dan lauk itu. Dalam sweater rajut yang kebesaran itu terlihat betapa ringkihnya tubuh pria tampan bermarga Cho itu. Cekungan di wajahnya yang semakin jelas, dan juga kantung hitam di bawah matanya, menyaratkan jika Kyuhyun kehilangan bobot tubuhnya secara drastis. Tubuhnya terlihat kering kerontang dan wajahnya semakin terlihat pucat mengerikan.

Hari ini sudah menjadi hari kedua Kyuhyun meninggalkan aktivitas kantor yang biasanya menyibukkan dirinya dan juga pikirannya. Ia menyerahkan tugasnya sementara pada Lee Sungmin, salah satu karyawan kepercayaannya dan juga sahabat baiknya.

Memang pemandangan langka jika Kyuhyun dapat sarapan bersama kedua orangtuanya disaat akhir-akhir ini perusahaan bertajuk “Cho Cooporation” yang dikelola Kyuhyun tengah mendapatkan masa-masa kejayaannya dengan meningkatnya nilai saham mereka. Biasanya kedua orangtua Kyuhyun sangat senang jika anaknya itu sempat sarapan bersama mereka, tetapi berbeda hal dengan hari ini, Tuan dan Nyonya Cho saling berpandangan dan kemudian menatap dengan tatapan iba kearah anak bungsunya.

“Kyu…” panggil Nyonya Cho dengan nada hati-hati.

Ne?” Kyuhyun mengangkat wajahnya menatap kedua orangtuannya dengan mata sayu. Ia juga menjawab panggilan sang ibu dengan suara lirih.

“Kau baik-baik saja?” tanya Nyonya Cho kembali

Kyuhyun menunduk dan menggeleng lemah, “Aku tidak baik-baik saja, Eomma,” ujar Kyuhyun sembari kedua tangannya sibuk memainkan sendok dan garpu.

Kali ini Nyonya Cho sama sekali tak tahu harus mengatakan dan bertanya apalagi pada anaknya itu. Beliau hanya bisa menghela nafas panjang dan ditatapnya Tuan Cho yang duduk disebelahnya.

“Mengapa kau tak menyusulnya?” sekarang giliran Tuan Cho yang bertanya pada Kyuhyun.

Lagi-lagi Kyuhyun menggeleng, “Karena dia sendiri yang menyuruhku menjauh. Aku tak ingin ia semakin jauh lagi jika aku memaksakan kehendak untuk menyusulnya,”

“Kau ini terlalu takut akan hal yang belum tentu terjadi. Setidaknya tunjukkan usahamu. Usaha mendapatkan hatimu kembali,”

Dan Kyuhyun pun termenung meresapi ucapan ayahnya itu. Mungkin yang dikatakan beliau ada benarnya juga.

-oOo-

Incheon Airport

09.00 A.M

Terlihat seorang gadis dengan kacamata hitam yang menggantung indah di batang hidungnya itu tengah duduk di sebuah kursi panjang pada ruang tunggu bandara. Ia memposisikan koper besar berwarna pink itu tepat di sebelahnya. Kang Ji Yoon, gadis itu tengah menunggu jadwal penerbangannya ke Jepang pagi ini.

Tangan kanan Ji Yoon memegang sebuah foto usang yang beberapa waktu lalu telah di jelaskan makna dari benda itu oleh ayahnya sendiri. Memang sudah lewat seminggu ia mengetahui semua kebenarannya, tetapi sampai saat ini Ji Yoon masih terkejut dengan sebuah kisah yang telah di ceritakan padanya itu.

Bagaimana bisa? Hye Ra? Bagaimana bisa?

Dan selang tak berapa lama, terdengar pemberitahuan dari pusat informasi bahwa pesawat tujuan Bandara Narita, Jepang akan segera lepas landas. Ji Yoon pun bangkit, dan menggeret kopernya menuju ruang boarding.

-oOo-

Ji Yoon duduk di kursi pesawat bertaraf executive class itu. Ia melepaskan kacamata yang sedari tadi bertengger menutupi kedua matanya. Disandarkan kepalanya dengan posisi mata yang terkatup rapat. Ia ingin melepas penat sejenak dengan terlelap, berharap seluruh beban yang menggantung di tubuhnya bisa sedikit luruh.

Baru sedetik akan menuju ke alam bunga tidur, Ji Yoon kembali terjaga karena ulah handphone-nya yang bordering. Mata sayu Ji Yoon pun terbuka meskipun terlihat sangat berat menahan kantuk. Dirogoh saku coat coklat yang membungkus tubuhnya dan dikeluarkannya sebuah handphone berwarna putih miliknya.

Simbol pesan pun terpampang di layar ponsel smartphone itu. Segera Ji Yoon menekan simbol bergambar amplop surat itu. Matanya seketika terbelalak lebar. Matanya membulat penuh. Tak terlihat lagi guratan kantuk yang membuat mata indah itu terlihat sayu seperti beberapa detik yang lalu.

From : Jung Rae Mi

It’s showtime, Eonni-yaa.

Kalimat itu memang terlihat dan terbaca biasa saja. Tetapi berbeda dengan Ji Yoon yang mengerti apa makna tersembunyi di dalam kata-kata sandi itu. Hal itu adalah tanda peringatan dan sangat berbahaya. Bukan baginya, tetapi bagi seseorang di luar sana.

Dengan cepat Ji Yoon menutup menu inbox-nya dan langsung beralih pada daftar kontaknya. Tangannya mulai gemetar disaat mencari nomor seseorang yang akan ditujunya.

Lee Donghae.

Pergerakan tangan Ji Yoon berhenti disaat matanya menatap nama lelaki itu dilengkapi dengan nomor telepon dibawahnya. Baru saja Ji Yoon akan menekan tombol panggil berwarna hijau itu untuk membuat panggilan, seorang pramugari datang dan mengatakan dengan sopan, “Maaf, Nona. Dilarang menelpon di pesawat,” kemudian wanita pramugari itu pun berlalu pergi.

Shit,” umpat Ji Yoon kesal.

Ji Yoon pun memutuskan untuk menggunakan kecepatan tinggi dalam pergerakan jari-jarinya dalam mengirim pesan singkat pada Donghae.

Donghae harus membaca pesannya. Harus. Atau taruhannya adalah…..

-oOo-

Donghae menutup map berisi berkas perkembangan kesehatan salah satu pasiennya. Berkas itu adalah berkas terakhir yang harus di periksa sebelum waktu makan siang tiba. Lelaki itu menghela nafas dengan senyuman yang terlihat begitu manis terkembang di bibir tipisnya. Ia memejamkan mata ketika menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi dan menopang kepalanya dengan kedua tangan yang telah terlipat di belakang kepala.

Tetapi beberapa detik kemudian, matanya terbuka kembali, dan posisi duduknya menjadi tegak seperti sebelumnya. Tangan kanannya meraih ponsel yang ada di atas meja kerjanya.

From : Kim Hye Ra

Oppa, aku akan mengantarkan makan siang untukmu. Tetapi karena mobilku berada di bengkel untuk pengecekan, aku harus menggunakan bus. Mian, mungkin aku akan sedikit terlambat.

Donghae tersenyum menatap layar ponselnya yang sudah menampilkan sebuah pesan singkat yang ia terima lima belas menit yang lalu. Pesan singkat dari wanita itu. Kim Hye Ra. Hatinya amat gembira sampai-sampai ia membaca berkali-kali pesan singkat itu, seperti yang dilakukan saat ini. Mungkin ini kali ke tiga sejak lima belas menit lalu ia membaca kembali deretan tulisan di layar ponselnya itu.

Sebenarnya sekarang bukan pertama kalinya Hye Ra mengantarkan makan siang, tetapi sekarang adalah kali pertama Hye Ra mengantar makan siang dengan status sebagai calon istri Donghae. Itulah yang membuat Donghae merasa amat bahagia.

Tak pernah terbayangkan dirinya akan segera menikah dengan Hye Ra. Dari awal ia pesimis dengan perasaannya, mengingat Hye Ra sama sekali tak pernah mengatakan bahwa ia mencintai Donghae. Tetapi segala keraguan itu pun terjawab hanya dengan seulas senyum wanita itu.

Drrt..Drrt..

Ponsel Donghae bergetar kembali, menandakan bahwa sebuah pesan singkat masuk ke dalam ponselnya. Jantung Donghae berdetak kencang karena tengah menerka-nerka apakah Hye Ra yang mengirim pesan itu? Apa isinya? Apa dia sudah sampai?

Dan senyum Donghae pun pudar ketika melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Kang Ji Yoon. Donghae menatap layar ponselnya dengan mengerenyit, seakan tengah berkata ‘Mengapa dia?’

From : Kang Ji Yoon

Hae-yaa, segera hubungi Hye Ra. Pastikan keadaannya. Aku punya firasat buruk dan aku takut ada sesuatu yang terjadi padanya. Kumohon Hae-yaa, percayalah padaku sekali ini saja.

Donghae menerawang jauh ke depan dengan tatapan kosong. Ia tengah berpikir keras. Ia tak ingin gegabah dan akhirnya masuk kedalam jebakan sepupunya itu. Apa dia umpan untuk Ji Yoon menjalankan rencana terbarunya? Ia khawatir karena ia tahu betapa bencinya Ji Yoon pada Hye Ra.

Lewat setengah menit dan akhirnya Donghae memutuskan untuk menghubungi Hye Ra. Seketika firasat buruk pun menyeruak entah mengapa. Hanya terdengar nada sambung yang monoton sebelum akhirnya suara operatorlah yang menjawab dan mengatakan bahwa nomor Hye Ra sedang tidak aktif.

Donghae segera beranjak dari kursi kerjanya dan melepaskan jas dokter yang dikenakannya untuk diganti dengan coat krem yang cukup tebal, ya ini masih Desember dan cuaca masih sangat dingin.

Dengan langkah lebar, Donghae menuju pintu berbahan kayu itu dan memutar knop-nya. Kentara sekali ia sangat buru-buru dari langkahnya yang begitu cepat ketika melewati lorong-lorong rumah sakit. Berkali-kali ia harus memperlambat langkahnya dan tersenyum ramah ketika beberapa perawat menyapanya dan bertanya padanya akan kemana. Tetapi ia tak punya waktu banyak untuk menjawab satu persatu pertanyaan itu.

-oOo-

Donghae melajukan mobilnya perlahan. Kepalanya terus menoleh ke sisi kanan dan sisi kiri badan jalan yang dilaluinya untuk mencari keberadaan Hye Ra yang menurutnya sudah dekat dengan rumah sakit. Ia harus memastikan keadaan Hye Ra baik-baik saja.

Tiba-tiba mata Donghae menyipit dan ia menghentikan laju mobilnya di tepian jalan. Dilihatnya Hye Ra tengah berdiri di seberang jalan bersama beberapa orang lain yang juga akan menyeberang jalan. Donghae pun menghembuskan nafas penuh kelegaan karena dapat melihat Hye Ra dalam keadaan baik-baik saja.

Donghae membuka pintu mobilnya dan keluar bermaksud untuk menghampiri Hye Ra. Tak lupa juga dengan scraf tebal yang dibawanya untuk Hye Ra karena ia amat tahu kebiasaan Hye Ra yang selalu lupa mengenakan dan membawa scraf, seperti saat ini. Ia yakin tubuh Hye Ra tengah menggigil di balik coat hitamnya.

Donghae menenggelamkan kedua tangannya beserta scraf yang digenggamnya kedalam saku coat yang tengah dikenakannya. Ia melangkah diatas aspal yang telah tertutup salju tipis diatasnya. Ia semakin mempercepat langkahnya ketika Hye Ra sudah hendak menyeberang, walaupun resikonya ia harus menghadang angin musim dingin yang selalu siap membekukan tubuhnya sewaktu-waktu itu.

Ia mencapai pinggiran jalan tepat diseberang Hye Ra. Nafasnya terengah-engah mengakibatkan kepulan asap mirip secangkir kopi yang baru saja disajikan itu keluar dari mulutnya. Donghae menormalkan nafasnya dengan menarik nafas dalam-dalam sambil menunduk memegang kedua lututnya. Dan setelah dirasa nafasnya telah kembali normal, ia menegakkan kembali tubuhnya dan bersiap untuk memanggil Hye Ra.

Nama yang akan diucapkannya sudah berada di ujung lidah. Hanya menunggu waktu eksekusinya. Namun sebelum kalimat itu sempat di ucapkan Donghae, tubuhnya merosot terlebih dahulu hingga saat ini posisinya tengah berlutut. Tubuhnya bergetar hebat bukan karena dinginnya angin dan matanya berair bukan karena debu yang menerpa matanya bersamaan dengan angin.

Kejadian itu terjadi dalam sekejap mata. Baru saja dilihatnya Hye Ra yang akan menyeberang jalan dengan wajah yang masih sangat cantik meskipun bibirnya sedikit membiru itu, tetapi sekarang yang dilihatnya malah Hye Ra yang telah terkapar di aspal dengan darah yang mengucur deras di pelipisnya. Ia tak tahu pasti apa yang terjadi, tetapi suara decitan ban mobil, suara benturan yang keras dan kemudian mesin mobil yang memburu dengan cepatnya, ia dapat memastikan bahwa Hye Ra adalah korban tabrak lari.

-oOo-

Tokyo International Hospital, Tokyo

11.00 A.M (Japan’s Time)

Ji Yoon berlari tergopoh-gopoh sambil menggeret koper besarnya saat berada di lorong rumah sakit. Ia baru saja mendarat di Bandara Narita lima belas menit yang lalu dan kemudian dengan terburu-buru langsung menuju Tokyo International Hospital tanpa berniat menaruh kopernya terlebih dahulu di hotel ataupun di rumah sepupunya, Lee Donghae. Hal itu terjadi karena panggilan teleponnya sesaat setelah mendarat pada Donghae hanya diangkat tanpa ada sepatah-kata pun yang terucap dari mulut pria itu.

“Hye Ra… dia kecelakaan,”

Masih melekat di memorinya bagaimana dinginnya suara pria itu. Dingin dan sangat menusuk. Seketika lututnya lemas, hampir saja Ji Yoon terjatuh di bandara jika saja tak berpegangan. Tetapi ia tak mau menyia-nyiakan waktu untuk termenung, segera ia memasuki taxi yang telah berjajar di depan bandara dan menyuruh sang supir untuk cepat membawanya ke rumah sakit bertaraf internasional yang juga tempat sepupunya bekerja itu.

Ia berhenti tepat di depan sebuah pintu berwarna putih. Melalui jendela yang ada di pintu itu, Ji Yoon dapat melihat seorang wanita tengah terbaring lemah diatas ranjang dengan selang infus yang menempel di tubuhnya dan juga kain perban yang melilit kepalanya.

Ji Yoon merasa amat sangat bersalah. Mengapa ia baru menyadari sekarang bahwa Hye Ra pernah menjadi sosok penting bagi dirinya di masa lalu. Sosok yang mampu membuat Ji Yoon kecil tersenyum dan memecahkan bongkahan es di dalam hatinya yang dingin.

Suara pintu berderak seiringan dengan langkah kaki Ji Yoon dan suara koper yang digeret memasuki ruang perawatan itu. Meski suara yang terdengar sayup, tetapi di dalam kondisi ruangan yang sunyi senyap, suara itu tetap saja bisa membuat seorang pria berwajah lesu itu menolehkan kepalanya.

“Donghae,” sapa Ji Yoon pada pria yang baru saja menoleh padanya.

Pria itu bak raga tanpa nyawa. Wajahnya tergambar sama sekali tanpa ekspresi. Hanya mata yang memandang kosong kedepan. Sungguh menakutkan. Apalagi ditambah dengan kemeja putihnya yang telah tercoreng-moreng dengan darah.

Ji Yoon meletakkan kopernya di sudut ruangan sebelum pada akhirnya melangkah mendekat pada pria yang dipanggilnya Donghae. Ia dapat melihat kekosongan pikiran sepupunya itu dari sorot matanya. Sangat kentara bahwa dia amat terpukul dengan kejadian kali ini.

“Apa ini salah satu rencanamu?” tanya Donghae dengan nada dingin.

Ji Yoon terkesiap dengan pertanyaan Donghae. Ia menatap mata pria itu dalam, berharap Donghae akan mengetahui bahwa dirinya sama sekali tak berbohong kali ini.

“Tidak. Bukan aku,”

-oOo-

Ji Yoon menatap tangan putih pucat Hye Ra yang telah tertembus oleh jarum infus dengan mata yang berkaca-kaca. Lama sekali ia memandang tangan itu tanpa sekalipun berniat menyentuhnya. Ji Yoon terlalu takut kalau tangan ‘kotor’-nya akan semakin menyakiti Hye Ra.

Tak mudah Ji Yoon mendapat waktu untuk berdua bersama Hye Ra, karena Donghae tak ingin melepaskan Hye Ra dari bawah pengawasannya. Ia masih belum sepenuhnya percaya pada Ji Yoon bahwa gadis itu telah berubah.

Isakan yang sedari tadi ditahannya dalam-dalam, pada akhirnya pun menyeruak juga. Ji Yoon terisak sambil memulai untuk menggapai tangan lemah Hye Ra. Tangannya gemetar hebat diantara isak tangisnya dan juga rasa amat bersalah yang menguar.

“Maafkan.. maafkan aku.. maafkan aku,” tangis Ji Yoon pun pecah ketika ia dapat menggenggam jemari Hye Ra. Air mata telah merebak dan meluncur bebas ke kedua pipinya.

“Hye Ra, maafkan aku. Sungguh, maafkan aku,” Ji Yoon meletakkan tangan Hye Ra di pipinya. Ia dapat merasa betapa dinginnya tangan itu menembus kulitnya.

“Aku tahu, aku mungkin tak pantas untuk di maafkan. Aku sadar dengan semua perlakuanku padamu. Aku tahu betapa jahatnya aku padamu. Tetapi aku hanya ingin kau tahu, Hye Ra-yaa, aku sungguh menyesal, aku sungguh…” Ji Yoon tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Dadanya terlalu sesak mengingat berbagai kata-kata kasar dan semua perlakuan jahat yang pernah dilakukannya pada wanita yang tengah berbaring diatas ranjang itu.

“Tetapi jika kau memberikanku sekali saja kesempatan untuk memperbaiki semuanya, aku tak akan menyia-nyiakannya. Aku akan membuat semuanya kembali seperti dahulu. Disaat kau bahagia. Aku janji, aku bersumpah akan melakukannya jika kau memberikanku kesempatan. Ku mohon cepatlah sadar, Hye Ra,”

-oOo-

Hyun Hae memasuki ruang perawatan Hye Ra diikuti dengan Donghae di belakangnya. Bocah kecil yang masih berseragam sekolah lengkap dengan tas power ranger di punggungnya itu berlari menuju ranjang dimana Hye Ra terbaring lemas diatasnya.

Eomma,” Hyun Hae mulai mencebik. Dapat dipastikan sebentar lagi ia akan meledakkan tangisannya.

Hyun Hae meraih tangan Hye Ra tanpa peduli bahwa ada seorang wanita yang tengah membersihkan tangan eomma-nya itu dengan air hangat.

Eomma, irreona. Eomma,” sesuai prediksi, tangis Hyun Hae pecah dan menggema di seluruh sudut ruangan sambil menggoyang-goyangkan tangan Hye Ra, berharap wanita itu akan bangun.

Donghae hanya termenung dan menatap iba kearah Hyun Hae. Hatinya serasa diremas begitu kuat ketika melihat Hyun Hae menangis seperti ini. Ia tahu betapa terlukanya Hyun Hae melihat ibunya harus mengalami seperti ini lagi. Sudah kedua kalinya Hye Ra mengalami hal ini dan Donghae mulai menyadari pasti ada unsur kesengajaan dibaliknya.

Matanya beralih menatap seorang gadis yang duduk terdiam di samping ranjang Hye Ra. Tangannya masih menggenggam handuk hangat bekas membersihkan tangan Hye Ra. Dialah Ji Yoon. Tatapannya terlihat amat sangat terluka, tetapi apakah semua itu adalah acting belaka?

Ji Yoon yang tersadar sedang diperhatikan itu pun menoleh kearah Donghae. Dia sama sekali tak mengubah raut wajah kesedihannya. Selama beberapa detik ditatapnya mata Donghae lekat sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menunduk dan beranjak dari kursi yang di dudukinya.

Ji Yoon berjalan melewati Donghae. Ia memilih untuk keluar ruangan, karena tak ingin mengganggu Hyun Hae dengan kehadirannya yang mungkin masih terasa asing bagi bocah itu.

-oOo-

            “Noona siapa?” tanya Hyun Hae disaat ia menemui Ji Yoon yang tengah duduk di kursi tunggu.

Ji Yoon terkesiap melihat bocah setinggi enam puluh sentimeter itu berdiri dihadapannya dengan wajah sembab dan mata merah.

“Nama noona Kang Ji Yoon. Noona sepupu-nya Donghae,”

“Sepupu Appa? Mengapa Hyunie tak pernah melihat noona sebelumnya?”

“Karena noona tidak tinggal di Jepang. Noona tinggal di Seoul,”

“Seoul? Hyunie juga pernah pergi ke Seoul,”

Ji Yoon tersenyum melihat Hyun Hae yang sedang berceloteh. Wajahnya begitu familiar bagi Ji Yoon. Matanya, bibirnya, dan senyumannya, semua mengingatkan Ji Yoon pada Kyuhyun. Ya, tanpa cenayang pun Ji Yoon tahu bahwa bocah lelaki dihadapannya saat ini adalah anak Kyuhyun.

“Mengapa Hyun Hae keluar? Mengapa tidak menemani eomma?” tanya Ji Yoon sambil mencondongkan tubuhnya pada Hyun Hae.

“Hyunie bosan sendirian. Appa sedang ada pasien. Tetapi darimana Noona tahu nama Hyunie?”

“Kau tahu, noona bisa meramal,” canda Ji Yoon.

“Benarkah?” mata Hyun Hae membelalak lebar.

“Mmm,” Ji Yoon mengangguk.

“Bisakah noona memberitahuku sesuatu?” tanya Hyun Hae penuh harap.

“Hyunie ingin noona memberitahukan apa?”

“Bisakah noona memberitahuku kabar seseorang? Tetapi noona pasti tak kenal dengannya. Jadi noona harus menerawang dengan kekuatan noona,”

“Baiklah. Siapa?”

“Kyuhyun samchon. Pria bernama Kyuhyun dan mempunyai marga yang sama denganku. Cho Kyuhyun samchon. Bisakah noona memberitahuku kabarnya?”

Ji Yoon terbelalak kaget mendengar permintaan Hyun Hae. Ia tak menyangka bahwa hubungan bathin mereka benar-benar kuat. Ia termenung di depan Hyun Hae yang tengah menunggu jawaban Ji Yoon.

Noona, apa noona tak bisa menerawangnya? Yah, kalau begitu noona bukan peramal,” sungut Hyun Hae.

“Dia tidak baik-baik saja. Kyuhyun sangat merindukan Hyunie dan juga eomma Hyunie. Kyuhyun sangat ingin kalian kembali ke Seoul. Kyuhyun sangat ingin menikah dengan eomma Hyunie,” jawab Ji Yoon dengan mata yang masih menerawang lurus ke depan. Ia tengah memutar kembali memorinya dimana Kyuhyun mengatakan bahwa saat ini ia hancur karena teramat sangat merindukan Hyun Hae dan Hye Ra.

-oOo-

Sinar matahari pagi telah merebak masuk kedalam ruang perawatan Hye Ra melalui ventilasi dan juga jendela kaca yang ada di dalam ruangan itu. Tubuh Ji Yoon pun menggeliat dari posisi tidurnya yang tak nyaman itu. Ia tidur hanya dengan menopangkan kepala pada tangan yang telah terlipat di pinggiran ranjang.

Ji Yoon membuka kedua mata perlahan untuk menyesuaikan retinanya dengan berkas cahaya yang menyorot terang kedalam ruangan. Ia berdiri dengan sedikit terhuyung dan berjalan menuju kopernya yang ada di sudut ruangan. Memang, Ji Yoon tak berniat untuk pergi meninggalkan Hye Ra. Ia ingin tinggal disisi Hye Ra sampai wanita itu terbangun dan mendengar Ji Yoon menuturkan semua permintaan maafnya.

Ia membuka kopernya dan mengeluarkan handuk beserta baju ganti. Setidaknya, ia harus membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Ji Yoon pun berjalan menuju kamar mandi yang ada di dalam ruangan itu.

-oOo-

            “Hye Ra, kau tahu, seminggu yang lalu aku menemui Kyuhyun. Tidak, aku bukan ingin menjalin hubungan kembali dengannya. Aku ingin menanyakan keberadaanmu padanya, tetapi Kyuhyun malah menceritakan semuanya padaku. Sekarang aku tahu semuanya, Hye Ra. Aku tahu perasaan Kyuhyun padamu. Aku tahu betapa hancurnya Kyuhyun saat ini setelah kau pergi. Aku tahu betapa Kyuhyun mencintaimu. Dan satu hal yang ku yakini sampai saat ini, kau masih mencintai Kyuhyun. Sangat sangat mencintai Kyuhyun. Kau pasti setuju denganku bukan? Tetapi mengapa kau lantas menerima lamaran Donghae?”

Ji Yoon pun mengakhiri kalimat beruntunnya itu dan kini, tangan Ji Yoon dengan telaten memotong rapi seluruh kuku tangan Hye Ra yang mulai panjang. Ia berniat dan berjanji akan merawat Hye Ra dengan telaten, ia ingin membalas setiap kebaikan Hye Ra yang diberikannya di masa lalu.

“Kau harus mengatakan semuanya padaku. Perasaanmu pada Kyuhyun, perasaanmu pada Donghae, dan perasaanmu yang sebenarnya. Kau harus hidup dalam kebahagiaan, Hye Ra. Sejalan dengan hatimu. Kau harus menghargai perasaanmu, jangan menutupi yang sebenarnya hanya karena kau ingin menuruti egomu. Kau harus ceritakan semuanya padaku nanti. Karena itu, cepatlah sadar Hye Ra,” Ji Yoon mengelus lembut permukaan tangan Hye Ra yang ada di dalam genggamannya.

“Hye Ra, kau mendengarku?” Ji Yoon terkesiap ketika merasakan ada pergerakan di jemari-jemari Hye Ra.

-oOo-

Derap langkah yang memburu terdengar jelas memecah keheningan lorong rumah sakit. Mereka terlihat amat kompak, mereka terdiri dari dua orang lelaki berjas hitam elegant diikuti dengan dua pasang suami-istri yang kira-kira berusia lebih dari separuh abad. Raut wajah mereka juga terlihat sama, penuh guratan kecemasan.

Merekalah Cho Kyuhyun, Kim Jongwoon, Tuan dan Nyonya Cho, juga Tuan dan Nyonya Kim. Kedua keluarga yang hampir saja bersatu itu baru saja tiba di Jepang. Mereka, teruma kedua lelaki berjas hitam milik Armani itu rela meninggalkan urusan bisnisnya demi terbang ke Jepang dengan pesawat paling pagi hari ini. Semua karena sebuah panggilan yang baru saja mereka terima kemarin malam. Kang Ji Yoon, dialah yang menelpon dan mengatakan bahwa keadaan Hye Ra sama sekali tak baik. Ia mengatakan semua yang terjadi.

“Hye Ra…” ujar Nyonya Kim sambil membekap mulutnya. Beliau juga hampir saja terjatuh karena terlalu terkejut melihat kondisi anak bungsunya.

Nyonya Kim tak kuat lagi membendung air matanya. Beliau menangis di pelukan Tuan Kim yang terlihat berusaha menenangkan istrinya meskipun dirinya sendiri sangat terpukul melihat anak perempuannya yang begitu menyedihkan.

“Dia wanita yang kuat. Kau tenang saja, dia tak akan menyerah begitu saja,” Tuan Kim mengusap punggung istrinya lembut. Berharap akan sedikit menenangkan wanita yang telah mendampinginya hampir 30 tahun kebelakang itu.

-oOo-

Langit begitu terlihat indah, berhiaskan sinar rembulan yang dibantu dengan kerlipan ribuan bintang diatas sana membuat malam ini terlihat lebih terang daripada malam-malam sebelumnya. Pemandangan ini juga tak disia-siakan oleh seorang pria tampan yang tengah melihat hamparan langit penuh cahaya itu dari jendela sebuah ruangan perawatan rumah sakit.

Cho Kyuhyun –pria itu- tak lama-lama menikmati kerlipan bintang dan cahaya rembulan itu, karena ia kembali memfokuskan pandangannya dan pikirannya pada sesosok wanita yang tengah terbaring dengan selang infus menempel ditubuhnya. Ia menatap lekat wanita dihadapannya itu.

“Hye Ra….” Kyuhyun merasakan lidahnya yang kelu dan tenggorokannya yang tercekat ketika hendak melanjutkan kata-katanya.

“Aku sangat amat merindukanmu. Aku ingin matamu menatapku lagi, meskipun dengan pandangan benci, tak apa asalkan aku dapat menatapmu, berada di dekatmu, dan kau masih berada di dalam radarku,” setelah menormalkan detak jantungnya dengan beberapa kali menghela dan menghembuskan nafas, akhirnya Kyuhyun mampu melanjutkan kalimatnya yang sempat tersendat.

Tangan Kyuhyun menggenggam tangan Hye Ra dengan erat. Diselipkan juga jemarinya dengan jemari lentik Hye Ra, hal itu menyiratkan betapa dirinya tak ingin jauh lagi dari wanita itu.

“Kumohon, cepat bukalah matamu. Untukmu, untuk Hyunie, untuk masa depanmu, dan aku berharap meskipun mungkin mustahil… untukku,”

-oOo-

Seorang gadis berparas cantik sedari tadi terdiam kaku di depan pintu ruangan perawatan Hye Ra. Matanya menatap nanar punggung pria yang tengah duduk membelakanginya yang dapat dilihatnya melalui jendela pintu. Entah apa yang membuat dadanya begitu sesak diiringi dengan detakan yang kian tak menentu. Ia merasa sedang berada di ruang hampa, tanpa oksigen, tanpa sesuatu yang bisa membuatnya bernafas lega lagi.

“Ji Yoon, apa yang kau rasakan? Perasaan lancang apa ini?!” ujarnya lirih. Gadis itu berbalik dan bersandar pada dinding di sebelah pintu sambil memukul-mukul dadanya sendiri.

Tubuhnya merusut seiringan dengan air mata yang merebak dari kedua matanya. Ia meringkuk dengan membenamkan kepalanya dalam diantara kedua lututnya. Ji Yoon terlihat sangat menyedihkan saat ini. Hatinya amat rapuh, sesuatu hal yang tak pernah terlihat dan berusaha untuk ditunjukkannya kepada siapapun.

“Mengapa masih sesakit ini? Mengapa sesesak ini?”

3 tahun lamanya ia tak terikat suatu apapun dengan Cho Kyuhyun. 3 tahun lamanya ia tak pernah bicara dengannya. Tetapi 3 tahun lamanya ia selalu memperhatikan pria itu dari kejauhan dengan secuil harapan pria itu dapat kembali padanya. Meski dengan sederet cara keji yang disusunnya untuk menyingkirkan Hye Ra setelah ia tahu bahwa wanita itu ternyata adalah sosok yang mulai dicintai Kyuhyun dengan segenap rasa penyesalannya.

Masih ingatkah kalian dengan Jung Rae Mi? Gadis yang bersikap manis dan mulai dekat dengan Donghae?

Apakah kalian percaya bahwa gadis manis itu adalah sekongkol Ji Yoon?

Dia adalah sang penjalan misi yang disusun Ji Yoon bersama dengannya.

Masih ingatkah kecelakaan pertama Hye Ra tepat didepan sekolah Hyun Hae?

Dialah salah satu dalangnya dan juga pelakunya.

Bukan tanpa alasan Rae Mi memilih bergabung dengan misi pembalasan dendam Ji Yoon. Ya, alasannya klise, Rae Mi mencintai Donghae sejak semester pertama. Dan ia begitu kesal begitu melihat Donghae bersama dengan seorang wanita. Dialah Kim Hye Ra.

Dan sekarang, ketika ia telah mengetahui semua kebenarannya, masa lalunya, peran Hye Ra didalam hidupnya dulu, pantaskah jika Ji Yoon masih mengharapkan Kyuhyun kembali padanya disaat pria itu sangat mencintai Hye Ra?

TBC

 

I Can’t Hate You, Cho Kyuhyun! ( It’s Your Baby ) Part 17

 new

Tittle               : I Can’t Hate You, Cho Kyuhyun! ( It’s Your Baby )

Author            : Hilyah Nadhirah / Shin Hye Mi

FB                   : www.facebook.com/hilyah.nadhirah

Twitter           : www.twitter.com/#!/HilyahNadhz

WordPress      : www.nadhzworld.wordpress.com

Genre             : Sad Romance

Rating             : PG-15          

Leight             : Chapter

Main Cast      : Cho Kyuhyun, Kim Hye Ra, Kim Jongwoon

Disclaimer      : Don’t Bash.. Don’t PLAGIARISM..

 

FF I Can’t Hate You, Cho Kyuhyun! ( It’s Your Baby ) Part 1-16 bisa langsung klik di

www.nadhzworld.wordpress.com

~ HAPPY READING!!! ~

Kyuhyun terus saja mendesak Hye Ra, lumatan bibirnya semakin liar. Hye Ra hanya bisa meneteskan air matanya sambil terisak diam mendapati perilaku Kyuhyun yang berubah dari sikapnya kemarin malam.

Tangan Kyuhyun bergerak keatas dan membuka paksa cardigan hitam yang dikenakan Hye Ra tanpa melepaskan tautan bibirnya. Hal itu semakin membuat Hye Ra ketakutan dan air matanya semakin deras. Ia memukul mukul dada bidang Kyuhyun  dengan kedua tangannya tetapi hal itu sama sekali tak membuahkan hasil, malah Kyuhyun merebahkan tubuh Hye Ra diatas ranjang putih yang cukup besar itu.

Hye Ra berteriak di dalam bibirnya yang masih tersumpal oleh bibir tebal Kyuhyun. Tangannya terus memukul dada Kyuhyun dengan keras sampai pada akhirnya Kyuhyun membuka kedua matanya.

Ditatapnya lekat lekat wajah yang memerah dengan air mata yang mengalir deras dari kedua sudut mata Hye Ra. Terbesit sebuah rasa bersalah yang amat dalam dari pandangan Kyuhyun. Ia tak tahan menatap wajah tersiksa itu lagi, ia pun memutuskan untuk menyudahi menuruti bisikan setan itu.

Hye Ra menangis tersedu sedu sambil membangkitkan tubuhnya dari ranjang. Ia duduk di tepian ranjang sambil kedua tangan yang menutupi wajahnya. Kyuhyun hanya bisa melangkah mundur dengan air mata yang tak disadari telah muncul dari sudut matanya.

Sepintas ia merasa amat takut. Apakah hal ini akan membuat Hye Ra semakin benci padanya bukannya malah mengingatnya?

~Story Beginning~

Langit malam yang gelap, tak ada bintang bertaburan di atas sana, hanya rintikan hujan yang semakin lama semakin deras yang terlihat dan terasa. Tetapi dinginnya malam ini tak membuat seorang wanita yang tengah duduk meringkuk di balkonnya berniat untuk beranjak memasuki kamar yang pasti lebih hangat.

Kim Hye Ra, wanita itu tengah duduk memeluk kaki jenjangnya untuk sedikit memberi kehangatan disela-sela udara malam yang terus menusuk kulit. Matanya menerawang jauh ke langit yang tak seindah langit-langit kemarin. Cuaca seperti mengerti dan berpadu dengan perasaan yang tengah dirasakan Hye Ra di dalam hatinya. Kelam. Sehingga bumi pun menangis seperti hal-nya Hye Ra yang sedari tadi tak mampu menghentikan laju air mata bak larva dari pelupuk matanya.

Semakin lama, aliran tetes-tetes hangat itu semakin mudah meluncur melewati dan membasahi pipi tirusnya. Dadanya sesak, namun ia tak mampu menjelaskan apa yang tengah dirasanya. Memorinya terus saja berputar kebelakang dimana tempo hari, seorang pria bernama Cho Kyuhyun hampir saja melakukan hal yang benar-benar membuatnya ketakutan setengah mati.

“Hye Ra, kau bisa sakit jika terus berada di luar,” suara berat khas pria terdengar dari belakang tubuh Hye Ra, membuat wanita itu cepat-cepat menghapus jejak air matanya dan menoleh kebelakang.

Anni, Anniyo, Oppa. Aku masih ingin menikmati malam yang indah ini,” ujar Hye Ra sambil memaksakan senyum.

Kim Jongwoon, pria itu menatap hamparan langit luas diatas sana yang masih saja merintikkan air hujan yang bahkan begitu deras. Tak ada sama sekali keindahan yang terlihat. Ia tahu adiknya tengah mencoba menutupi perasaannya.

“Apa Kyuhyun melakukan sesuatu yang buruk padamu?” Jongwoon menyampirkan mantel rajut tebal ke kedua bahu Hye Ra, kemudian berjalan memutar dan duduk dihadapan adik perempuannya itu.

Anni,” ujar Hye Ra masih mempertahankan senyuman palsunya.

Jongwoon menatap Hye Ra dengan tatapan iba. Ia tahu ada sesuatu yang membuat Hye Ra murung, menangis, dan bahkan kembali ke rumah, tetapi bukan rumah Kyuhyun.

Oppa, apa eomma dan appa sudah datang?” tanya Hye Ra dengan suara sedikit parau yang tak bisa disembunyikannya.

Jongwoon melirik arloji yang dikenakannya kemudian menjawab, “Mungkin sebentar lagi mereka datang,”

-oOo-

Hanya dentingan sendok dan garpu saling beradu saja yang menghiasi suasana makan malam keluarga Kim kali ini. Tak ada obrolan ringan, ataupun candaan seperti biasanya. Tuan dan Nyonya Kim terlalu sibuk memperhatikan ekspresi wajah anak bungsunya yang terlihat begitu murung. Sedangkan Jongwoon, ia hanya mencoba memfokuskan pandangannya pada makanan dihadapannya meskipun pikirannya selalu memikirkan adiknya.

“Hye Ra, ada apa? Mengapa wajahmu lesu sekali? Apa kau sakit, sayang?” tanya Nyonya Kim ketika makan malam telah usai. Beliau menempelkan telapak tangannya di pipi Hye Ra.

Hye Ra hanya menggeleng lemas sambil tersenyum. Ia meraih tangan ibunya dari pipinya dan kemudian digenggamnya erat.

Appa, eomma, oppa, malam ini ada yang harus kubicarakan dengan kalian,”

Hye Ra menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya.

“Kurasa, aku belum siap untuk menikah. Aku dan Hyunie akan kembali ke Jepang besok pagi,”

“Hye Ra…” terdengar suara Tuan Kim yang sedikit terkejut dan kecewa dengan keputusan anaknya itu.

Mianhae, appa. Tetapi keputusanku sudah matang dan bulat. Aku belum siap menikah dengan Kyuhyun-ssi,”

“Tetapi mengapa harus kembali ke Jepang, Ra-yaa? Kau tahu eomma sangat merindukanmu,” kali ini giliran Nyonya Kim yang mengutarakan kekecewaannya.

Mianhae. Jeongmal mianhae. Untuk saat ini aku memang ingin menenangkan diriku di Jepang,”

“Apa Kyuhyun melakukan sesuatu yang buruk padamu?”

Hye Ra diam sesaat sampai akhirnya tersenyum dan menggelengkan kepala.

“Besok aku akan menjemput Hyunie dan langsung pergi ke bandara,”

-oOo-

Kyuhyun tersentak kaget ketika mendapati wajah wanita yang dicintainya itu disaat ia membuka pintu utama rumahnya. Setelah hampir dua hari tak menatap wajah cantik itu, akhirnya saat ini ia dapat melihatnya kembali.

“Hye Ra,”

“Kyuhyun-ssi, apa Hyunie sudah bangun?”

“Dia sedang sarapan bersama aboji dan eommonim,”

“Bolehkah aku menemuinya?”

Kyuhyun melebarkan jarak pintu yang telah dibukanya, mempersilahkan dan membiarkan Hye Ra masuk. Ia berjalan tepat di belakang tubuh Hye Ra. Melihat punggung wanita itu saja membuat dadanya bergemuruh. Ia ingin memeluk erat tubuh itu, mencurahkan seluruh kerinduannya, seluruh cinta yang dipendamnya, dan seluruh permintaan maaf-nya. Tetapi ia urungkan niatan itu, ia tak ingin Hye Ra semakin menjauh darinya yang mungkin akan berakhir dengan menghilang darinya. Ia tak mau.

            Eomma!” Hyun Hae berseru kegirangan ketika mendapati eomma yang selama dua hari ini tak dilihatnya akhirnya datang.

Aigoo, Hyunie, jeongmal bogoshipeoso,” Hye Ra menggendong tubuh Hyun Hae dan menghadiahinya kecupan singkat di kedua belah pipi gembilnya sebelum kemudian diturunkan kembali tubuh anaknya itu.

Eomma, aku mau mengambil sesuatu dikamar dulu,”

Ne, chagi,” Hye Ra tersenyum melihat langkah riang anak lelakinya itu.

“Hye Ra, dua hari ini kau kemana saja? Aboji dan eommonim merindukanmu,” Nyonya Cho memeluk singkat tubuh Hye Ra.

“Aku hanya mengunjungi appa dan eomma, eommonim,” Hye Ra tersenyum.

“Baiklah. Ahh bagaimana kalau kalian segera bersiap-siap. Aku ingin kalian memilih-milih cincin pernikahan,” ujar Nyonya Cho sambil menepuk pundak Kyuhyun masih berdiri mematung disampingku.

Aboji, eommonim, ada yang ingin kukatakan pada kalian. Bolehkah?”

“Apa itu, sayang?” ujar Nyonya Cho sambil membelai lembut anak rambut Hye Ra.

“Aku rasa aku belum siap menikah. Jeongmal mianhamnida, aboji, eommonim… Kyuhyun-ssi,” Hye Ra membungkuk berkali-kali kearah keluarga Cho.

“Tetapi, mengapa,  Hye Ra?” Tuan Cho sama sekali tak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya.

“Ada beberapa hal yang masih kupertimbangkan mengenai pernikahan. Maafkan aku. Aku tahu ini salah. Maafkan aku,” ujar Hye Ra penuh penyesalan.

“Apa Kyuhyun melakukan hal yang buruk padamu, Hye Ra?” lagi-lagi pertanyaan ini, ingin rasanya ia mengangguk. Tetapi tak mungkin.

Hye Ra melirik Kyuhyun yang tengah memasang wajah tak percaya itu sekilas. Wajah itu, mungkin nanti akan dirindukannya.

Annimida, eommonim,” Hye Ra semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Nyonya Cho.

“Ini murni keputusanku. Sekali lagi maafkan aku. Maafkan atas sikapku ini,”

Tubuh Hye Ra terhuyung ketika pergelangan tangannya mendapatkan tarikan dari pria tegap yang sedari tadi hanya diam disampingnya. Kyuhyun menariknya menuju halaman belakang tanpa mengatakan sepatah kata pun.

“Lantas apa yang saat ini akan kau lakukan, Hye Ra?” saat telah berada di halaman belakang dan telah dalam posisi saling berhadapan, Kyuhyun akhirnya buka suara. Terlihat jelas raut wajah terluka di paras tampannya itu.

“Aku dan Hyunie akan kembali ke Jepang,”

“Kapan?”

“Setengah jam lagi pesawatku lepas landas,”

Kyuhyun menatap Hye Ra tak percaya. Ia menatap lekat wajah dan manik mata Hye Ra. Tak diperdulikannya Hye Ra yang selalu menghindar ketika akan menatapnya, ia tak gentar menatap wajah itu, wajah yang amat dirindukannya itu.

“Mengapa? Mengapa kau kembali? Apa karena pria itu? Kau mencintainya, Hye Ra?” Kyuhyun meraih pergelangan tangan Hye Ra lagi dan menggenggamnya sebagai symbol meminta penjelasan.

“Tak ada urusannya denganmu, Kyuhyun-ssi,” Hye Ra menghempaskan tangan Kyuhyun.

“Jika ini perkara beberapa hari yang lalu, aku sungguh minta maaf. Aku tak bermaksud…”

“Kurasa aku harus segera menyiapkan barang-barang Hyunie. Aku permisi,” Hye Ra tak ingin mendengar kalimat lanjutan yang dilontarkan Kyuhyun. Ia lebih memilih berbalik dan berjalan memasuki rumah.

Kyuhyun mengacak rambutnya frustasi, ia juga berteriak kesal sampai-sampai nafasnya terengah-engah. Bulir-bulir air mata mulai merebak dari pelupuknya. Ia tak menyangka tindakannya akan berakibat sejauh ini.

Sedangkan Hye Ra terus meng-konstan-kan langkahnya. Sama sekali ia tak membiarkan tubuhnya berbalik dan berlari kearah pria dibelakangnya yang tengah meraung-raungkan namanya. Ia tak bisa lagi bersikap lemah, dengan sekuat tenaga dikepalkan telapak tangannya untuk meredam kegoyahan hatinya.

-oOo-

            “Shireo! Hyunie masih ingin di Seoul,” ujar Hyun Hae saat mendengarkan penjelasan Hye Ra bahwa mereka akan kembali ke Jepang pagi ini.

“Hyunie…” Hye Ra berjongkok mensejajarkan tingginya dan anaknya. Di usapnya lembut rambut hitam lebat Hyun Hae.

Eomma, nan shireoyo!” Hyun Hae mulai merengek.

“Hyunie, tolong dengarkan eomma. Sekali ini saja,”

Eomma, nan shireoyo! Hyunie masih ingin bermain dengan Kyuhyun samchon,”

“Hyunie, kajja.. pesawat kita akan berangkat sebentar lagi,” Hye Ra menggendong tubuh mungil anaknya.

“Hwaaaa…. Nan shireoyo, Eomma. Nan shireoyo!” tangis Hyun Hae akhirnya meledak. Ia meronta-ronta ingin turun dari gendongan ibunya.

Eomma mohon, Hyunie. Eomma mohon padamu,”

Shireoyo! Nan shireoyo,” Hyun Hae terus meronta-ronta-kan tubuhnya. Sebenarnya Hye Ra tak tega melihat anaknya menangis tersedu-sedu begitu, tetapi memang tak ada cara lain untuk membawanya pergi kecuali memaksanya.

“Biarkan aku menggendongnya. Sekali saja,” Kyuhyun maju dan mendekat kearah Hye Ra, kemudian diambil alihnya Hyun Hae dari gendongan Hye Ra.

Hyun Hae mengalungkan tangannya begitu erat dileher Kyuhyun. Di tenggelamkan kepalanya diantara leher dan bahu pria tampan itu. Sedangkan Kyuhyun, ia memejamkan kedua matanya dan menangis pilu didalam hatinya sambil mengusap-usap punggung Hyun Hae yang bergetar hebat itu.

Samchon menyayangi Hyunie,” bisik Kyuhyun pada Hyun Hae yang masih menenggelamkan wajahnya di pundak Kyuhyun.

Pengumuman bahwa pesawat yang akan membawa Hye Ra dan Hyunie kembali ke Jepang itu akan segera berangkat pun terdengar. Tetapi Kyuhyun semakin mengeratkan pelukannya pada Hyun Hae. Ia tak ingin kehilangan anakny.

“Kyuhyun-ssi, aku dan Hyunie harus berangkat sekarang. Bisakah kau kembalikan Hyunie padaku?” Hye Ra merentangkan kedua tangannya untuk menerima tubuh Hyun Hae.

Kyuhyun membuka kedua matanya. Ditatapnya Hye Ra yang ada dihadapannya itu dengan lekat, ia tak ingin ada secuil memori pun hilang tentang wanita cantik itu. Ia berusaha memenuhi otaknya dengan bayangan wajah Hye Ra.

“Kumohon,”

Kyuhyun pun dengan pasrah menyerahkan kembali anaknya pada Hye Ra. Ia melihat Hyun Hae yang masih tersedu-sedu menatapnya.

“Aku akan berangkat sekarang, sampai jumpa,” Hye Ra mengucapkan salam pada semua orang yang datang untuk mengantarkannya. Jongwoon, Kyuhyun, Tuan dan Nyonya Kim juga Cho.

“Jaga dirimu baik-baik disana, Hye Ra-yaa,” Jongwoon memberi pelukan singkat pada adiknya.

“Hiduplah dengan baik,”

Hye Ra hanya mengangguk mendengar setiap wejangan yang diucapkan padanya. Ia hendak menggeret kopernya menuju ruang boarding. Bebannya sedikit bertambah berat karena menggendong Hyunie apalagi bocah kecil itu masih meronta-ronta minta turun meskipun tak sehebat tadi sambil menjangkau jangkau udara dengan tangan mungilnya.

Appa..” lirihnya sambil tangan yang menggapai-gapai kearah Kyuhyun.

Kyuhyun tersentak kaget, begitu pun Hye Ra yang sampai-sampai menghentikan langkahnya. Ia membalikkan tubuhnya sembilan puluh derajat dan kemudian menatap Kyuhyun beberapa detik dengan pandangan yang sulit diartikan. Hye Ra pun menghela nafas panjang sebelum akhirnya kembali berbalik dan melangkahkan kakinya yang sempat tertunda.

-oOo-

Narita Airport, Tokyo, Japan

09.00 A.M (Japan’s Time)

Hye Ra melewati pintu kedatangan internasional dengan tangan kanan yang sibuk menggeret koper sedangkan tangan kirinya menopang tubuh Hyun Hae yang tertidur pulas dalam gendongannya. Sepertinya anak itu terlalu lelah setelah menangis.

Mata Hye Ra mengedar liar mencari seseorang dengan papan bertuliskan namanya. Ia telah menghubungi seseorang tentang kedatangannya kembali di Jepang dan orang itu dengan nada bahagianya mengatakan bersedia untuk menjemput Hye Ra di bandara pagi ini.

“Hye Ra..” suara yang sudah tak asing lagi ditelinganya pun terdengar. Hye Ra menyisir setiap barisan orang di depannya dengan pandangan elang.

Oppa,” Hye Ra tersenyum setelah berhasil mendapati sesosok pria yang tengah berdiri dengan senyum lebar dibibirnya.

Lee Donghae, pria yang telah kembali ke Jepang kemarin lusa itu sedari tadi menunggu dengan sabar kedatangan Hye Ra. Tak dipungkiri bukan lagi secuil kebahagiaan di hatinya, tetapi rasa bahagia itu telah memenuhi setiap rongga dadanya. Ia bahagia akhirnya Hye Ra telah kembali. Kembali padanya. Dalam genggaman dan jangkauannya.

Masih diingatnya dengan baik betapa dirinya ingin melompat-lompat kegirangan di cafeteria rumah sakit ketika pada waktu makan siangnya kemarin, Hye Ra menelpon dan mengatakan bahwa ia akan kembali ke Jepang.

“Kau kembali, Ra-yaa, aku merindukanmu,” Donghae memeluk tubuh Hye Ra yang ada dihadapannya. Sebenarnya ia ingin mengeratkan rengkuhan tubuhnya jika tak mengingat bahwa ada tubuh mungil yang tengah berada dalam gendongan Hye Ra.

“Dia tertidur? Tak biasanya. Dia kan selalu antusias ketika berpergian,” Donghae mengelus pipi Hyun Hae dengan lembut, tak ingin membangunkan bocah lelaki itu.

“Sepertinya dia terlalu lelah,” ujar Hye Ra sambil membenahi rambut Hyun Hae yang jatuh menutupi matanya.

“Oh. Baiklah, kajja, kau juga lelah bukan?” Donghae mengambil alih koper Hye Ra beserta tas yang terikat di gagangnya itu kemudian menggeretnya menuju halaman parkir.

Dibelakang tubuh Donghae, berdiri Hye Ra yang berjalan mengikuti langkah pria itu. Tangannya mendekap tubuh mungil Hyun Hae yang masih terlelap. Ia merasa amat bersalah pada anaknya itu. Sejenak ia merasa amat sangat egois.

-oOo-

Donghae’s House, Bunkyo, Tokyo

09.30 A.M (Japan’s Time)

“Bagaimana kau bisa kembali? Bukankah kau….”

“Aku akan menikah? Dengan Kyuhyun?”

Donghae mengangguk menanggapi ucapan Hye Ra yang tengah duduk dihadapannya.

“Aku membatalkannya. Aku belum siap untuk menikah dengannya,”

“Kau tak mencintainya,kan?”

Hye Ra terdiam, ia tak tahu harus mengatakan apa kepada Donghae karena ia pun tak mengerti perasaannya kepada Kyuhyun. Lama Hye Ra menatap mata Donghae, ia mengetahui bahwa pria dihadapannya ini sedang berharap dirinya menjawab “Tidak”. Ia mengetahui bahwa Donghae amat mencintainya.

“Bagaimana pekerjaanmu akhir-akhir ini?” Hye Ra tersenyum dan mengalihkan pembicaraan.

“Baik-baik saja. Aku juga berhasil melakukan operasi besar untuk pertama kalinya kemarin. Kurasa itu karenamu,”

“Karenaku?”

“Jika saja kau tak menelpon dan mengatakan bahwa akan kembali, pikiranku pasti tak tenang dan juga tak bisa berkonsentrasi,”

“Lain kali jangan seperti itu, Oppa. Kau harus selalu berkonsentrasi karena hal itu mempertaruhkan nyawa seseorang,”

“Baiklah, baiklah,”

Hye Ra terdiam kembali, pikirannya berkemuluk di dalam sana memikirkan hal-hal yang memenuhi kepalanya.

“Sepertinya Hyunie benar-benar lelah. Ia juga tak bangun saat berada di mobil,”

“Mmm. Ne. Dia kelelahan,”

-oOo-

Kang Family’s House, Gangnam-gu, Seoul

“Dia adalah sahabatmu, Yoon-ah,” pria paruh baya itu berbalik dibantu dengan tongkat kayu yang menopang tubuh rapuhnya.

“Sahabatku? Kurasa aku tak mengenalnya,” dahi gadis yang tengah duduk di sofa itu berkerut mendengar ucapan pria renta yang berstatus sebagai ayahnya.

“Kau mengenalnya tetapi kau mungkin melupakannya. Itu sudah lama sekali,” Pria berjuluk Tuan Kang itu akhirnya memutuskan untuk mendudukkan tubuhnya diatas sofa persis dihadapan anak semata wayangnya.

“Siapa dia, Appa?”

“Namanya adalah Hye Ra. Kim Hye Ra,” dengan mata yang menerawang ke langit langit ruangan mewah itu, Tuan Kang menyebutkan sebuah nama yang telah lama tak pernah di ucapkannya.

“Kim.. Kim Hye Ra?” mendadak Ji Yoon –gadis itu- tergagap dan terbelalak mendengar nama yang tak asing lagi di telinganya itu keluar dari bibir ayahnya.

“Mungkin sudah saatnya aku mengatakan hal ini, Yoon-ah,” Tuan Kang menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kata katanya.

“Dulu kami, aku dan ibumu berniat untuk membuangmu. Dulu kami tak mengharapkanmu.”

DEG

Nafas Ji Yoon seketika tercekat, dadanya tertohok hingga begitu terasa perih. Kenyataan yang di hadapinya memang begitu menyakitkan. Walau sekedar mendengar. Hatinya sakit.

“Maafkan kami, Yoon,” tersirat nada penyesalan amat mendalam dari suara Tuan Kang.

Ji Yoon tak menjawab, melainkan hanya menatap lekat wajah lelaki yang mulai renta dihadapannya dengan tatapan menuntut sebuah penjelasan.

“Kau dulu adalah gadis buta. Kau terlahir buta,”

Bertambah satu lagi kenyataan menyakitkan yang didengar gadis dengan balutan kemeja kerja hitam itu. Ia tak tahu apa yang tengah dirasakannya, tetapi yang pasti buliran air mata telah siap luruh dari pelupuk matanya.

“Aku tahu, kami tahu, bahwa kami terlalu picik, terlalu kejam telah berniat seperti itu,” tak disangka setetes air mata telah meluncur sesuai dengan hukum gravitasi dari pelupuk mata pria paruh baya itu. Bahkan airmatanya lebih cepat jatuh daripada airmata anak gadisnya.

“Tetapi mengapa kalian mengurungkannya? Membuangku?” setelah lama terdiam karena tak tahu apa yang ingin diutarakan, akhirnya Ji Yoon angkat bicara walau dengan suara lirih.

“Gadis itu, gadis itu yang telah menyadarkan kami,”

“Kim Hye Ra?” tanya Ji Yoon.

“Ya. Gadis itu adalah satu satunya anak yang mau bermain denganmu. Setiap hari, sepulang dari sekolah, Hye Ra selalu berkunjung ke rumah dan mencoba mengajakmu bermain. Meskipun sifatmu yang selalu diam dan tak pernah memperdulikan, gadis itu terus saja tak jenuh mengajak dan menunggumu sampai kau ingin bermain,”

Pikiran Ji Yoon melayang entah kemana dan ia merasa memorinya tengah tersedot untuk memasuki dimensi waktu belasan tahun lalu. Dimana masa kecilnya yang sepi dan gelap itu berada.

Ia seperti tengah melihat dua orang gadis kecil tengah bermain di taman halaman belakang kediamannya. Salah seorang gadis tengah tersenyum riang dengan tangannya yang tak pernah lepas menggenggam tangan gadis kecil yang ada dibelakangnya. Mereka tertawa bersama, bermain bersama dan melakukan segala hal bersama.

“Kau mulai menerima sosok teman di dalam kehidupanmu. Kau selalu menunggu ditaman belakang setiap siang untuk bermain bersama seperti hari hari sebelumnya,”

Ji Yoon memejamkan matanya, membiarkan airmata mengalir membasahi kedua belah pipinya dengan deras. Ia tak habis pikir bahwa Hye Ra, wanita yang selama ini dibencinya mati matian adalah sosok sahabat yang selalu dinanti Ji Yoon kecil dan menemani setiap hari harinya di masa lalu.

“ ‘Ajjushi, Ajjhuma. Ji Yoon adalah anak yang baik. Tetapi mengapa kalian selalu bersikap acuh padanya? Dia merasa sangat sedih karena it,.’ Dulu, Hye Ra mengatakan hal itu pada kami. Ia selalu mengatakan bagaimana perasaanmu dan bagaimana suasana hatimu setiap hari. Awalnya kami mengacuhkannya, tetapi semakin lama mendengarkan setiap ucapannya, kami perlahan lahan menyadarinya bahwa segala pemikiran kami sebelumnya padamu benar benar hal yang buruk. Kami merasa bersalah telah membuatmu merasa sedih, tertekan dan tak nyaman,”

“Sampai pada akhirnya kau berpisah dengannya disaat kami memutuskan untuk membawamu ke Inggris untuk menjalani operasi mata dan menetap disana selama 6 tahun. Aku masih ingat betapa dirimu berubah menjadi dingin, tak banyak bicara dan juga tersenyum setelah berada di Inggris,” lanjut Tuan Kang sambil menatap lekat wajah anaknya yang sudah di banjiri air mata itu.

Ji Yoon benar benar bingung, rasa bersalah yang begitu besar bagai menimpa tubuhnya. Ingatannya berputar seperti roll film dimana ia mengingat kembali bagaimana ia bersikap jahat dan kejam pada Hye Ra. Ia juga merutuki dirinya sendiri yang tak bisa mengingat dan mengenali kembali sahabat masa kecilnya itu. Harus bagaimana saat ini? Itulah yang saat ini berputar putar di dalam kepala Ji Yoon.

“Kau tahu, Appa sangat ingin bertemu dengannya saat ini,”

-oOo-

3 Month Later….

Kyuhyun menyesap kopi panasnya sambil mata yang terus menatap dengan tatapan kosong pemandangan Kota Seoul yang tetap padat walaupun waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam. Dari ruang kerjanya yang berada di lantai sepuluh gedung pencakar langit ini, hanya terlihat kerlipan lampu-lampu jalanan, lampu kendaraan, ataupun lampu bangunan bangunan yang berdiri dibawah sana.

Mati rasa. Ia tak bisa merasakan apapun saat ini. Bahkan secangkir kopi yang masih terlihat kepulan asap diatasnya itu tetap disesapnya. Ia tak peduli dan tak merasa lidahnya akan terbakar. Ia terlalu mengabaikan dan mungkin hal itu karena rasa kehilangan yang amat dalam sehingga sedikit mengaburkan akal sehatnya.

“Tuan, apakah Tuan tidak ingin pulang dan istirahat di rumah? Karena tak ada berkas yang harus di tanda tangani lagi,” suara lembut dengan bahasa formal itu sontak membuat Kyuhyun berbalik dari kaca besar yang sedari tadi di pandanginya untuk melihat hamparan Kota Seoul.

Annimida, Jung Ajjushi. Anda pulanglah, aku masih ingin disini,” Kyuhyun tersenyum paksa kearah orang kepercayaan keluarganya sejak kepemipinan ayahnya dulu dan sekarang merangkap sebagai sekertaris pribadinya itu.

“Tetapi, Anda sudah berada di kantor sejak pagi-pagi buta tadi. Saya khawatir dengan kesehatan Tuan,”

“Tak apa Jung Ajjushi, Anda pulanglah dan istirahatlah. Aku tak apa disini,”

Lelaki paruh baya itu terdiam sejenak dan memikirkan tindakan yang harus dilakukannya.

“Baiklah, Tuan. Tetapi jika Anda membutuhkan sesuatu tolong hubungi saya,”

Ye,

Pria bernama Jung Sung Jae itu pun membungkuk hormat kemudian berbalik sambil menutup kembali pintu ruang kerja atasannya.

Sekarang Kyuhyun benar-benar sendiri. Meresapi kesendiriannya yang semakin kentara. Dia tak butuh Jung Ajjushi, tak butuh siapapun yang mungkin ada di daftar kontak ponselnya yang mungkin akan datang dan menemaninya ketika Kyuhyun menelfon.

Dia hanya butuh seseorang. Seseorang yang telah meninggalkannya dan membawa pergi juga malaikat kecil bersamanya. Kim Hye Ra, dia hanya butuh wanita itu. Ia ingin mendengar suaranya, melihat wajah cantiknya, mengusap rambut lembutnya, merengkuh tubuh indahnya, dan juga memiliki wanita itu seutuhnya.

Benar-benar gila ketika sudah hampir semusim wanita itu dan juga anaknya meninggalkan Kyuhyun. Meninggalkannya dengan berjuta-juta penyesalan dan kata maaf yang mungkin belum cukup untuk menebus semua kesalahannya.

Musim gugur dimana waktu ia bertemu kembali dengan Hye Ra telah berakhir, seiringan dengan berpisahnya kembali dirinya dan wanita itu. Daun-daun cherry blossom berguguran yang selalu mengingatkannya pada Hye Ra itu telah digantikan oleh gumpalan-gumpalan salju yang mulai turun. Musim mungkin berganti, tetapi perasaan Kyuhyun sama sekali tak pernah berubah. Semua konstan malah semakin besar. Ia semakin mencintai Hye Ra.

Mengapa tak menyusulnya ke Jepang? Mengapa hanya diam seperti orang tolol dan menangisinya setiap malam? Mungkin semua orang bertanya seperti itu.

Tetapi Kyuhyun mempunyai pemikiran tersendiri. Hye Ra yang mengatakan sendiri, bahwa dia yang ingin melepaskan diri, bahwa dia yang belum siap, bahwa dia yang meninggalkan Kyuhyun dengan inisiatifnya sendiri, tanpa paksaan. Mungkin saja jika ada suatu paksaan dari pihak lain ia masih bisa bertindak, tetapi kali ini keputusan wanita itu begitu telak dihadapan Kyuhyun. Keputusan itu yang membuat Kyuhyun tak bisa bergerak, mengejarnya, dan merengkuhnya kembali, karena memaksanya adalah haram bagi Kyuhyun. Ia tak ingin Hye Ra semakin jauh lagi darinya, sehingga ia harus rela hanya terduduk diam disini meskipun hatinya ingin rasanya berpacu mengejar dan mencari Hye Ra.

-oOo-

Donghae’s House, Bukyo, Tokyo

Donghae tengah duduk bersama Hyun Hae dengan stick playstation di tangannya. Matanya dengan cermat menatap layar televisi dimana menampilkan sebuah pertandingan antara Real Madrid dan Barcelona sedangkan jari-jarinya bergerak lincah menekan-nekan tombol stick playstation-nya.

Hampir sembilan puluh menit sudah kedua lelaki itu bermain playstation, dan skor yang tertera di bagian atas layar sangat berbeda jauh. 5-0. Kemenangan sementara dipegang oleh Hyun Hae, benar-benar anak maniak game. Tak heran gen penggila game itu diturunkan oleh ayah biologisnya sendiri. Ya, meskipun bocah itu tak mengetahuinya.

Tersisa waktu tambahan 1 menit, Hyun Hae yang mengendalikan club yang digawangi Christiano Ronaldo itu berhasil membobol kembali pertahanan El Barca yang dikendalikan Donghae. Memastikan skor menjadi 6-0 sebelum pada akhirnya peluit panjang ditiupkan oleh wasit. Membiarkan Donghae terpuruk dalam kekalahan telak dibawah tangan anak berusia tiga tahun lebih itu.

“Yah, kenapa Appa payah sekali bermainnya,” Hyun Hae menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Donghae menoleh heran pada bocah kecil disebelahnya, bukannya berselebrasi atas gol yang telah di cetaknya digawang Donghae, Hyun Hae malah merengut kesal.

“Hei, bukankah Hyunie yang hebat? Appa selalu kalah jika bermain dengan Hyunie,”

“Tetapi jadi tidak seru. Tidak seperti saat bermain bersama Kyuhyun samchon, dia benar-benar hebat. Hyunie senang bermain bersamanya meski Hyunie sering kalah,” Hyun Hae masih mempertahankan tangannya yang bersedekap didepan dada.

“Oh. Baiklah Hyunie, maafkan Appa,

“Seharusnya Appa banyak belajar bermain game dari Kyuhyun samchon. Dia juga punya segudang kaset game keluaran terbaru,” cecar Hyun Hae.

“Baiklah, baiklah, Hyunie. Ahh.. tetapi apa keahlian Kyuhyun bisa mengobati Hyunie ketika Hyunie sakit? Kalau Hyunie sakit, bukannya Appa yang selalu mengobatinya?” tutur Donghae tak mau kalah.

“Tetapi, kalau diberi kaset game baru, Hyunie langsung sembuh. Jeongmal!” Hyun Hae membela dirinya dan mengoceh-oceh tak jelas setelahnya.

“Kenapa Hyunie lebih cerewet daripada Eomma, eo, eo, eo?” Donghae mengangkat tubuh Hyun Hae saking gemasnya dan kemudian melempar-tangkap-kannya diudara beberapa kali.

“Hahahaha, Appa. Hahahaha. Stop.. stop..” Hyun Hae berteriak kegelian sambil tertawa terbahak-bahak akibat perlakuan Donghae.

“Hahahaha, ne, ne, chagi,” Donghae memeluk tubuh Hyun Hae erat-erat didalam dekapannya. Ia tak ingin kehilangan bocah yang telah dianggapnya seperti anaknya sendiri itu lagi.

Appa sayang Hyunie,” bisik Donghae sambil mengusap-usap rambut tebal berwarna hitam legam milik Hyun Hae itu.

Nado saranghaeyo, Appa,

-oOo-

 

 

Cho Coorporation, Apgujeong, Seoul

Derapan dan ketukan heels yang beradu dengan lantai marmer itu pun terdengar di setiap sudut koridor yang tengah dilewati seorang gadis dengan setelan kerja formal dan lengkap berwarna hitam. Langkah gadis itu akhirnya terhenti di depan pintu kayu mahoni dengan plakat “CEO ROOM” tergantung di sisi atasnya. Gadis itu pun memutar knop pintu dan memasuki ruangan super luas itu.

Gadis itu menghampiri meja sekertaris yang berada tepat di sisi kanan pintu kayu yang akan benar-benar menghubungkan ke ruang kerja sang CEO. Memang selalu seperti itu kan ruang kerja seorang pemilik perusahaan. Pengamanan ganda.

“Bisa aku bertemu dengan Kyuhyun Oppa? Ahh.. anni.. Kyuhyun-ssi,

“Maaf, apakah Anda sudah memiliki janji dengan beliau?”

“Ini mendesak. Jebal!

“Tapi Nona…” sang sekertaris mencoba mencegah karena apa yang dihadapinya saat ini sama sekali tak sesuai dengan protokol dasar tata cara bertemu CEO yang dipelajarinya. Tetapi gadis itu sama sekali tak menggubrisnya, ia tetap menjeblak pintu dengan memutar knop pintu.

Tubuh gadis itu pun memasuki ruangan minimalis nan ditata se-elegant mungkin. Benar-benar selera yang apik. Matanya menatap punggung seorang lelaki dengan garis tegas sempurna yang terlihat karena balutan jas hitam milik Armani itu tengah berdiri menghadap jendela kaca besar tiga meter di depan gadis itu.

“Kyuhyun…Oppa..” mendadak gadis itu tergagap saat memanggil lirih nama pria dihadapannya itu.

Cahaya matahari yang menembus kaca merebak seiringan dengan berbaliknya pria yang dipanggilnya dengan nama Kyuhyun itu. Suasananya seperti film-film romantis yang pernah dilihatnya, dimana seorang pria berbalik dengan cahaya matahari yang menyinari wajahnya, seakan mentari pun kagum dengan ketampanannya.

“Ji Yoon?” pria itu terbelalak kaget menatap seorang gadis yang tengah berdiri kaku di depan sana.

“Apa kabar?” tanya Kang Ji Yoon –gadis itu- mencoba basa-basi. Atmosfer berubah menjadi canggung karena memang, mereka tak pernah bertemu lagi semenjak kelulusan SMA. Tetapi Ji Yoon selalu mencari tahu dan memantau Kyuhyun karena pada saat itu ambisinya masih terlalu tinggi untuk mendapatkan kembali pria tampan itu.

“Tidak terlalu baik. Bagaimana denganmu?”

“Aku tak tahu bagaimana keadaanku saat ini,”

Kyuhyun tersenyum sambil mengeluarkan tangan kanannya dari saku celana kemudian mengarahkannya kearah sofa coklat yang ada di ruangannya.

“Duduklah,”

Ji Yoon mengikuti langkah Kyuhyun menuju sofa dan duduk tepat dihadapan pria itu. Tak disangkalnya jika sampai detik ini ia masih saja terpesona dengan ketampanan Kyuhyun yang tak pernah pudar malah semakin bertambah itu.

“Ada yang harus kukatakan dan kutanyakan kepadamu, tetapi sebelumnya aku akan mengatakan jika aku sangat merindukanmu,”

-oOo-

Donghae’s House, Bunkyo, Tokyo

09.00 P.M (Japan’s Time)

Setiap malam di bulan Desember selalu mempunyai keistimewaan tersendiri bagi Hye Ra. Apalagi jika bukan salju-salju lembut yang berjatuhan dari langit. Sehingga sedari tadi, wanita itu berdiri di balkon kamar untuk memperhatikan laju salju turun yang menurutnya begitu indah.

Entah apa yang membuatnya selalu tersenyum setiap melihat salju-salju putih itu berjatuhan. Tak peduli dengan dinginnya udara malam yang lebih ekstrim dibandingkan musim-musim sebelumnya, Hye Ra tetap teguh berdiri.

“Kau akan sakit jika terus berdiri disana. Lihatlah pakaianmu, T-shirt-mu tipis. Apa kau tak merasa kedinginan?”

Oppa,” Hye Ra menoleh kebelakang untuk memastikan siapa yang datang.

Donghae hanya tersenyum. Ia berjalan kearah Hye Ra dengan mantel rajut tebal yang telah membungkus tubuhnya.

“Setidaknya kau harus memakai ini,” Donghae mendekat dan melilitkan sebuah scraf rajut di sekeliling leher Hye Ra kemudian diaturnya kembali helaian rambut wanita itu sampai Donghae merasa telah cukup rapi.

Gumawo,

Donghae menempatkan dirinya tepat disamping Hye Ra yang terlihat senang ketika tangan yang dijulurkannya terkena salju. Donghae tak memandang lurus kedepan, tak memandang salju-salju indah itu jatuh perlahan. Hal itu karena ada objek lain yang lebih indah untuk dilihatnya. Wanita disampingnya. Ya, Donghae menatap Hye Ra begitu lekat dari samping. Begitu lama, sampai akhirnya….

“Ra-yaa, kurasa sudah saatnya aku harus mengatakan hal ini,”

Mwo?” kata Hye Ra dengan mata yang masih menikmati pemandangan salju dihadapannya.

“Tataplah aku dan aku akan mengatakannya,”

Hye Ra memutar tubuhnya sembilan puluh derajat untuk menatap mata Donghae, tetapi tak didapatinya pria itu tengah berdiri di sampingnya. Hye Ra terbelalak kaget ketika mendapati Donghae tengah berlutut dihadapannya terlebih lagi dengan memegang kotak beludru berwarna merah yang telah tersemat sebuah cincin bertahtakan berlian didalamnya.

Ige.. ige mwoya?” Hye Ra menutup mulutnya dengan tangan kanannya untuk meredam rasa keterkejutannya.

“Menikahlah denganku Kim Hye Ra,” ujar Donghae mantap.

Mendadak Hye Ra merasakan lututnya lemas. Ia merasa tubuhnya akan limbung karena seluruh syaraf-nya dirasa telah kacau semua. Hye Ra belum menjawab, ia hanya menatap mata Donghae dalam. Mencari-cari kebohongan yang faktanya sama sekali tak ditemukannya disana.

“Menikahlah denganku, hidup bahagia denganku dan kita besarkan Hyun Hae bersama,” ulang Donghae.

Hye Ra semakin terdiam. Nafasnya tercekat dan dadanya bergemuruh. Ia tak tahu harus menjawabnya dengan kalimat “Ya” atau “Tidak”. Ia tak mengerti bagaimana perasaannya selama ini terhadap Donghae. Ia tak sempat memikirkan perasaannya pada Donghae.

Tiba-tiba sekelebat bayangan Kyuhyun melintas di benaknya. Entah apa yang membuat ia menjadi memikirkan pria itu lagi. Tanpa kehendaknya ia mulai memikirkan perasaannya pada Kyuhyun. Dan hal itu membuat Hye Ra semakin bingung.

“Jadi… Maukah kau menikah denganku, Kim Hye Ra?”

Hye Ra masih mematung disana. Ia ingin menghilang saat ini juga. Ia tak tahu harus menjawab pertanyaan simple namun membutuhkan jawaban dengan pemikiran penuh itu dengan jawaban apa.

Ia menghela nafas panjang dan Hye Ra pun tersenyum. Tanpa sepatah kata pun yang menyertainya.

Donghae pun berdiri dan tersenyum senang sambil memeluk tubuh Hye Ra erat-erat.

Dan..

Hye Ra masih diam mematung saat Donghae menyematkan cincin indah itu dijari manisnya.

TBC

I Can’t Hate You, Cho Kyuhyun! ( It’s Your Baby ) Part 16

new

Tittle               : I Can’t Hate You, Cho Kyuhyun! ( It’s Your Baby )

Author            : Hilyah Nadhirah / Shin Hye Mi

FB                   : www.facebook.com/hilyah.nadhirah

Twitter           : www.twitter.com/#!/HilyahNadhz

WordPress      : www.nadhzworld.wordpress.com

Genre             : Sad Romance

Rating             : PG-15          

Leight             : Chapter

Main Cast      : Cho Kyuhyun, Kim Hye Ra, Kim Jongwoon

Disclaimer      : Don’t Bash.. Don’t PLAGIARISM..

 

FF I Can’t Hate You, Cho Kyuhyun! ( It’s Your Baby ) Part 1-15 bisa langsung klik di

www.nadhzworld.wordpress.com

 

~ HAPPY READING!!! ~

 

 

 

Donghae hampir saja jatuh jika tak mampu menahan tubrukkan keras yang menimpa tubuhnya. Sebuah pelukan yang sangat erat dirasakannya melalui lingkaran lengan gadis itu.

            “Kajjima…

            “Rae Mi-yaa. Waeguraeyo?”

            “Jangan meninggalkanku, Oppa..

Donghae menatap dengan lekat wajah Rae Mi yang telah memerah ditambah lagi mata sembabnya yang terus mengeluarkan airmata.

            “Ada apa denganmu? Mengapa menangis seperti ini?”

            “Oppa.. jangan tinggalkan aku.”

            “Tetapi aku ada hal penting di Seoul.”

            “Hal penting apa? Mengejar kekasihmu?!” Nada bicara Rae Mi menjadi sedikit membentak.

            “Hei. Ada yang salah dengan dirimu?”

Tiba tiba terdengar suara wanita dari speaker dan mengatakan bahwa pesawat yang ditumpangi Donghae akan lepas landas beberapa menit lagi.

            “Maaf aku harus pergi sekarang. Ige… hapus air matamu.” Donghae mengulurkan sebuah saputangan kehadapan Rae Mi.

Donghae membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju pintu boarding sedangkan Rae Mi hanya mampu menatap punggung namja itu sampai menghilang di balik pintu.

            “Kau meninggalkanku.” Rae Mi menghempaskan saputangan Donghae ke lantai dan langsung berlari dengan keadaan masih menangis.

Rae Mi juga merasakan ketakutan yang sama. Ia takut lelaki yang susah payah di dekatinya akan terlepas dari genggamannya. Ia takut lelaki yang dicintainya itu akan kembali pada masa lalunya. Ia takut dan juga bingung. Apakah dia berhak mencintai dengan hati yang seperti ini?

~Story Beginning~

 

Pagi ini matahari masih bersinar cerah menyapa dan menemani setiap detik yang dilalui oleh seluruh makhluk Tuhan di dunia ini. Terlihat sesosok lelaki yang tengah bergumul dibalik selimut putih tebal yang melindungi sekujur tubuhnya hingga batas leher dari terpaan angin yang berhembus melalui jendela yang telah terbuka.

Mungkin pengaruh seberkas cahaya matahari yang tak gentar membangunkannya dari tidur lelapnya dengan masuk melewati ventilasi ventilasi dan juga jendela kamar, pemuda itu pun mulai menunjukkan tanda tanda akan tersadar. Tubuhnya menggeliat pelan sambil merengangkan otot ototnya yang sedikit kaku.

Beberapa menit kemudian, tubuh jangkung itu sudah terduduk sempurna diatas kasur dengan kaki bersila. Matanya masih terlihat menyipit akibat belum menyesuaikan dengan sempurna dengan cahaya matahari yang masih saja memaksa masuk.

Tangannya menggapai gapai benda persegi panjang diatas nakas tepat di samping ranjangnya. Di tekan tombol yang berada disisi kanan ponselnya untuk menunjukkan display layar. Potret seorang wanita tengah mengenakan bunga cherry blossom di belakang telinganya. Sepertinya wanita itu dipotret tanpa sepengetahuannya, wajahnya terlihat begitu alami dan natural.

            “22 September?” Mata pria itu pun membulat tepat disaat melihat deretan angka dua digit di layar ponselnya.

Sesungging senyum pun tergambar jelas menghiasi wajah tampannya meskipun belum terbasuh air sedikit pun pagi ini.

            “Apa yang harus ku persiapkan hari ini?”

-oOo-

 

            “ Samchon…

Hyun Hae berlari kearah Jongwoon yang tengah menonton televisi di ruang keluarga dengan raut wajah yang begitu riang.

            “Waeyo Hyunie? Kau terlihat gembira sekali?” Tanya Jongwoon sambil mengangkat tubuh mungil Hyun Hae keatas pangkuannya.

            “Samchon… aku ingin bertemu Eomma.”

            “Baiklah nanti sore samchon akan antarkan Hyunie.”

            “Shirreo! Hyunie ingin kesana sekarang.”

            “Tapi ini masih pagi Hyunie. Pagi ini samchon juga akan pergi ke caffe.”

            “Shirreo!!! Hyunie mau sekarang!!” Hyun Hae menggeleng keras sambil memanyunkan bibirnya.

Jongwoon heran dengan tingkah keponakannya yang sedikit keras kepala pagi ini.

            “Baiklah baiklah. Samchon  akan mengantarkan Hyunie. Tapi sehabis mengantar Hyunie, samchon harus segera pergi. Jadi Hyunie disana dulu sampai samchon menjemput.”

            “Ne, arraseo samchon!” Hyun Hae mengangguk mantap sambil tersenyum lebar menatap Jongwoon.

            “Tapi, memangnya ada apa hari ini sampai sampai Hyunie bersikeras bertemu eomma pagi pagi seperti ini?”

            “Memangnya samchon tidak ingat?”

            “Tidak ingat? Memangnya ada apa?”

Hyun Hae melipat kedua tangannya lalu mendengus sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seperti ekspresi orang dewasa.

            “Samchon benar benar keterlaluan.” Hyun Hae berdecak kesal.

            “Hei, katakan Hyunie. Ada apa?” Tanya Jongwoon penasaran.

            “Hari ini ulangtahun eomma. Apa samchon tidak ingat?”

Jongwoon membulatkan matanya, dengan sigap ia merogoh saku celananya. Diambilnya ponsel dan ditatapnya layar yang menampilkan foto dirinya dan Hye Ra.

            “Astaga!” Jongwoon menepuk dahinya.

            “Hyunie ingin memberikan kejutan pada eomma.”

-oOo-

 

            “Annyeonghaseo.. Nuguseyo?” Hye Ra menjawab panggilan telepon yang masuk ke ponselnya itu.

            “…….”

            “Mwo?!

            “……”

            “Baiklah, aku akan segera kesana.”

Hye Ra segera memutuskan sambungan teleponnya dan langsung menyelorokkan ponselnya itu kedalam tas tangan yang baru saja disambarnya dari atas meja ruang keluarga.

            “Hyunie.. Eomma ada urusan sebentar. Hyunie tunggu disini saja dengan Kyuhyun samchon ya.” Hye Ra menekuk lututnya untuk mensejajarkan tubuhnya dengan bocah laki laki yang tengah duduk diatas sofa itu.

            “Ne, eomma. Tapi eomma jangan lama-lama.”

            “Pasti, chaggi-yaa.” Hye Ra mengelus pipi gembil itu sebelum menciumnya dua kali di kiri dan kanan.

            “Hyunie sayang eomma.” Hye Ra tersenyum mendengar ucapan Hyun Hae.

            “Nado saranghaeyo, Hyunie.”

Hye Ra berbalik dan melangkahkan kakinya hendak menuju pintu utama, tetapi langkahnya terhenti disaat seorang lelaki berambut kecoklatan tengah berada dihadapannya.

            “Kyuhyun-ssi, boleh aku minta tolong?”

            “Apa?”

            “Tolong jaga Hyunie, anakku. Aku ada urusan sebentar diluar. Bolehkah?”

Kyuhyun melongok ke arah sofa yang ada di balik tubuh Hye Ra. Duduk seorang bocah lucu yang tengah disibukkan oleh sebuah PSP di tangannya. Sesungging senyum pun samar samar menghiasi kedua sudut bibir tebal milik Kyuhyun itu.

            “Emm. Baiklah.” Kyuhyun mengangguk-anggukkan kepalanya.

            Gumawo.”

 

-oOo-

Kyuhyun meletakkan secangkir teh yang tadi di genggamnya ke atas meja kayu dihadapannya. Dihempaskan tubuhnya pada sofa sambil tangannya meraih remote dan menyalakan televisi berukuran besar itu dengan salah satu tombol remote. Dilirik sekilas bocah disampingnya yang masih sibuk dengan game di PSP berwarna biru itu. Senyum Kyuhyun tersungging kembali disaat ia menyadari seberapa mirip dirinya dengan bocah bernama Cho Hyun Hae ini.

            “Hyunie-yaa. Bagaimana kalau kita bermain playstation saja.” Ujar Kyuhyun berusaha mendapatkan perhatian bocah 3 tahun itu.

Diam. Sama sekali tak ada jawaban dari bocah itu. Hyun Hae masih enggan mengalihkan perhatian dan pandangannya dari layar PSP itu.

            “Hyunie-yaa. Ayo kita bertanding bermain playstation.” Kyuhyun menjawil-jawil lengan Hyun Hae dengan jarinya.

            “Lepaskan! Jangan mengganggu.” Tanpa menoleh sedikit pun, Hyun Hae mengayunkan tangannya sehingga tangan Kyuhyun terhempas. Bukannya kesal, Kyuhyun menjadi semakin gemas dengan Hyun Hae. Rasanya ia ingin menggigit pipi gembil itu dan memeluk erat tubuh mungil itu.

Kyuhyun meraih cangkir teh-nya dan langsung menyesap isinya hingga habis tak bersisa. Setelah meletakkan kembali cangkir teh itu di atas meja, Kyuhyun kembali angkat bicara.

            “Hyunie-yaa…” Kyuhyun mencubit-cubit gemas lengan kecil Hyun Hae.

            “AAAA… SAMCHON!!! AKU JADI KALAH!!” Teriak Hyun Hae dengan raut wajah murka kearah Kyuhyun.

            “Hyunie ‘kan sudah bilang jangan mengganggu!” Lanjut Hyunie sambil membanting PSP-nya ke sisi sofa yang kosong.

            “Mianhae, Hyunie-yaa.” Kyuhyun memasang wajah bersalah. Ditatapnya Hyun Hae yang tengah melipat kedua tangannya di depan dada sambil memanyunkan bibir tebalnya.

Tiba tiba tercetus sebuah ide di dalam otak Kyuhyun. Segera ia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju lemari kayu tepat disebelah televisi.

Terlihat Kyuhyun tengah sibuk mencari sesuatu didalamnya yang ternyata diam diam membuat Hyun Hae penasaran.

            “Hyunie.. ayo kita bertanding!” Kyuhyun membalikkan tubuhnya sembari menggenggam sebuah kaset game di tangannya.

            “FIFA14!!” Hyun Hae terbelalak ketika melihat cover kaset game itu.

            “Yap.” Ujar Kyuhyun bangga karena telah berhasil membuat Hyun Hae berbinar binar kagum.

            “Kemarin Hyunie minta eomma membelikan ini, tapi eomma tidak mau.” Hyun Hae tersenyum senang sambil menatap kaset game keluaran terbaru itu.

            “Hahaha. Samchon berikan ini pada Hyunie. Tapi Hyunie harus mau bertanding melawan samchon.”

            “Baiklah. Hyunie pakai Real Madrid.” Hyunie menatap Kyuhyun mantap.

            “Samchon pakai Barcelona. Ayo kita lihat siapa yang menang.”

-oOo-

 

Kawasan Myeongdong memang tak pernah sepi dari pengunjung. Setiap sudut pusat perbelanjaan di Seoul ini selalu penuh dengan orang orang yang berlalu-lalang. Tak terkecuali dua orang laki-laki yang terpaut usia cukup jauh ini. Kyuhyun dan Hyun Hae.

            “Samchon, terimakasih kaset game-nya dan ice cream ini.” Hyun Hae mendongak sambil tersenyum menatap Kyuhyun yang tengah menggandengnya. Kyuhyun hanya membalasnya dengan senyuman dan usapan lembut penuh kasih sayang di puncak kepala Hyun Hae.

Entah apa yang membuat Hyun Hae begitu cepat dekat dan mengubah alur pikirannya pada Kyuhyun. Saat ini, Hyun Hae terlihat sangat nyaman bersama dengan Kyuhyun walaupun baru 4 jam yang lalu bertemu dengannya.

            “Samchon tahu hari ini adalah hari ulang tahun eomma?”

            “Tahu. Memangnya kenapa?”

            “Hyunie ingin memberi kejutan pada eomma.”

            “Kejutan apa? Apa Hyunie ingin membeli sesuatu?”

            “Anni.” Hyun Hae menggelengkan kepalanya cepat.

            “Hyunie tidak punya uang yang cukup untuk membeli hadiah.” Lanjut Hyun Hae.

            “Samchon akan membelikannya.”

            “Shirreo. Hyunie mau hadiah untuk eomma adalah hadiah dari Hyunie.”

            “Jadi Hyunie ingin membuat sesuatu?”

Hyun Hae tersenyum sambil mengangguk senang. Kyuhyun juga ikut tersenyum melihat anaknya yang sudah tumbuh begitu pintar. Ia menyesal mengingat dulu ia hampir saja menyia-nyiakannya.

            “Kalau begitu, Hyunie yang harus menemani samchon membeli hadiah.”

 

-oOo-

Duduk seorang pria dan wanita saling berhadapan dipisahkan oleh sebuah meja tepat di dalam caffe terkenal di kawasan Gangnam itu. Tangan mereka sama sama tengah menangkup gelas porselen putih berisi cappuccino latte.

            “Bagaimana kabarmu?” Tanya sang pria yang pada akhirnya mengangkat cangkir kopi itu dan menyesap perlahan isinya.

            “Baik. Bagaimana kabarmu, Oppa?”

            “Entahlah. Aku tak tahu bagaimana kabarku dan keadaanku selama ini.”

            “Mianhae, Oppa.” Wanita itu menundukkan kepalanya dalam, memperlihatkan rasa penyesalannya.

            “Sudahlah. Tak apa.” Pria tampan itu tersenyum santai menanggapi sikap kaku wanita dihadapannya.

            “Tapi aku telah tak memberimu kabar selama ini. Mianhae.

            “Hei, Hye Ra-yaa. Tak apa. Sungguh. Yang terpenting saat ini aku sudah memastikanmu dalam keadaan baik baik saja. Aku senang.”

Wanita bernama Kim Hye Ra itu mengangkat kepalanya dan kembali mensejajarkan pandangannya pada Donghae –pria dihadapannya-. Dilihatnya wajah tampan yang tersuguh di depannya. Sedikit berubah. Wajahnya tak setenang dulu. Tersirat sebuah beban yang tersimpan didalamnya.

            “Apa Oppa hidup dengan baik belakangan ini?” Tanya Hye Ra dengan wajah tak yakin.

            “Ya. Meski tak sebaik saat bersamamu.” Donghae tergelak di sela sela ucapannya, memberi kesan hanya sebuah gurauan dibalik kalimat yang sebenarnya nyata itu.

            “Bagaimana kabar Hyunie?” Lanjut Donghae.

            “Anak itu semakin hari semakin pintar. Apa Oppa ingin menemuinya?”

            “Baiklah besok pagi aku akan menemuinya. Hari ini aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu.”

            “Hanya denganku?”

-oOo-

 

Kyuhyun dan Hyun Hae saat ini tengah berada di salah toko perhiasan ternama di kawasan Myeongdong. Hyun Hae duduk di kursi tinggi sementara Kyuhyun sibuk memilih milih kalung emas putih yang akan diberikannya pada Hye Ra.

            “Eomma tidak suka yang berlebihan. Jadi jangan pilih kalung dengan liontin yang terlalu besar.” Ujar Hyun Hae memberi pendapat pada Kyuhyun.

            “Baiklah. Menurut Hyunie, lebih bagus yang mana?” Tanya Kyuhyun sambil menunjuk kalung berliontin hati dan kalung berliontin sayap malaikat.

            “Yang itu.” Hyun Hae menunjuk kalung berliontin sayap malaikat dari balik etalase kaca.

            “Sayap malaikat?”

            “Karena eomma seperti malaikat. Eomma tidak pernah memarahi Hyunie. Eomma adalah orang tersabar dan terbaik yang pernah Hyunie temui.” Hyun Hae berceloteh mengungkapkan sisi pandang terhadap eomma-nya itu.

Kyuhyun tersenyum tipis sambil mengelus elus rambut tebal Hyun Hae. Ia sangat setuju dengan semua pendapat Hyun Hae. Hye Ra memang wanita paling baik dan paling sabar yang pernah ditemuinya selama ini. Ya, tak perlu berulang ulang kali dijelaskan dalam hal apa Hye Ra bersabar. Intinya, Hye Ra selalu bersabar ketika bertemu dan bersangkut paut dengan Kyuhyun.

            “Baiklah. Kita beli yang ini saja.” Pramuniaga toko dengan cekatan langsung mengambil kalung itu dan dimasukkan kedalam kotak.

            “Bisa tolong di hias? Ini hadiah.”

            “Baik, Tuan.”

-oOo-

 

Setelah sebuah audy putih terparkir sempurna di pekarangan rumah mewah berwarna putih itu, terlihat seorang bocah kecil berlari dengan semangat menuju kedalam rumah. Senyumnya tak pudar semenjak tadi, membuat Kyuhyun juga bertindak serupa.

Kyuhyun menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat sepasang sepatu berukuran kecil itu tak tertata rapi di depan pintu. Ia heran, apa yang membuat anaknya itu begitu semangat. Dipungutnya sepasang sepatu itu dan diletakkannya dengan rapi di depan pintu tepat di sebelah sepatu miliknya.

Pria itu berjalan melewati ruang tamu dan menuju ke ruang keluarga. Dilihatnya bocah kecil bernama Hyun Hae itu tengah duduk dibelakang meja lipatnya dengan kertas, spidol, dan crayon yang ada diatasnya.

            “Hyunie sedang apa?” Tanya Kyuhyun lembut setelah mendudukkan tubuhnya di hadapan Hyun Hae yang mulai fokus dengan kertas dan peralatan menggambar lainnya.

            “Membuat hadiah untuk eomma.” Jawab Hyun Hae yang mulai menorehkan spidolnya ke atas kertas putih.

Kyuhyun terus memperhatikan Hyun Hae yang sedang menggambar. Sampai pada akhirnya sebuah gambaran yang memperlihatkan sebuah keluarga, terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Kyuhyun seketika menatap lekat kearah Hyun Hae yang mulai sibuk mewarnai gambarannya dengan crayon.

            “Ini gambar siapa?” Tanya Kyuhyun dengan pandangan yang tak lepas dari Hyun Hae.

“Ini eomma, appa, dan Hyunie.” Jelas Hyun Hae dengan polosnya.

Kyuhyun beralih menatap gambaran anak laki-lakinya itu dengan seksama. Ada sesuatu hal yang aneh disini. Appa?!.

            “Appa Hyunie dimana?” Tanya Kyuhyun dengan intonasi lemah namun penuh penekanan.

            “Appa ada di Jepang. Appa Hyunie tampan dan hebat seperti Hyunie.” Celoteh Hyun Hae sambil tetap mewarnai gambarannya.

            “Di Jepang?”

            “Iya. Appa Hyunie seorang dokter yang hebat dan sibuk. Karena itu, appa tidak ikut ke Korea.”

            “Siapa nama appa Hyunie?”

 “Nama appa adalah Lee Donghae. Memangnya ada apa, samchon?” Merasa seperti di introgasi, bocah pintar itu pun menaruh crayon-nya dan menatap Kyuhyun.

            “Anni.. Anniya. Hanya ingin tahu saja.”

Nama yang asing, pikir Kyuhyun. Ia belum pernah menemui atau mengenal pria bernama Lee Donghae. Lagi-lagi muncul lagi misteri yang menguak ke permukaan. Marga mereka. Berbeda.

            “Marga Hyunie dan appa berbeda?” Tanya Kyuhyun hati hati.

            “Iya. Teman Hyunie pernah bilang kalau Hyunie bukan anak eomma dan appa. Hyunie menangis dan marah karena itu.” Hyun Hae mengerucutkan bibirnya ketika dipaksa mengingat ingat kejadian itu lagi.

            “Lantas apa yang dikatakan eomma dan appa?” Kyuhyun semakin penasaran dengan permasalahan pelik ini.

            “Mereka mengatakan Hyunie adalah anak eomma dan appa. Bukan anak orang lain. Hyunie juga yakin dengan hal itu.” Jawab Hyun Hae dengan senyum terkembang.

Kyuhyun menatap wajah Hyun Hae yang dihiasi senyuman mengembang di kedua sisi bibirnya. Ia benar-benar tak tega untuk menghapus senyuman itu jika bocah polos itu mengetahui semuanya. Semua tentang jati diri yang sebenarnya.

            “Kalau nama samchon siapa?” Tanya Hyunie tanpa menatap Kyuhyun.

Kyuhyun tersentak mendengar pertanyaan Hyun Hae.

            “Nama samchon.. Cho.. Cho Kyuhyun.”

            “Cho.. Cho Kyuhyun?” Hyun Hae terbelalak kaget mendengar jawaban itu.

            “Marga kita ternyata sama ya, samchon.” Lanjut Hyun Hae dengan pandangan takjub pada Kyuhyun.

            “Mengapa appa Hyunie tidak bermarga Cho saja ya? Kalau begitu ‘kan Hyunie tidak diejek teman-teman.” Ujar Hyun Hae polos.

Kyuhyun seketika merasa sesak. Memang belum waktunya untuk bocah lucu itu mengetahui semuanya, tetapi entah mengapa rasa ingin membuat Hyun Hae mengetahui yang sebenarnya itu membuncah dan meletup letup ketika bocah itu menyebutkan kata “Appa”.

Rasanya sakit ketika anaknya sendiri menyebut “Appa” kepada orang lain.

            ‘Hyunie.. kapankah kau akan menyadari? Appa-mu adalah orang yang saat ini berada dihadapanmu.’

-oOo-

 

Hye Ra berjalan cepat menuju pintu rumah dengan sebelah tangan yang berusaha menutupi kepalanya agar tak terkena rintikan air hujan. Dirasanya suasana rumah begitu sepi petang ini. Lampu-lampu didalam rumah berasitektur minimalis itu tampak tak dinyalakan. Tuan dan Nyonya Cho pasti masih berada di Busan sejak tadi pagi lalu untuk urusan bisnis. Tetapi, dimana Kyuhyun dan Hyun Hae? Mengapa suasana rumah begitu sepi?

Hye Ra telah berdiri tepat didepan pintu berbahan kayu jati itu. Disisirnya secara kilat helaian rambut basah akibat ulah air hujan itu dengan jari jarinya sebelum pada akhirnya melepas flat shoes-nya dan memutar knop pintu.

Kaki Hye Ra pun melangkah perlahan kearah sudut ruang tamu itu untuk menyalakan lampu.

            “Saengil Chukka Hamnida… Saengil Chukka Hamnida… Saranghaneun Hye Ra eomma… Saengil Chukka Hamnida..” Hye Ra terbelalak kaget sampai sampai ia memundurkan tubuhnya beberapa langkah.

Hatinya sangat bahagia ia mendapatkan kejutan lagi di hari ulang tahunnya setelah seharian penuh menghabiskan waktu berdua dengan Donghae dan juga kejutan kejutan manis yang diberikan pria itu.

Hye Ra refleks tersenyum menatap kedua laki laki beda usia dihadapannya. Ditatapnya Hyun Hae yang terlihat begitu lucu dengan topi kerucut di kepalanya. Kemudian pandangannya beralih pada Kyuhyun dengan kue tart coklat ditangannya dan tak lupa topi kerucut yang sama persis dengan yang digunakan Hyun Hae tengah bertengger diatas kepalanya.

            “Happy Birthday, Ra-yaa.” Dengan senyum yang terus mengembang di kedua sudut bibirnya, Kyuhyun melangkah mendekat kearah Hye Ra.

            “Eomma, ayo tiup lilinnya.” Seru Hyun Hae semangat.

Diusapnya rambut tebal Hyun Hae sebelum ia menatap lilin yang menunjukkan angka 21 itu. Tak terasa sudah lumayan lama ia menghabiskan waktunya di dunia ini. Tetapi entah mengapa, ia merasa kenangannya selama hidup masih kurang, masih ada ruang kosong di dalam pikirannya yang entah saat ini hilang kemana.

Akhirnya, Hye Ra menatap Kyuhyun sekilas dan kemudian sedikit membungkuk untuk meniup lilin.

            “Gumawo, Kyuhyun-ssi.. Hyunie sayang.”

            “Ayo eomma, potong kue-nya. Hyunie ingin mencoba.”

-oOo-

            “Kau mau kemana Ji Yoon-aah?” Seorang pria dengan setelan kerja formal yang membalut apik tubuhnya tengah mencoba mensejajarkan langkahnya yang tertinggal beberapa meter dari seorang gadis di depannya.

            “Aku akan pulang untuk menemui Appa. Ada hal penting yang harus ku bicarakan dengan beliau. Kumohon Jun Hee-yaa. Bisakah makan malamnya kita tunda besok? Maaf.” Gadis itu berbalik menatap pria yang sedari tadi terus mengikuti langkahnya.

            “Baiklah. Aku mengerti.” Pria itu menghentikan langkahnya setelah mendengar penjelasan dari gadis bernama Kang Ji Yoon itu. Lagi lagi ia harus mengurungkan niatnya untuk menghabiskan waktu bersama sahabat masa SMP-nya itu.

            “Terimakasih. Besok akan kupastikan untuk meluangkan waktu untukmu.” Ji Yoon tersenyum sebelum membalikkan tubuhnya kembali.

            “Hati hati, Ji Yoon.”

            “Ne.

Hentakan heels itu terdengar menggema disepanjang lorong sebelum pada akhirnya menghilang seiringan dengan Ji Yoon yang memasukki pintu lift yang akan membawanya menuju area parkir di lantai dasar.

            ‘Appa akan menceritakannya sekarang. Datanglah ke rumah’

Kata kata itu masih tertera jelas pada ponsel yang tengah di genggam Ji Yoon. Hal itu tentang foto usang yang ditemukannya tempo hari di dalam loker kerja ayahnya. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya ayah Ji Yoon memutuskan untuk menceritakan mulai awal segala maksud foto tersebut.

Setelah berada di area parkir, Ji Yoon segera mempercepat langkahnya menuju mobil putih miliknya. Kemudian dilajukannya dengan cepat. Hal itu karena rasa penasaran yang tinggi sehingga membuatnya tak sabar untuk mendengar cerita ayahnya.

Setengah jam pun berlalu, Ji Yoon telah duduk di sebuah sofa nyaman di kediamannya. Disesapnya perlahan secangkir teh yang baru saja di hidangkan oleh pelayan kepadanya. Ditatap pria paruh baya yang berdiri membelakanginya tengah menatap lukisan mahal yang tergantung di dalam ruangan itu.

            “Setelah sekian lama.. akhirnya aku memutuskan.. hari ini aku akan menceritakan semuanya.” Pria paruh baya itu membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju sofa tepat dihadapan anak gadisnya itu.

-oOo-

 

Kyuhyun mengetuk pintu kamar Hye Ra perlahan sebelum akhirnya ia membuka pintu dan menyediakan sedikit celah untuk melongok kedalam kamar. Hanya ada Hyun Hae yang tengah terlelap pulas diatas ranjang tanpa ada Hye Ra di sampingnya. Kemana wanita itu?

            “Okh.. Kyuhyun-ssi? Ada apa?” Tiba tiba Hye Ra muncul dari dalam kamar mandi yang memang ada di dalam kamar. Kyuhyun terbelalak kaget dengan kemunculan Hye Ra yang tiba tiba.

Kyuhyun masih tak bergeming tetapi kedua matanya masih mengamati Hye Ra yang mengambil cardigan putih dan memakainya untuk menutupi tubuhnya yang hanya terbalut piyama tanpa lengan itu.

            “Emm. Ada yang aku ingin bicarakan. Aku tunggu di balkon.” Kyuhyun pun membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju balkon.

            “Baiklah.” Ujar Hye Ra sebelum mengambil selimut tebal dan menyelimuti malaikat kecilnya yang tengah tertidur itu. Memang, ia meminta agar Hyun Hae tinggal bersamanya untuk beberapa waktu kedepan karena ia tak mau tinggal hanya berdua dengan Kyuhyun selagi orang tua pria itu berada di luar kota.

Setelah selesai memastikan Hyun Hae telah tidur dengan nyaman, Hye Ra pun melangkah keluar kamar dan berjalan menuju balkon. Dari kejauhan, dilihatnya pria berpunggung tegak tengah berdiri membelakanginya menghadap hamparan langit malam yang begitu luas.

            “Ingin mengatakan apa?” Hye Ra berdiri tepat disamping Kyuhyun. Ia berbicara tanpa menatap pria disampingnya sama sekali melainkan menatap langit gelap dihadapannya.

Kyuhyun memutar 90o arah pandangnya menjadi menuju Hye Ra. Diselorohkan tangannya pada saku jaket yang tengah membalut tubuh jangkungnya itu. Dikeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah dengan pita yang tersimpul indah diatasnya.

            “Ige.” Kyuhyun menyodorkan kotak itu pada Hye Ra.

            “Apa ini?”

            “Hadiah ulang tahunmu. Sekali lagi… Selamat ulang tahun, Hye Ra.”

Hye Ra menatap mata Kyuhyun lekat sebelum akhirnya menerima kotak kecil itu.

            “Bukalah.” Hye Ra menuruti ucapan Kyuhyun dan perlahan membuka kotak kecil berwarna merah itu. Sebuah kalung berliontinkan sayap malaikat itu terpampang jelas di hadapan Hye Ra.

            “Itu Hyunie yang memilikannya.” Ujar Kyuhyun.

Hye Ra menegakkan kembali kepalanya dan beralih menatap pria tampan itu. Seulas senyum yang terlihat samar samar terkembang di atas bibirnya.

            “Dia memang anak yang pintar.” Ucap Hye Ra lirih.

            “Ya. Bukan Cho Hyun Hae namanya jika tidak pintar.” Kyuhyun menatap kerlipan bintang diatas sana yang seolah olah tengah menaungi dirinya dan wanita disampingnya ini.

            “Mau kubantu pakaikan?” Lanjut Kyuhyun sambil melepaskan pegangan tangannya pada pagar besi rendah yang ada di balkon.

            “Mmm.. tak…” Belum sempat Hye Ra menolak, Kyuhyun sudah terlebih dahulu mengambil alih kotak beludru itu dari tangan Hye Ra.

Diambilnya kalung itu dan dilepaskan pengaitnya. Kemudian, pria itu melangkah kebelakang tubuh Hye Ra, disibakkan rambut hitamnya hingga menampakkan leher putih yang jenjang itu. Hye Ra hanya bisa diam dan tak bisa melakukan penyangkalan apa apa lagi. Kyuhyun dirasa sudah mengambil seluruh kendali dirinya. Ia hanya bisa menunggu sampai Kyuhyun selesai memasangkan kalung emas putih itu di lehernya.

            “Dia memilih sayap malaikat karena bocah itu bilang, kau adalah sesosok malaikat. Kau yang terbaik yang pernah ditemuinya. Kurasa aku setuju.. bahkan sangat setuju dengan apa yang dikatakannya.”

-oOo-

 

Hye Ra mengenakan cardigan hitamnya untuk membalut gaun putih selutut tanpa lengan yang ia kenakan saat ini. Dilepaskannya ikat rambut yang membuat rambutnya tergulung menampakkan leher putih itu. Setelah merasa penampilan dirinya sudah baik, wanita itu melangkah keluar rumah.

Ia berdiri di depan pagar, terlihat tengah mencari cari sesuatu. Kepalanya terus saja melongok ke kiri dan kanan berharap ada sebuah mobil yang dikenalnya melaju kearah wanita itu.

Tak lama kemudian, sebuah Audy hitam muncul dari sisi kanan jalan. Perlahan-lahan semakin mendekat dan pada akhirnya berhenti tepat di depan Hye Ra –wanita itu-. Kaca mobil pun terbuka dan menampakkan seorang pria tampan di dalam mobil dengan senyum yang mengembang begitu indah di bibirnya.

            “Masuklah, Oppa. Hyunie ada di dalam tetapi ia masih tertidur.” Hye Ra membungkukkan badannya dengan tangan yang memegang pintu mobil agar bisa menatap wajah pria itu.

            “Baiklah.” Lee Donghae –pria itu- pun mematikan mesin mobilnya.

Donghae keluar dari mobilnya dan sedikit merapikan setelan jas hitam yang dikenakannya dan kemudian berjalan seiringan dengan Hye Ra yang telah memasukki pekarangan rumah.

Donghae datang karena ia berjanji kemarin, akan menemui Hyun Hae hari ini dan mengajaknya berkeliling Seoul. Hye Ra sedikit lega mendapati bahwa Kyuhyun telah pergi sejak pagi hari entah kemana, dengan itu ia bisa membawa Donghae ke rumah tanpa menimbulkan amarah Kyuhyun.

            “Hye Ra-yaa!!” Tiba tiba terdengar sebuah teriakan yang menggelegar di balik tubuh Hye Ra yang kira kira hanya beradius 4 meter. Langkah wanita itu seketika berhenti di ikuti dengan Donghae yang juga menghentikan hentakan langkahnya.

Perlahan, kedua orang itu berbalik dan mendapati seorang pria jangkung dengan wajah penuh amarah dan nafas yang memburu tengah berdiri tegak di depan pagar yang telah terbuka. Tangan pria itu mengepal kuat hingga memunculkan otot otot di lengan bawahnya. Amarahnya membuncah. Dengan langkah lebar, pria itu berjalan kearah dua orang yang tengah mematung di depan sana.

            “Apa yang kau lakukan? Mengapa kau membawa pria ke rumahku?” Desis Kyuhyun sambil menatap tajam menghunus kedua mata Hye Ra.

            “Maaf. Tapi aku hanya….”

BUGH!

Kepalan tangan itu pun melayang dan mendarat tepat pada sudut bibir Donghae yang telah jatuh tersungkur akibatnya.

            “Lebih baik kau diam sebelum aku melakukan yang lebih menyakitkan.”

            “Ikut aku.” Lanjut Kyuhyun yang telah mencengkram pergelangan tangan Hye Ra dan menarik wanita itu memasukki mobilnya yang masih dalam kondisi mesin menyala itu.

            “Tapi Kyuhyun-ssi… Hyunie…”

-oOo-

Kyuhyun menghentikan laju mobilnya di halaman parkir dan segera mengunci otomatis sesaat setelah dirinya dan Hye Ra keluar dari mobil bertaraf mewah itu. Dicengkramnya lagi pergelangan tangan Hye Ra.

Keduanya memasuki sebuah gedung apartement yang mewah. Terlihat seorang resepsionist membungkukkan badannya untuk memberi salam tapi sama sekali tak di hiraukan oleh Kyuhyun yang terus saja melangkah lebar dengan mencengkram lengan Hye Ra, membuat wanita itu kesulitan untuk mengimbangi Kyuhyun.

            “Kyuhyun-ssi… lepaskan aku…” Hye Ra meronta ronta ingin melepaskan cengkraman yang membuat tangannya sakit itu. Ia berani taruhan tangannya akan menimbulkan bekas merah karena perilaku pria ini.

Kyuhyun sama sekali tak bergeming, ia terus saja melangkahkan kakinya sampai pada akhirnya berhenti tepat didepan sebuah apartement bernomor 213. Kyuhyun menyelorohkan tangannya pada saku celana bahannya untuk mengambil sebuah kunci. Setelah berhasil menemukannya, Kyuhyun langsung memasukkannya pada lubang kunci dan memutar knop pintunya.

Tetap dengan mencengkram lengan wanita disampingnya, ia memasukki ruangan yang telah lama tak disinggahinya itu. Karena terlalu banyak kenangan buruk yang terjadi disini.

            “Kyuhyun-ssi. Apa maksudmu membawaku kemari?” Tanya Hye Ra dengan nada gemetar.

Kyuhyun menghempaskan tangannya sehingga tubuh Hye Ra membentur dinding dan hanya bisa berdiam disana sedangkan Kyuhyun melangkah mendekatinya.

            “Aku muak. Aku muak terus menunggumu.”

            “Aku lelah menunggumu mengingat diriku dan semuanya. Terlalu lama bagiku untuk menunggumu mengingatku secara perlahan.”

Disaat mereka dalam jarak yang semakin dekat, Kyuhyun meletakkan tangan kanannya di dinding untuk mengunci pergerakkan Hye Ra dan tangan kirinya digunakan untuk memegang tengkuk wanita cantik itu.

Kyuhyun mulai mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya perlahan pada bibir Hye Ra. Hye Ra pun terlonjak kaget dan mulai ingin melepaskan dirinya dari Kyuhyun, namun usahanya sia sia karena tangan Kyuhyun yang tadinya berada di dinding telah berpindah melingkar pada pinggangnya. Ia membelit tubuh Hye Ra dengan kuat bagaikan seekor ular yang memangsa buruannya.

Kyuhyun terus saja mendesak Hye Ra, lumatan bibirnya semakin liar. Hye Ra hanya bisa meneteskan air matanya sambil terisak diam mendapati perilaku Kyuhyun yang berubah dari sikapnya kemarin malam.

Tangan Kyuhyun bergerak keatas dan membuka paksa cardigan hitam yang dikenakan Hye Ra tanpa melepaskan tautan bibirnya. Hal itu semakin membuat Hye Ra ketakutan dan air matanya semakin deras. Ia memukul mukul dada bidang Kyuhyun  dengan kedua tangannya tetapi hal itu sama sekali tak membuahkan hasil, malah Kyuhyun merebahkan tubuh Hye Ra diatas ranjang putih yang cukup besar itu.

Hye Ra berteriak di dalam bibirnya yang masih tersumpal oleh bibir tebal Kyuhyun. Tangannya terus memukul dada Kyuhyun dengan keras sampai pada akhirnya Kyuhyun membuka kedua matanya.

Ditatapnya lekat lekat wajah yang memerah dengan air mata yang mengalir deras dari kedua sudut mata Hye Ra. Terbesit sebuah rasa bersalah yang amat dalam dari pandangan Kyuhyun. Ia tak tahan menatap wajah tersiksa itu lagi, ia pun memutuskan untuk menyudahi menuruti bisikan setan itu.

Hye Ra menangis tersedu sedu sambil membangkitkan tubuhnya dari ranjang. Ia duduk di tepian ranjang sambil kedua tangan yang menutupi wajahnya. Kyuhyun hanya bisa melangkah mundur dengan air mata yang tak disadari telah muncul dari sudut matanya.

Sepintas ia merasa amat takut. Apakah hal ini akan membuat Hye Ra semakin benci padanya bukannya malah mengingatnya?

TBC

I Can’t Hate You, Cho Kyuhyun! ( It’s Your Baby ) Part 15

new 

Tittle               : I Can’t Hate You, Cho Kyuhyun! ( It’s Your Baby )

Author            : Hilyah Nadhirah / Shin Hye Mi

FB                   : www.facebook.com/hilyah.nadhirah

Twitter           : www.twitter.com/#!/HilyahNadhz

WordPress      : www.nadhzworld.wordpress.com

Genre             : Sad Romance

Rating             : PG-15          

Leight             : Chapter

Main Cast      : Cho Kyuhyun, Kim Hye Ra, Kim Jongwoon

Disclaimer      : Don’t Bash.. Don’t PLAGIARISM..

 

FF I Can’t Hate You, Cho Kyuhyun! ( It’s Your Baby ) Part 1-14 bisa langsung klik di

www.nadhzworld.wordpress.com

~ HAPPY READING!!! ~

 

 

 

BLAM..

Hye Ra menutup pintu kamarnya dengan kencang tepat sesaat setelah Kyuhyun keluar. Ia berjalan menuju ranjang dan duduk diatasnya. Diliriknya sekilas sebelum pada akhirnya mengambil nampan berisi segelas susu vanilla dan semangkuk buah buahan segar. Disuapnya satu persatu buah buahan yang tersaji dihadapannya.

“Mengapa kau terus saja berdegup?!” Hye Ra menaruh telapak tangannya di dada yang tengah berdegup kencang itu.

Ketika Hye Ra meletakkan mangkuk buah kembali keatas nakas, matanya menangkap sebuah benda yang cukup membuat Hye Ra penasaran.

Nuguya?

“Apakah dia yang bernama Cho Ah Ra itu? Neomu yeppeuda.

Hye Ra tersenyum menatap sebuah pigura yang membingkai foto wanita cantik berambut panjang itu.

“Dia mirip dengan Kyuhyun.” Matanya beralih menatap gambar seorang namja yang tengah duduk bersebelahan dengan yeoja di foto yang sama.

“Tetapi dimana dia sekarang?”

~Story Beginning~

 

 

 

Jam yang tergantung kokoh di dinding ruang makan itu masih menunjukkan pukul 07.00 pagi tetapi Hye Ra telah memulai aktivitas yang terbilang lumrah untuk seorang wanita. Memasak. Walaupun hanya membantu Nyonya Cho memotong sayuran. Ya, demi sopan santun, setidaknya Hye Ra harus mulai mencoba membiasakan dan berinteraksi dengan keluarga ini.

“Kau terlihat sangat terampil.” Senyum menggantung indah di bibir Nyonya Cho ketika menyampaikan pendapatnya kepada Hye Ra.

Ne?

“Kau terbiasa memasak.”

Hye Ra yang mendengar kalimat pujian itu hanya bisa melontarkan senyuman singkat sebelum kembali menundukkan kepalanya dan fokus pada beberapa sayuran dihadapannya yang masih dalam keadaan belum terpotong.

“Aku akan sangat lega jika Kyuhyun bersamamu. Setidaknya makanan dan asupan gizi bocah itu terjamin olehmu, Hye Ra.” Wanita bernama Hana, Cho Hana itu pun tergelak.

Hye Ra mengangkat kepalanya kembali dan menatap wanita paruh baya dihadapannya itu. Ia sama sekali tak tahu harus berbuat apa. Tak ada sedikit dorongan untuknya agar ikut menimpali gelakan tawa wanita 50 tahunan itu. Dalam pikirannya, ia sama sekali tak menemukan titik kelucuan dari ucapannya.

Eomma.” Suara sedikit berat itu sukses membuat dua orang wanita berbeda usia itu menolehkan kepalanya ke sumber suara.

Waeyo,Kyunie?”

Anni. Hanya ingin melihat pekerjaan seorang wanita.”

“Hhh~ sudahlah. Kau disini hanya mengacau saja. Tunggulah bersama Appa­-mu di halaman belakang.” Nyonya Cho tak membiarkan anak lelakinya itu berada di dapur dan ia langsung bertindak dengan mendorong pelan punggung Kyuhyun kearah pintu kaca yang menghubungkan dapur dan halaman.

Chakkaman, Eomma.” Kyuhyun menahan tubuhnya dengan berpegangan pada gagang pintu kaca tersebut.

Wae?

“Hye Ra, siang nanti. Bagaimana jika kita keluar? Temani aku berjalan-jalan.” Kyuhyun mengatakan dengan raut wajah dan tatapan yang serius.

“Aku…..”

“Aku tidak menerima penolakan. Ikut saja denganku atau aku akan mempercepat hari pernikahan kita.”

-oOo-

Balutan dress selutut berwarna salem dipadukan dengan flat shoes putih gading sangat terlihat indah melekat pada tubuh Hye Ra yang sempurna.

“Sebenarnya kita akan pergi kemana?” Tanya Hye Ra sambil melipat tangannya di depan dada saat tengah berdiri disamping Mercedes Benz hitam milik Kyuhyun.

“Jika kau ikut denganku, pasti kau akan mengetahuinya.” Kyuhyun tersenyum puas sambil membukakan pintu mobil untuk Hye Ra.

“Baiklah… Baiklah… Aku ikut denganmu.” Hye Ra mendudukkan kasar tubuhnya di jok mobil.

Assa!” Kyuhyun menutup pintu yang tadi dibukakan untuk Hye Ra dan langsung berjalan cepat melewati bagian depan mobilnya untuk mencapai pintu mobil di satu bagian lainnya.

Hye Ra tak berhenti menatap Kyuhyun yang tengah berjalan menuju pintu disisi kirinya dari balik kaca depan mobil. Entah apa yang membuatnya –lebih tepatnya hatinya- untuk tak berhenti mengkaitkan pandangannya kepada lelaki menyebalkan itu.

“Kau siap?”

Sontak Hye Ra tergagap dan memalingkan pandangannya keluar jendela. Sama sekali tak berniat untuk menjawab pertanyaan yang baru saja dilontarkan kepadanya itu.

“Aku akan pasangkan sabuk pengaman.” Kyuhyun mencondongkan tubuhnya kearah Hye Ra sambil tangannya bergerak menggapai sabuk pengaman.

Hye Ra tersentak dan langsung menoleh cepat.

DEG

Jarak wajah keduanya hanya berjarak sekitar 3 centimeter. Ditambah lagi dengan satu tangan Kyuhyun yang berada tepat di samping Hye Ra tengah memegang sabuk pengaman sehingga terlihat Kyuhyun tengah mengunci tubuh Hye Ra.

Hembusan nafas tak beraturan dari pernafasan keduanya saling menyapu permukaan kulit wajah satu sama lain, membuat sebuah sensasi tersendiri terasa.

“Aku… Aku bisa memasangnya sendiri.” Hye Ra memecah suasana keheningan dan juga menarik sabuk pengaman untuk di lingkarkan pada tubuhnya sendiri.

Kyuhyun membenahi duduknya ke posisi semula sambil berdehem canggung.

“Sebaiknya.. kita.. pergi sekarang.”

-oOo-

Jam telah menunjukkan pukul 12 siang dan itu berarti sudah waktunya untuk istirahat makan siang. Tetapi berbeda dengan sesosok namja berkacamata yang tengah sibuk dengan setumpuk map di atas meja kerjanya. Ia sama sekali tak berniat untuk menggeser sedikit pun tubuhnya apalagi untuk berdiri dan keluar ruangan hanya untuk sekedar mengganjal perutnya di cafeteria.

Dia Lee Donghae. Seorang dokter muda yang tengah disibukkan oleh beberapa laporan pasien-pasiennya. Beginilah rutinitasnya setiap hari sejak kurang lebih 1 bulan yang lalu. Semenjak Hye Ra pergi meninggalkannya dan terlebih lagi tanpa setitik kabar. Berulang kali Donghae mencoba mencari informasi tentang keberadaan dan keadaan Hye Ra saat ini tetapi berulang kali juga hasilnya nihil.

Keinginan Donghae untuk segera menyusul Hye Ra ke Korea sangat kuat. Andai saja pekerjaannya tak sebanyak ini, ia akan segera pergi ke Korea untuk memastikan semuanya baik-baik saja.

Oppa~” Suara sedikit cemprang itu terdengar seiringan dengan terbuka lebarnya pintu ruangan Donghae.

“Rae Mi?”

Muncul sesosok wanita bertubuh semampai di radar pandangan Donghae. Gadis bercelana jeans ketat dan juga hoodie putih yang membalut tubuh rampinya itu tengah berdiri di depan pintu yang baru saja terbuka akibat ulah tangannya itu.

“Ayo kita makan siang.”

“Tapi… aku….”

“Aku tahu Oppa sangat sibuk. Karena itu aku membawakan ini.” Potong gadis bernama Jung Rae Mi itu sambil mengangkat kedua tas berbahan kain yang dapat ditebak berisi kotak bekal.

“Rae Mi-yaa… Aku….”

“Ingin mengatakan aku tidak lapar? Kau sangat buruk dalam ber-acting, Oppa! Baru saja aku mendengar rontaan perutmu itu.” Rae Mi lantas tersenyum sambil menarik sebuah kursi tepat di hadapan Donghae.

Donghae hanya bisa mendengus dan melontarkan seulas senyum pada sesosok gadis yang dikenalnya hampir sebulan yang lalu itu. Sejauh ini dalam penilaiannya, Rae Mi adalah sesosok gadis yang ceria dan juga baik. Dan itu mampu membuatnya semakin merindukan Hye Ra. Karena sikap mereka sungguh mirip.

“Cobalah,Oppa. Aku membuatnya sendiri.” Rae Mi menyerahkan sepasang sumpit kearah Donghae.

Tersaji sekotak penuh kimbab dihadapan Donghae. Oke, dari segi penampilan mereka terlihat enak dan menggiurkan. Donghae pun mengarahkan sumpitnya kearah sebuah kimbab dan kemudian dimakannya dengan tempo kunyahan lambat.

‘Akhirnya aku menemukan perbedaan Rae Mi dan Hye Ra. Pada masakannya… tak ada yang bisa menandingi Hye Ra.’

Waeyo? Apa tidak enak?” Tanya Rae Mi sambil mencondongkan tubuhnya lebih mendekat kearah Donghae dan memasang wajah penuh harap.

Anniya. Ini enak. Hanya…”

Rae Mi berinisiatif untuk mencicipi masakannya sendiri. Diambilnya sepotong kimbab dengan sumpitnya sendiri.

“Asin!! Ini asin sekali!” Dengan cepat ditenggaknya air mineral yang ada di meja kerja Donghae.

“Mengapa Oppa tidak jujur? Seharusnya katakan saja jika ini tidak enak. Jangan memperlakukanku seperti anak kecil.”

Mianhae. Aku berkata seperti itu untuk menghargai jerih payahmu.”

“Bagaimana kalau kita makan siang diluar saja setelah pekerjaanku selesai?” Tawar Donghae.

“Baiklah.”

-oOo-

“Mengapa kau membawaku kemari?” Hye Ra mengedarkan pandangannya ke sekeliling bangunan megah dihadapannya.

“Tempat ini adalah awal dari segalanya.” Ujar Kyuhyun yang tengah berdiri disisi Hye Ra.

“Awal?”

Kajja.” Kyuhyun menggenggam erat telapak tangan Hye Ra dan membimbingnya untuk berdiri dan berjalan tepat disampingnya.

Hari ini Kyuhyun membawa Hye Ra kembali ke tempat awal mereka bertemu. Paran High School. Semua tempat awal dari segala kerumitan perasaan yang tengah terjadi diantara mereka. Kyuhyun berharap, dengan cara ini akan mengembalikan sedikit ingatan Hye Ra.

Kyuhyun tak mengerti tentang apa yang tengah ia rasakan didalam dadanya yang semakin terasa sesak. Ada rasa bahagia, takut, sedih, khawatir, dan menyesal yang bersarang di dalam hatinya. Bahagia, karena Hye Ra telah kembali berada didalam genggamannya. Takut, karena Kyuhyun sangat takut Hye Ra tak mampu mengingatnya dan menemukan rasa cintanya lagi. Khawatir, karena Kyuhyun khawatir Hye Ra akan mencoba pergi dan melepaskannya setelah mengingat segalanya. Menyesal, hal itu adalah perasaan paling mendasar yang tak perlu lagi di jelaskan penyebabnya.

Waegurae?” Kyuhyun menoleh akibat tangan yang tengah digenggamnya itu tiba tiba menjadi dingin.

N..ne?

“Sepertinya kau kedinginan”

Hye Ra mematung ketika tangan Kyuhyun dengan egoisnya menarik telapak tangannya yang tengah Kyuhyun genggam dan menyelorohkannya pada saku coat hitam yang dikenakan namja itu.

“Hangat?”

Hye Ra hanya menunduk tanpa membalas pertanyaan Kyuhyun untuk menutupi wajahnya yang mulai memanas dan pasti sebentar lagi akan muncul semburat merah di kedua pipinya.

Hye Ra selalu bingung dengan keadaan jantungnya beberapa waktu kebelakang ini. Selalu saja berdegup dengan kencang sampai sampai dirinya sendiri tak mampu mengendalikannya. Dan semuanya selalu saja mengarah disaat Kyuhyun berada didekatnya. Sudah hampir beberapa minggu ini.

-oOo-

Jongwoon tengah duduk termenung memandang kearah luar melalui jendela caffe miliknya. Disesapnya perlahan segelas cappucinno pada gelas porselen putih yang ada didalam genggamannya itu.

Diluar hujan turun rintik rintik dan semakin lebat. Titik titik air meluncur mulus jatuh ke tanah. Pikirannya kembali tersita dengan nama seseorang yang telah cukup lama tak singgah dipikirannya.

Cho Ahra. Ia kembali memikirkan nama wanita itu. Jongwoon menelesik jauh jalan hidupnya yang ternyata menemui titik bangkit ketika bertemu dengan Ahra. Ia bangkit dari cinta terlarangnya, yaitu mencintai Hye Ra yang tak lain adalah adiknya sendiri.

Setiap melihat hujan, setiap sesapan kopi, dan setiap duduk sambil menatap keluar jendela di kala sepi membuat Jongwoon teringat kembali sosok wanita yang mampu menarik perhatiannya itu. Dan juga…. Ia selalu kembali berharap Ahra akan datang kehadapannya.. datang menemuinya kembali.

Waktu berlalu dengan cepat. Tanpa disadari langit telah berubah menjadi gelap. Hujan pun telah reda dari setengah jam yang lalu dan juga cappuccino telah habis tak bersisa.

Tak dipungkiri, sebuah kerinduan terselip kembali.

-oOo-

Kyuhyun membuka pintu kayu jati yang menjadi sekat antara satu ruangan kelas dengan koridor.

“Masuklah.” Kyuhyun membalikkan tubuhnya dan menatap Hye Ra yang masih bingung dengan apa yang dilakukan Kyuhyun siang ini.

Hye Ra melangkahkan kakinya memasuki ruangan yang dipenuhi oleh meja dan kursi yang tertata rapi di dalamnya. Matanya terpikat oleh jendela besar yang terbuka lebar di sisi kiri ruangan kelas ini.

Bunga Cherry Blossom. Bunga berwarna merah muda khas musim semi itu tumbuh dengan rindangnya menjuntai kearah jendela kelas. Hal itulah yang mampu menyita perhatian Hye Ra.

“Aku tahu kau menyukai bunga Cherry Blossom.”

Hye Ra berbalik dan mendapati Kyuhyun tengah duduk di kusen jendela sambil menatap lekat kedua manik matanya. Sebuah senyum terkembang penuh arti menghiasi bibir penuh nan indah itu.

“Aku tahu kau suka memandangi Cherry Blossom merekah di pagi hari, dan menatapnya di siang hari dibawah siraman cahaya matahari. Kau sering mengatakan bahwa Cherry Blossom akan lebih indah jika di pandang disaat matahari membuatnya terlihat lebih berkilau di siang hari.”

“Aku… aku pernah mengatakannya?”

“Kau selalu mengatakan hal itu padaku disaat saat seperti ini.”

“Seperti ini?”

“Ya, disaat kau dan aku tengah duduk berhadapan di jendela besar ini.”

“Aku mengatakannya…padamu?” Raut wajah Hye Ra tampak menyimpan sebuah tanda tanya besar atas ucapan Kyuhyun.

“Cantiknya Cherry Blossom, terangnya cahaya matahari yang menyinarinya, indahnya musim semi. Semuanya tidak ada artinya hari ini….. karena ada yang lebih dan paling cantik, bersinar, dan indah dari segalanya. Dirimu.” Setangkai bunga Cherry Blossom yang telah merekah sempurna saat ini tengah berada tepat dihadapan Hye Ra.

Kyuhyun tersenyum tipis sambil menunggu reaksi wanita dihadapannya. Sercerca harapan masih dibawanya dalam keteguhan hati akan kembalinya semua bagian yang tengah hilang dari wanita yang dicintainya itu.

Dengan mengutarakan kata kata yang sama persis dengan apa yang telah ia ucapkan disaat menyatakan perasaannya beberapa tahun lalu, ia berharap Hye Ra akan mengingat kenangan mereka perlahan seiring berjalannya waktu.

“Kata katamu….. seperti tidak asing di telingaku.”

-oOo-

            “Ji Yoon-aah.”

Waeyo?”

Seorang lelaki dan wanita tengah duduk saling berhadapan ditemani dengan secangkir teh yang tersuguh dihadapan masing masing.

“Kira kira sudah berapa lama kita tak bertemu?”

“Mmm. Kurasa 5 tahun.”

“Benar juga. Kita terakhir bertemu saat akan masuk SMA.”

“Ya, sebelum kau memutuskan untuk ikut ke London bersama kedua orangtuamu.”

Goo Jun Hee, lelaki tampan yang tengah bercengkrama hangat dengan Ji Yoon –sahabat masa kecilnya-

“Mengapa baru kembali sekarang?” Lanjut Ji Yoon.

“Apa kau merindukanku?”

“Aissh. Bukan begitu.”

“Kukira kau merindukanku seperti aku merindukanmu.”

Ne?”

“Ya, aku merindukanmu. Ji Yoon-aah.” Lanjut Jun Hee dengan nada serius.

Mendadak suasana menjadi hening dan aura kecanggungan menyeruak. Ji Yoon sibuk menatap kedua manik mata lelaki dihadapannya itu, berharap dapat menemukan sebuah gurauan dari sorot matanya.

“Oh ya, bagaimana dengan bisnismu di London, Jun-aah?”

“Keberuntungan selalu memihak pada kami.”

“Cih.. sombong sekali.” Cibir Ji Yoon.

“Lalu, bagaimana kehidupanmu 5 tahun belakangan ini?”

Ji Yoon terdiam sejenak memikirkan sebuah jawaban yang akan ia berikan untuk pertanyaan sahabatnya itu. Karena tak mungkin ia mengatakan 5 tahun kebelakang ini kehidupannya penuh dengan kata pembalasan dendam.

“Baik baik saja. Walaupun konsep roda kehidupan itu tetap ada.”

“Kau mempunyai seseorang yang kau cintai?”

Lagi lagi bagaikan latihan ketahanan jantung, pertanyaan Jun Hee membuat jantungnya berdegup tak teratur.

“Aku… aku…”

Ji Yoon tak tahu harus menjawab apa. Ia bingung apakah hati penuh dendam ini masih layak untuk mempertahankan Kyuhyun atau tidak.

“Tak apa. Tenang saja, tidak usah dianggap serius.”

“Hmm. Baiklah.”

“Tetapi…. Apakah boleh…”

“Apa?”

“Aku mencoba mencintaimu?”

-oOo-

“Hyunie.. kemarilah.” Nyonya Kim merentangkan kedua tangan untuk menggapai cucunya itu dan mendudukkan ke atas pangkuannya.

Halmeoni… Hyunie ingin bertemu dengan eomma.” Rajuk Hyun Hae.

“Baiklah, tetapi hari ini samchon-mu masih sibuk di caffe.”

Tiba tiba Hyun Hae termenung seperti tengah memikirkan sesuatu.

“Apa boleh Hyunie bertanya?”

“Katakanlah.”

“Apa benar eomma akan menikah dengan samchon itu?”

“Kyuhyun?”

“Iya.”

“Benar. Eomma-mu akan segera menikah dengan Kyuhyun. Memangnya ada apa, Hyunie?”

“Tapi Hyunie tidak mengenalnya. Bagaimana kalau ternyata samchon itu ingin menculik eomma dari Hyunie.”

“Hahahaha. Kau polos sekali, Sayang. Kyuhyun tak mungkin menculik eomma­-mu. Bahkan dia sangat mencintai eomma-mu.”

“Tetapi eomma tidak mencintainya, halmeoni. Hyunie tahu.”

“Mengapa?”

“Karena eomma hanya mencintai appa.”

Appa?

-oOo-

Kyuhyun dan Hye Ra tengah duduk pada sebuah bangku kayu di tepian Sungai Han. Mata mereka dimanjakan dengan semburat indah berwarna kekuningan yang terbias sempurna di langit Kota Seoul sore ini.

“Aku masih tak mengerti mengapa kau membawaku ke tempat tempat yang bahkan aku tak pernah mengunjungi sebelumnya.” Ujar Hye Ra dengan mata yang tetap menatap langit.

“Aku ingin kau mengingatnya. Jadi berusahalah.”

“Apa hubungannya denganku? Untuk apa aku mengingat hal hal seperti itu?”

“Lakukanlah saja. Rangkai kembali untaian kenangan yang pernah kau lepaskan.”

Sedari tadi Kyuhyun memperhatikan wajah Hye Ra dengan lekat dari samping. Ditatapnya setiap anak rambut yang berterbangan dan sesekali menerpa wajah lembutnya.

“Tetapi apapun alasannya itu… aku tetap berterimakasih padamu. Entah apa dan mengapa hari ini aku benar benar merasa bahagia.”

Gumawoyo, Kyuhyun-ssi.

Hye Ra menoleh dan mendapati Kyuhyun tengah menatapnya. Sesuai dugaan, hatinya kembali berdesir. Setiap tatapan itu terkunci padanya. Selalu.

“Aku akan bersabar menunggumu merangkai kembali semuanya.”

“Sungguh aku masih teramat bingung dengan semua permintaanmu yang menyuruhku untuk mengingat sesuatu.”

“Lakukan saja dan kau akan mengerti nantinya.”

Hye Ra menyesap lagi minumannya dan mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun.

“Jadi kumohon, tetaplah disisiku sampai kau benar benar mengerti tentang semuanya. Jangan pergi meninggalkanku.”

-oOo-

Donghae duduk di tepian ranjangnya dengan mata yang menerawang jauh menembus langit langit kamar.

“Aku merindukan kalian.”

Sekelebat bayangan Hye Ra muncul dalam benaknya. Hal itu mampu menggenapi setiap rasa rindu yang selama ini selalu dirasakannya. Telah berminggu-minggu dengan setiap harinya ia jalani tanpa Hye Ra dan Hyun Hae. Tanpa ada kabar sedikitpun.

Sepi. Setiap malam hanya hembusan angin menusuk kulit yang menemani dan akhirnya memaksa Donghae untuk terlelap meski sama sekali tak terasa nyenyak. Karena ia terus saja memikirkan Hye Ra. Ia takut bahkan sangat takut wanita itu tak akan kembali padanya. Ia takut Hye Ra akan kembali terjerat pada masa lalunya dan tak bisa melepaskan diri lagi.

“Aku harus memperjuangkanmu, Kim Hye Ra.”

Ego seorang Lee Donghae pun muncul. Dengan tatapan tajam yang terkesan mengintimidasi apapun yang tengah di tatapnya saat ini ia mengucapkannya dengan tegas dan mantap.

“Aku tak akan mengalah lagi dengan waktu.”

-oOo-

            “Ada apa sehingga kau kemari pagi-pagi, Ji Yoon-aah?” Ujar seorang lelaki paruh baya yang tengah duduk di balkon kamarnya.

“Aku ingin menjenguk Appa. Apa tidak boleh?” Jawab Kang Ji Yoon sambil meletakkan tas jinjingnya ke meja dan mendudukan tubuhnya tepat di samping Tuan Kang.

“Bukan begitu. Hanya saja tumben sekali kau ada waktu luang.”

“Setidaknya aku tak ingin mati karena terlalu berkutat dengan pekerjaan berat itu.”

“Apa kau hidup dengan baik?”

“Seperti yang Appa lihat. Aku baik baik saja.”

Memang selama ini Ji Yoon tinggal terpisah dengan kedua orangtuanya semenjak menjadi CEO. Ia memilih untuk tinggal di apartement dekat perusahaan miliknya.

Dan saat ini ia baru sempat untuk menjenguk sang ayah yang kesehatannya tengah menurun. Maksud kedatangannya tak sekedar untuk mengunjungi dan melepas rindu pada kedua orangtuannya, tetapi juga untuk menanyakan suatu hal yang terdengar remeh tetapi mampu membuatnya terus teringat ingat.

Appa…

“Hmm….”

“Ada satu hal yang ingin kutunjukkan dan kutanyakan.”

“Apa?”

Ji Yoon mengambil tas jinjingnya dan mencari sesuatu di dalamnya.

Ige…

Ji Yoon menyerahkan selembar foto hitam putih yang ditemukannya di loker meja kerja tempo hari.

“Dimana…. Dimana kau menemukan foto ini?”

“Di loker meja kerja.”

Tuan Kang terdiam dan menatap selembar foto itu tanpa berkedip.

“Jika salah satu dari kedua gadis itu adalah aku, lantas siapa gadis yang tengah berfoto denganku?”

-oOo-

Donghae mengenakan kacamata hitamnya dan melangkah keluar dengan menggeret sebuah koper berukuran sedang di tangan kanannya. Sedangkan pada tangan kirinya terdapat selembar tiket pesawat tujuan Seoul. Ia berjalan menuju kea rah sebuah taxi yang telah menunggu di luar.

Ya, inilah langkah yang telah dipilihnya. Ia akan memperjuangkan cintanya berarti ia harus menyusul Hye Ra ke Korea. Tekadnya sudah bulat, tak ada secuil keraguan lagi dengan apa yang telah dipilihnya.

“Kita berangkat sekarang.” Ujar Donghae pada supir ketika telah berada di dalam taxi.

Selama perjalanan, Donghae hanya diam termenung menatap keluar jendela. Hatinya benar benar tak sabar untuk segera tiba di Korea dan segera menemui Hye Ra.

Drrt.. Drrt..

Ponsel Donghae pun bergetar. Ia pun segera menyelorohkan tangan kedalam saku celana jeans yang dikenakannya.

From : Jung Rae Mi

Oppa.. eodiseo?

Dengan cepat Donghae menjawab pesan gadis yang dianggapnya sebagai adik itu.

To: Jung Rae Mi

            Aku dalam perjalanan ke bandara. Aku akan ke Seoul hari ini.

Donghae memasukkan kembali ponselnya kemudian memilih untuk menyandarkan kepala pada headboard mobil.

‘1 jam lagi, Lee Donghae. 1 jam lagi kau akan berada di Seoul. Persiapkanlah dirimu.’

 

-oOo-

06.30 TKY, Tokyo Airport

Donghae menatap papan boarding yang ada dihadapannya sambil sesekali mencocokkan jadwal penerbangan yang ada di tiket pesawat. 10 menit lagi pesawat yang akan membawanya kembali ke Seoul akan lepas landas. Donghae pun berjalan kearah pintu boarding.

OPPA! CHAKKAMAN!!”

Donghae menoleh kebelakang dan mendapati sesosok gadis yang dikenalnya tengah berlari sekuat tenaga kearahnya.

“Rae Mi?”

GREPP…

Donghae hampir saja jatuh jika tak mampu menahan tubrukkan keras yang menimpa tubuhnya. Sebuah pelukan yang sangat erat dirasakannya melalui lingkaran lengan gadis itu.

Kajjima…

“Rae Mi-yaa. Waeguraeyo?”

“Jangan meninggalkanku, Oppa..

Donghae menatap dengan lekat wajah Rae Mi yang telah memerah ditambah lagi mata sembabnya yang terus mengeluarkan airmata.

“Ada apa denganmu? Mengapa menangis seperti ini?”

Oppa.. jangan tinggalkan aku.”

“Tetapi aku ada hal penting di Seoul.”

“Hal penting apa? Mengejar kekasihmu?!” Nada bicara Rae Mi menjadi sedikit membentak.

“Hei. Ada yang salah dengan dirimu?”

Tiba tiba terdengar suara wanita dari speaker dan mengatakan bahwa pesawat yang ditumpangi Donghae akan lepas landas beberapa menit lagi.

“Maaf aku harus pergi sekarang. Ige… hapus airmatamu.” Donghae mengulurkan sebuah saputangan kehadapan Rae Mi.

Donghae membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju pintu boarding sedangkan Rae Mi hanya mampu menatap punggung namja itu sampai menghilang di balik pintu.

“Kau meninggalkanku.” Rae Mi menghempaskan saputangan Donghae ke lantai dan langsung berlari dengan keadaan masih menangis.

Rae Mi juga merasakan ketakutan yang sama. Ia takut lelaki yang susah payah di dekatinya akan terlepas dari genggamannya. Ia takut lelaki yang dicintainya itu akan kembali pada masa lalunya. Ia takut dan juga bingung. Apakah dia berhak mencintai dengan hati yang seperti ini?

TBC

I Can’t Hate You, Cho Kyuhyun! ( It’s Your Baby ) Part 14

 new

Tittle               : I Can’t Hate You, Cho Kyuhyun! ( It’s Your Baby )

Author            : Hilyah Nadhirah / Shin Hye Mi

FB                   : www.facebook.com/hilyah.nadhirah

Twitter           : www.twitter.com/#!/HilyahNadhz

WordPress      : www.nadhzworld.wordpress.com

Genre             : Sad Romance

Rating             : PG-15          

Leight             : Chapter

Main Cast      : Cho Kyuhyun, Kim Hye Ra, Kim Jongwoon

Disclaimer      : Don’t Bash.. Don’t PLAGIARISM..

 

FF I Can’t Hate You, Cho Kyuhyun! ( It’s Your Baby ) Part 1-13 bisa langsung klik di

www.nadhzworld.wordpress.com

~ HAPPY READING!!! ~

 

 

 

“ Hye Ra, tatap aku!.” Kyuhyun menangkup wajah Hye Ra dengan kedua tangannya. Memang terkesan pemaksaan, tetapi hanya dengan cara inilah agar ia mau menatap Kyuhyun.

Hye Ra tertegun menatap mata bermanik cokelat yang tengah menghunus kedua bola matanya dengan tatapan tajam tanpa sela kedipan sedikitpun.

“ Katakan padaku kau mengenalku sebelumnya.”

Hye Ra terdiam. Kepalanya berdenyut denyut menyebabkan rasa sakit yang merambat di setiap bagiannya. Nafasnya berubah menjadi tersengal sengal. Peluh juga mengucur dari kedua pelipisnya. Kulitnya juga menjadi sedingin es.

“ Katakan padaku jika kau mengenalku, kau pernah mencintaiku, dan katakan sejujurnya jika Hyun Hae….”

“ CUKUP!” Hye Ra memegangi kepalanya yang semakin terasa tengah mencabik cabik dan menghantam tempurung kepalanya. Di acaknya rambut yang sebelumnya tertata rapi menjadi berantakan.

Bulir bulir air mata berjatuhan dengan cepat sejalan dengan peluh yang semakin mengucur membasahi pelipisnya. Rasa sakit yang menggerogoti kepalanya seperti hendak membunuhnya saat ini juga. Rasa sakit itu datang ketika Hye Ra mulai memikirkan setiap ucapan Kyuhyun.

“ Cukup. Jangan lanjutkan……”

BRUK

Tubuh Hye Ra terhuyung kedepan tepat berada di dalam pelukan Kyuhyun. Tubuh Hye Ra yang tak sadarkan diri begitu lunglai dan lemah.

“ Hye Ra….”

Eomma!!

~Story Beginning~

 

Suasana penuh ketegangan begitu terasa saat ini, dimana kedua keluarga yaitu keluarga Cho Kyuhyun dan keluarga Kim Hye Ra tengah berada di depan ruang Unit Gawat Darurat di Seoul International Hospital.

Semua menunjukkan satu ekspresi yang tak jauh beda. Raut wajah cemas. Tak terkecuali Hyun Hae. Bocah kecil itu malah menangis sejadi-jadinya didalam gendongan Jongwoon. Bagaimana tidak, belum sempat rasa trauma disaat Hye Ra tertabrak beberapa waktu lalu itu menghilang, ia sudah harus kembali melihat eomma yang paling disayanginya kembali tak sadarkan diri.

Tetapi diantara semuanya, Kyuhyun-lah yang paling gelisah. Semenjak Hye Ra masuk ke dalam ruang Unit Gawat Darurat satu jam yang lalu, ia sama sekali tak bisa tenang. Kyuhyun tak berniat sedikit pun untuk mendudukkan tubuhnya diatas kursi tunggu.

Tak lama kemudian pintu putih itu terbuka, keluarlah seorang pria paruh baya ber-jas putih dan juga seorang wanita dengan map berisi berkas kesehatan ditangannya.

Uissanim. Bagaimana keadaannya?” Kyuhyun langsung berdiri dihadapan dokter berkacamata itu dan langsung bertanya tentang perkembangan keadaan Hye Ra dengan nada menuntut.

Dokter itu pun tersenyum sambil memegang kedua pundak Kyuhyun.

“Tenanglah. Dia baik-baik saja. Keadaannya hanya sedang terguncang saja.”

Bahu yang sedari tadi menegang akhirnya mengendur juga seiring dengan hembusan nafas penuh kelegaan.

Gamshamnida, Uissanim.” Kali ini giliran ayah Hye Ra yang angkat bicara meskipun hanya mengucapkan kata terimakasih. Karena pertanyaan yang ingin ditanyakan sudah diwakilkan oleh Kyuhyun.

Tubuh Kyuhyun melemas dan langsung terduduk diatas kursi tunggu. Disandarkan punggung dan kepalanya pada sandaran kursi. Dihela nafas panjang dan dikeluarkan secara perlahan diiringi dengan pejaman mata erat.

“Tenanglah, Kyu.” Nyonya Kim mengelus lembut bahu Kyuhyun.

“Saya hanya takut terjadi sesuatu pada Hye Ra.”

“Dia wanita yang kuat. Percayalah.”

-oOo-

 

Dua hari berlalu dan Hye Ra telah membuka kembali matanya pagi ini. Hyun Hae tak mau berjauhan dari Hye Ra, ia ingin selalu memastikan keadaan eomma-nya baik baik saja disampingnya

Eomma harus janji pada Hyun Hae tidak pingsan lagi.” Kata Hyun Hae sambil memainkan jemari-jemari Hye Ra disampingnya.

Ne, Chagi-yaa.” Hye Ra terkikik geli menatap Hyun Hae yang tengah memasang wajah serius.

“Siapa samchon itu, Eomma?

Hye Ra tersentak disaat Hyun Hae memalingkan wajah menatap kearahnya. Mata Hyun Hae begitu tajam bagai menghunus manik matanya. Jujur saja, selama 3 tahun ini tak pernah sekali pun Hyun Hae memasang ekspresi sedingin itu.

Wa…Waeyo, Hyunie?” Mendadak Hye Ra tergagap.

“Hyunie membencinya.” Hyun Hae menekankan intonasinya pada setiap kalimat yang terlontar.

“Membencinya?”

“Hyunie sangat sangat sangat membencinya. Samchon itu yang membuat Eomma pingsan. Samchon itu juga ingin merebut Eomma dari Appa.”

“Bagaimana….Hyunie…”

“Hyunie bertanya pada Jongwoon Samchon tentang apa itu perjodohan.”

“Hyunie…..”

-oOo-

Kyuhyun berjalan tergesa-gesa melewati lorong rumah sakit. Langkah lebarnya menjengkal setiap belasan centi lantai yang terbuat dari marmer itu. Tangannya juga sibuk melipat kemeja putih yang dikenakannya sampai batas siku. Terlihat raut wajah kusut bercampur lelah yang tergambar.

Memang, setelah mendengar kabar bahwa Hye Ra telah sadarkan diri, Kyuhyun langsung meninggalkan pekerjaannya yang menumpuk dan membuatnya pusing itu. Percuma saja jika ia terus melanjutkan pekerjaan kantornya itu jika seluruh pikirannya tersita dan hatinya berdebar untuk cepat-cepat menemui Hye Ra.

Saat ini langkahnya terhenti tepat di depan pintu dengan plat besi menempel bertuliskan angka tiga digit yaitu “225”. Sejenak waktu digunakannya untuk menghela nafas kemudian diputarnya perlahan knop pintu yang menyebabkan suara decitan pelan terdengar.

Dilangkahkan kakinya perlahan saat memasuki ruangan yang di dominasi dengan warna putih itu. Dalam radius 2 meter dilihatnya dari sekat dinding pembatas yang memang terdapat pada ruangan itu, seorang wanita tengah duduk diatas ranjang dengan bantal yang menyangga punggungnya.

Sepertinya wanita itu tak menyadari kehadiran Kyuhyun di dalam ruangan yang sama dengan dirinya karena pusat perhatian wanita bernama Kim Hye Ra itu tengah tersita oleh sebuah novel yang di bacanya.

“Bagaimana…..kabarmu?” Tanya Kyuhyun dengan lirih.

Hye Ra tersentak kaget. Sontak ia mengangkat kepalanya dan dengan cepat menutup novel tebal bersampul biru itu.

“Mau apa kau kemari?” Tergambar kilatan-kilatan penuh amarah dari kedua bola mata Hye Ra.

“Hanya…memastikan kau baik-baik saja.”

“Cih..” Hye Ra tersenyum sinis sambil memutar bola matanya.

“Apa kau sangat membenciku?” Kyuhyun menarik kursi disamping ranjang Hye Ra dan duduk diatasnya.

Hye Ra tak menjawab dan malah membuang tatapannya keluar jendela.

“Maafkan aku, Hye Ra. Aku tahu kesalahanku di masa lalu memang sangatlah fatal. Dan pasti tak akan mudah untuk dirimu untuk memaafkanku. Tetapi cobalah untuk menerimaku, Hye Ra.”

“Kesalahan masa lalu? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Aku mohon jangan mengada-ada, Kyuhyun-ssi.”

“Sudahilah permainanmu, Hye Ra. Jangan terus menyiksaku begini.”

“Menyiksa bagaimana? Aku bicara jujur. Aku tak pernah bertemu apalagi mengenalmu sebelum acara perjodohan konyol itu.” Hye Ra meninggikan intonasi suaranya.

“Apa kau tak ingat?? Kita pernah bersama sebelumnya. Sebelum kau memutuskan untuk pergi ke Jepang.”

“Hahaha. Bagaimana pernah bersama jika sebelumnya kita tak saling kenal?” Hye Ra tertawa hambar.

“Tatap aku. Kau…. tidak amnesia, bukan?” Kyuhyun menggenggam jemari Hye Ra erat dan menatap wanita itu tajam.

“Amnesia?”

“Aku akan memastikannya sendiri.” Kyuhyun melepaskan genggamannya dan langsung beranjak pergi keluar ruang perawatan Hye Ra.

-oOo-

 

Kyuhyun duduk dengan gelisah. Diremasnya kedua telapak tangan yang saling bertautan itu untuk menyalurkan kegundahannya. Matanya tak bisa lepas dari sosok Hye Ra yang tengah menjalani pemeriksaan CT-Scan.

Jantungnya berdegup dengan kencang. Aliran darah terasa berdesir dan mengalir deras ke seluruh bagian tubuhnya. Kyuhyun ingin cepat-cepat mendapatkan sebuah kepastian tentang kondisi Hye Ra saat ini. Tentu saja kabar baik yang ingin ia dengarkan langsung dari mulut dokter. Karena hal itu yang mampu mengembalikan dan membuat Kyuhyun kembali bernafas dengan normal.

Kyuhyun refleks menegakkan duduknya ketika dokter yang sedari tadi memeriksa Hye Ra kembali duduk dihadapannya.

“Bagaimana…keadaannya, Uissa?”

Terlihat dokter itu tengah fokus membaca hasil laporan pemeriksaan ditangannya sambil membenahi kacamata yang menggantung dibatang hidungnya.

“Nona Kim……” Dokter itu menggantungkan kalimatnya dan menutup map berisi berkas laporan.

Dalam jeda waktu tersebut, detakan jantung Kyuhyun semakin menjadi-jadi. Sempat terpikirkan bagaimana jika Hye Ra benar-benar amnesia. Tetapi cepat-cepat ditepisnya pikiran negative itu. Bukankah disaat seperti ini dibutuhkan pengharapan dan pikiran positive?

“ Bagaimana….”

“Nona Kim mengalami amnesia.”

Bagai tersambar petir disiang hari, tubuh Kyuhyun langsung melemas. Lemah, bagai tak ada tulang yang menopang dirinya lagi. Sekarang pikiran buruk itu telah menjadi kenyataan.

“Tetapi… bagaimana bisa? Dia masih mengingat yang lain.”

“Jenis amnesia yang dialami Nona Kim adalah jenis amnesia parsial.”

“Amnesia parsial?”

“Ya. Hilang ingatan yang hanya menyangkut satu orang. Mungkin orang itu adalah orang yang selalu diingatnya atau mungkin juga adalah orang yang menyebabkan sebuah traumatik dalam diri pasien sehingga pasien tidak bisa melupakannya.”

“Berapa lama…. Berapa lama sampai Hye Ra bisa mendapatkan ingatannya kembali?”

“Dalam jangka waktu 3 bulan atau bisa jadi…. Ingatannya tidak akan pulih kembali. Selamanya.”

Mendadak kepala Kyuhyun terasa begitu nyeri. Ia benar-benar pening mengetahui kenyataan ini. Bagaimana jika Hye Ra tidak akan mengingat kenangan masa lalunya? Apakah harus Kyuhyun memulainya dari awal. Tetapi hal itu sedikit susah mengingat Hye Ra mulai menunjukkan rasa ketidaksukaannya kepada Kyuhyun.

“Baiklah. Gamshamnida, Uissanim.” Kyuhyun pun berdiri dan sedikit membungkukkan tubuhnya kearah dokter dihadapannya.

Hye Ra telah duduk diatas kursi rodanya saat keluar dari balik tirai pemeriksaan. Ia menatap Kyuhyun dengan tatapan bingung.

“Ada apa dengan wajahmu itu?” Tanya Hye Ra dingin.

Eobseo.” Jawab Kyuhyun lirih sambil kedua tangannya bergerak mendorong kursi roda Hye Ra perlahan.

“YA! Apa yang kau lakukan? Aku bisa sendiri.” Hye Ra sedikit memutar tubuhnya untuk memukul punggung tangan Kyuhyun agar ia melepaskan tuas pendorong itu.

Tetapi sama sekali tak digubris segala macam bentuk protes Hye Ra. Tetap saja di dorongnya sampai pada satu sudut lorong yang sepi, Kyuhyun menghentikan laju kursi roda itu. Ia berjalan memutari kursi roda dan berhenti tepat di hadapan Hye Ra dan menekuk lutut untuk mensejajarkan tinggi badannya. Tangan kanan pria itu pun terulur.

“Namaku Cho Kyuhyun. Senang bertemu dan berkenalan denganmu Nona…..”

“Hhh~ apa-apa’an ini? Kau sangat konyol. Jangan-jangan kau yang mengidap amnesia.” Hye Ra hanya mendengus tanpa berniat untuk menyambut uluran tangan Kyuhyun dan malah melipatnya tepat didepan dada.

“Boleh aku tahu namamu?” Kyuhyun tak menjawab dan tak menanggapi cercaan Hye Ra yang dilontarkan padanya.

“Sebenarnya apa yang salah dengan otakmu itu?! Bukankah kau sudah tahu namaku adalah Kim Hye Ra?”

“Baiklah Nona Kim Hye Ra…” Kyuhyun tersenyum simpul.

Entah dorongan apa yang membuatnya semakin mendekat kepada Hye Ra. Ditatapnya kedua mata bulat wanita yang sangat dirindukannya itu dalam dalam. Sapuan nafas setengah tercekat yang dikeluarkan Hye Ra dari hidungnya itu bergerak lembut membelai dan menyapu permukaan wajah Kyuhyun.

Mw…Mwo?!

“Mari kita mulai semuanya dari awal.”

CUP..

Hye Ra menegang disaat sebuah benda kenyal nan lembab menempel pada dahinya. Lama. Anehnya sama sekali ia tak bisa berbuat apa-apa dan tak bisa menolak. Ia tak bisa berteriak, jangankan berteriak, mengeluarkan suara pun rasanya sangat susah. Detakan jantung yang kencang itu membuat semua jalan pikiran logisnya menjadi kacau.

‘Sepertinya… aku pernah merasakan ini… sebelumnya.’

-oOo-

 

Tokyo, Japan

Donghae memasuki sebuah caffe saat pergerakan jarum jam pada arlojinya sudah menunjukkan pukul 12 siang. Ia sengaja tidak makan siang di cafeteria rumah sakit seperti hari-hari sebelumnya. Entahlah, mungkin ia jenuh. Memang semenjak beberapa minggu hidup sendiri, Donghae menjadi mudah jenuh terhadap apapun.

“Aku pesan Moccacino dan Honey Butter Bread saja.” Ujarnya saat berhadapan dengan salah satu pelayan caffe.

            “Baik, Tuan.”

Donghae pun berjalan menuju meja di sudut ruangan. Ia duduk pada kursi yang tepat berada di samping jendela. Ditatapnya pemandangan yang terkesan membosankan dibalik jendela kaca itu. Banyak sepasang muda-mudi yang tengah berjalan beriringan sambil mengamitkan kedua tangan mereka satu sama lain. Benar-benar pemandangan yang buruk baginya.

“Bolehkah aku duduk disini? Meja yang lain sudah penuh.”

Donghae yang tersadar dari lamunannya langsung mendongakkan wajahnya ke sumber suara.

Sesosok yeoja dengan balutan coat casual berwarna coklat muda dan juga hotpans yang hampir tak terlihat akibat tertutup coat-nya itu terlihat cocok melekat dengan kaki jenjang juga mulusnya.

“Baiklah. Silahkan.”

“Terimakasih.” Ujar yeoja itu sambil meletakkan nampan berisi chesse cake dan juga chocolate milkshake.

Donghae tersenyum singkat sebelum pada akhirnya memutuskan untuk kembali memandang keluar jendela. Walaupun objek yang dilihatnya masuk dalam kategori sangat membosankan.

“Maaf, apa benar kau alumni Universitas Tokyo?”

“Benar. Ada apa?” Donghae mau tak mau harus kembali memfokuskan pandangan pada yeoja dihadapannya.

“Ahh ternyata dugaanku benar. Aku juga mahasiswi disana. Jurusan Management.”

“Benarkah?”

Gadis berparas cantik itu pun mengangguk sambil menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga.

“Lee Donghae-ssi? Jurusan kedokteran?”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Hahaha. Seluruh kampus pasti mengenal orang seperti dirimu. Pria yang menyabet gelar dokter di usia muda. Terlebih lagi mempunyai pesona dan ketampanan yang melebihi batas.” Ujar gadis itu sedikit tergelak.

“Apa aku se-popular itu?”

Gadis berambut coklat gelap itu tersenyum sambil terus mengaduk-aduk chocolate milkshake-nya dengan sedotan.

“Ahh.. aku sudah mengenalmu tetapi kau belum mengenalku, bukan?” Yeoja itu seketika mengangkat kepalanya menjadi berhadapan dan beradu pandang dengan Donghae.

Donghae hanya bisa mengangguk pelan.

“Perkenalkan, aku juga teman sebangsa-mu…..” Gadis itu mengulurkan tangan kanannya. Donghae pun mengulurkan sebelah tangannya untuk menyambut tangan gadis itu.

“Jung Rae Mi.”

-oOo-

Hye Ra memasukkan bulgogi ke dalam mulut dan kemudian mengunyahnya perlahan. Malam ini ia beserta keluarganya tengah berada di kediaman keluarga Cho. Mereka mengadakan pesta kecil-kecilan untuk menyambut Hye Ra yang baru saja keluar dari rumah sakit setelah seminggu berada dibawah perawatan dokter.

Disaat yang lain telah tenggelam dalam obrolan masing-masing, Kyuhyun masih betah menatap wajah Hye Ra dihadapannya. Mata Hye Ra membulat ketika menyadari bahwa dirinya telah dijadikan objek utama untuk kedua mata Kyuhyun. Hal tersebut membuat pria itu tak dapat menahan senyum mendapati ekspresi menggemaskan yang tersuguh jelas dihadapannya.

“Kami sudah memutuskan…….” Seru Nyonya Cho yang mengakibatkan Kyuhyun melepaskan pandangannya dari Hye Ra.

“Memutuskan apa, Eomma?

Nyonya Cho hanya tersenyum memandang kearah anak bungsu yang telah menjadi anak semata wayangnya. Tersimpan sebuah misteri di dalam senyuman yang tersungging di bibir wanita separuh baya itu.

“Hye Ra akan tinggal dirumah ini mulai malam ini.”

MWO?!

Waeyo,Ra-yaa? Bukankah kau harus menyesuaikan diri terlebih dahulu sebelum pada akhirnya akan menikah dengan Kyuhyun?” Nyonya Kim ikut menimpali ketika mengetahui anak bungsunya akan menyangkal.

“Tapi…Eomma…Aku…”

“Kau bisa menggunakan kamar Ah Ra. Barang-barangmu sudah di tata di dalamnya.”

“Tapi….”

“Kau mengkhawatirkan Hyun Hae? Tenang saja, kami akan menjaganya dengan baik dan juga sering-sering membawanya kemari.” Tuan Kim tersenyum tulus menatap anak gadisnya itu.

“Kau setuju ‘kan, Kyuhyun?”

Ne?” Kyuhyun tersadar dari fantasinya sendiri.

“Kau setuju Hye Ra tinggal bersama kita?”

Kyuhyun sama sekali tak menjawab. Ia hanya menunjukkan sesimpul senyuman dan semua pun tahu apa artinya.

-oOo-

Terlihat sesosok wanita cantik juga anggun tengah duduk sambil membaca beberapa laporan yang baru saja diberikan oleh sekertaris pribadinya. Setiap baris kata di lembar demi lembar kertas digenggamannya itu tak luput dari perhatian.

“Dimana pena-ku?” Ujar wanita itu bermonolog.

Disingkirkan tumpukan tumpukan map yang mulai berserakan diatas meja kerjanya hanya untuk mencari sebuah pena.

“Ahh~ Mollayo!” Setelah lama mencari dan tak membuahkan hasil, akhirnya ia pun menyerah. Dibukanya loker yang ada tepat dibawah meja kerjanya dan diambilnya sebuah pena yang masih tersegel.

Tepat sebelum tangannya kembali menyelorohkan loker, mata bulat itu menangkap selembar foto yang tak pernah dilihatnya selama ini.

Nuguya?”

Masih dengan ber-monolog, ia mengamati dengan jeli potret dua orang gadis kecil dengan ekspresi gembira. Sama sekali ia tak mengenali kedua anak perempuan yang ada di dalam kertas tua di genggamannya itu. Rasa penasaran pun muncul di dalam benaknya, mengapa ada foto tua itu di dalam ruangan kerjanya.

“Apa ada hubungannya dengan ayah?”

Pikiran wanita itu melesat memikirkan sang ayah karena sebelum dirinya diangkat menjadi CEO, ruangan ini digunakan oleh ayahnya.

“Selamat pagi, Kang Ji Yoon-ssi!” Pintu ruangan pun terbuka diikuti dengan sebuah suara sapaan yang terdengar renyah.

“ Jun Hee? Goo Jun Hee?” Mata wanita yang dipanggil Ji Yoon itu pun terbelalak lebar saat melihat sesosok namja muda berpakaian jas hitam masuk kedalam ruang kerjanya.

“Kau terlihat kaget. Waeyo? Kau tak suka aku kembali?”

Anniya. Kapan kau tiba di Seoul?”

“Pagi tadi. Kau terlihat semakin cantik, Ji Yoon-aah.”

“Kau… kau juga semakin tampan, Jun-ie. Hahaha.”

-oOo-

 

Pagi ini Jongwoon tengah berada di halaman belakang rumahnya sambil sibuk menyesap teh hangat dan juga membaca koran terbitan hari ini. Meskipun ia terlihat serius membaca, tetapi sebenarnya pikiran pria itu tengah melayang entah kemana.

Samchon…” Terdengar suara serak dari belakang tubuh Jongwoon.

Seorang bocah kecil berbalut piyama tidur tengah berjalan menghampiri Jongwoon dengan tangan sibuk mengucek kedua matanya yang masih setengah terbuka itu.

“Rupanya Hyunie sudah bangun.” Pria itu meletakkan cangkir teh dan juga koran ke atas meja yang terbuat dari kayu tepat disampingnya.

Jongwoon tersenyum melihat wajah keponakannya yang begitu lucu dan polos. Segera digendong tubuh mungil itu dan mendudukkan Hyun Hae diatas pangkuannya.

“Bagaimana tidur Hyunie? Nyenyak? Apa semalam mimpi indah?” Cecar Jongwoon.

Anni. Aku merindukan eomma.” Jawab Hyun Hae lesu. Ia juga menundukkan kepalanya.

Jongwoon hanya bisa diam dan tak berkata apapun pada keponakannya itu.

“Kapan eomma akan pulang? Apa samchon jahat itu mau menculik eomma?”

Samchon jahat?”

Ne. Samchon yang ingin menikah dengan eomma. Samchon yang menyebabkan eomma pingsan.”

Jongwoon tersentak kaget. Hyun Hae mengatakan bahwa ia membenci Kyuhyun. Seketika hatinya miris. Seandainya Hyun Hae tahu yang sebenarnya, bagaimana reaksinya. Jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia merasa tertekan untuk menyimpan semua rahasia ini sendirian. Ya, memang hanya Jongwoon-lah yang mengetahui siapa jati diri Hyun Hae sebenarnya. Bahkan Jongwoon tak mengatakan dengan jujur kepada kedua orang tuanya.

Jongwoon mengatakan bahwa Hyun Hae hanyalah anak angkat Hye Ra. Jongwoon mengatakan bahwa Hyun Hae di anggap sebagai anaknya sendiri untuk mengurangi rasa kesepian selama hidup sendiri di Jepang. Memang tidak bisa dipercaya Jongwoon mengatakan hal itu kepada kedua orang tuanya.

Mungkin kalian membencinya. Mungkin kalian kecewa.

Tetapi hal ini demi Hye Ra. Jongwoon sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana kedua orangtua mereka mengoyak kembali luka lama Hye Ra yang mungkin saja sudah sedikit terobati dengan hadirnya Hyun Hae. Ia juga tak bisa membayangkan bagaimana begitu terpukulnya Hyun Hae ketika mengetahui siapa dirinya sebenarnya.

Jongwoon tak setega itu untuk tak berbuat apapun.

-oOo-

Kyuhyun memasuki bekas kamar kakak perempuannya itu dengan tangan yang tengah memegang sebuah nampan berisi susu vanilla dan juga semangkuk buah-buahan segar.

“YA! Untuk…untuk apa kau kemari?” Hye Ra yang baru saja keluar dari kamar mandi seketika terkejut mendapati Kyuhyun tengah duduk diatas ranjang.

“Aku mengantarkan itu, Nona Kim.” Jawab Kyuhyun sambil melongokkan kepalanya kearah nampan yang terletak diatas nakas.

Kyuhyun sama sekali tak bisa menahan lengkungan senyumnya ketika menatap Hye Ra yang berada dihadapannya. Semakin hari, wanita yang dicintainya itu semakin terlihat cantik. Hanya dengan T-shirt­ kebesaran menutupi hotpans putih yang digunakannya itu pun sudah terlihat sempurna dimata Kyuhyun. Pandangan matanya bagaikan terkunci pada Hye Ra. Mulai dari rambut panjangnya yang masih tergerai basah sehingga membuat sebuah kesan seksi tersendiri bagi Kyuhyun.

Di dalam hatinya tersimpan sebuah penyesalan yang teramat dalam. Mengapa tidak semenjak dulu ia menyadari betapa sempurna wanita dihadapannya itu. Mengapa ia tak mencintainya sebelum pada akhirnya wanita itu melupakan semuanya.

Sekarang Hye Ra telah mengidap amnesia. Itu berarti Kyuhyun harus memulai semuanya dari awal. Ia tak tahu harus senang atau malah sebaliknya. Jika Hye Ra melupakan kenangannya bersama Kyuhyun itu berarti Hye Ra tak mengingat segala penyiksaan dan derita yang pernah diberikan Kyuhyun kepadanya, itu akan menjadi sebuah awal yang baik untuk hubungan mereka kedepannya. Tetapi jika seiring hilangnya semua memori Hye Ra tentang dirinya, cinta yang pernah dimiliki wanita itu untuk Kyuhyun ikut menghilang, entahlah apa yang harus dilakukannya.

“Apa yang kau lihat, Tuan Cho?!” Bentakkan Hye Ra sukses membuat Kyuhyun tersadar dari lamunannya.

Kyuhyun pun bangkit dari duduknya dan melangkah perlahan kearah Hye Ra.

“Hey! Mw… Mwo?!” Hye Ra terus melangkah mundur sampai langkahnya terhenti karena punggungnya telah menempel pada dinding kamar.

Kyuhyun menyeringai senang menatap ekspresi wajah Hye Ra yang begitu gugup ketika tubuhnya terus mendekati wanita itu.

“Apa aku salah??” Kyuhyun menempatkan tangannya tepat disebelah kepala Hye Ra yang sudah menempel pada dinding guna mengunci pergerakan wanita itu.

“Salah?? Apa… maksudmu?”

“Apa aku salah melihat…. Calon istriku sendiri?”

 

-oOo-

“Apa aku salah melihat…. Calon istriku sendiri?”

DEG

Selama tiga detik Hye Ra mendadak membeku. Tubuh, otak, dan semuanya. Entah apa yang terselip di sela sela jantung wanita itu sehingga membuatnya berdetak begitu kencang. Lutut Hye Ra terasa mulai melemas. Kata kata itu benar benar berakibat besar bagi kerja syaraf otaknya.

“Hhh~ apa yang kau katakan?! Bukankah aku sudah mengatakannya berkali kali. Aku tidak mau menjadi istrimu!” Hye Ra mendorong pelan bahu Kyuhyun agar meloloskan tubuhnya dari kuncian tubuh pria itu.

“Tetapi aku akan berusaha agar kau mau.”

“Sudah keluar sana.”

“Ingat itu Nona Kim. Aku akan membuatmu mencintaiku.”

BLAM..

Hye Ra menutup pintu kamarnya dengan kencang tepat sesaat setelah Kyuhyun keluar. Ia berjalan menuju ranjang dan duduk diatasnya. Diliriknya sekilas sebelum pada akhirnya mengambil nampan berisi segelas susu vanilla dan semangkuk buah buahan segar. Disuapnya satu persatu buah buahan yang tersaji dihadapannya.

“Mengapa kau terus saja berdegup?!” Hye Ra menaruh telapak tangannya di dada yang tengah berdegup kencang itu.

Ketika Hye Ra meletakkan mangkuk buah kembali keatas nakas, matanya menangkap sebuah benda yang cukup membuat Hye Ra penasaran.

Nuguya?

“Apakah dia yang bernama Cho Ah Ra itu? Neomu yeppeuda.

Hye Ra tersenyum menatap sebuah pigura yang membingkai foto wanita cantik berambut panjang itu.

“Dia mirip dengan Kyuhyun.” Matanya beralih menatap gambar seorang namja yang tengah duduk bersebelahan dengan yeoja di foto yang sama.

“Tetapi dimana dia sekarang?”

TBC

I Can’t Hate You, Cho Kyuhyun! ( It’s Your Baby ) Part 13

new

Tittle               : I Can’t Hate You, Cho Kyuhyun! ( It’s Your Baby )

Author            : Hilyah Nadhirah / Shin Hye Mi

FB                   : www.facebook.com/hilyah.nadhirah

Twitter           : www.twitter.com/#!/HilyahNadhz

WordPress      : www.nadhzworld.wordpress.com

Genre             : Sad Romance

Rating             : PG-15          

Leight             : Chapter

Main Cast      : Cho Kyuhyun, Kim Hye Ra, Kim Jongwoon

Disclaimer      : Don’t Bash.. Don’t PLAGIARISM..

 

FF I Can’t Hate You, Cho Kyuhyun! ( It’s Your Baby ) Part 1-11 bisa langsung klik di

www.nadhzworld.wordpress.com

~ HAPPY READING!!! ~

 

 

 

Oppa, sebenarnya kita mau kemana?” Tanya Hye Ra sambil membenahi lipatan pada gaun malam berwarna biru tua itu.

“ Mengajakmu dan Hyun Hae ke suatu tempat.”

“ Tetapi apa harus memakai pakaian formal seperti ini?”

“ Sudahlah.”

“ Beritahu aku terlebih dahulu kemana kita akan pergi. Baru aku akan ikut.”

“ Baiklah.. Baiklah.. Kita akan makan malam di N-Grill.”

“ N-Grill? Namsan?”

“ Ya. Kau senang?”

Ne.”

~Story Beginning~

 

 

Sebuah Mercedes Benz hitam berhenti tepat di depan bangunan yang telah menjadi icon terkenal Korea Selatan itu. Namsan Tower. Cahaya berbagai warna yang menyelimutnya berganti ganti setiap selang waktu yang sudah diatur. Sungguh nampak sangat indah.

Suara lembut pintu mobil mewah itu dibuka pun terdengar. Terlihat sepasang kaki jenjang beralaskan high heels silver tengah bergerak menuruni mobil itu. Tak lama kemudian telah berdiri dengan anggunnya sesosok wanita cantik dengan balutan dress biru tua yang terlihat pas dan cocok melekat di tubuhnya.

Sungguh wanita itu sangat menawan. Tatapan kagum milik lelaki bermata sipit yang tengah membukakan pintu untuk wanita itu pun tak bisa berbohong. Rekahan senyum spontan itu juga dapat mencerminkan dan menjelaskan dengan gamblang betapa mempesonanya wanita berambut coklat tua yang sengaja di pilin longgar ke samping itu.

Jeongmal yepppuda.”

Oppa!” Wanita yang mengeluarkan semburat merah di pipinya itu memukul pelan lengan lelaki yang telah membukakan pintu mobil bak seorang puteri kerajaan itu.

“ Aku tidak bohong, Hye Ra.” Lelaki bernama Kim Jongwoon itu sedikit melebarkan mata sipitnya dan menatap meyakinkan kearah Hye Ra.

Arra.. Arra..

Eomma… Samchon.” Terdengar suara pintu mobil kembali di buka. Kali ini dari pintu bagian penumpang.

“ Ahh.. Hyunie… Mianhaeyo.. Samchon melupakanmu.” Jongwoon yang sadar akan kehadiran keponakannya itu segera menggendong tubuh mungil Hyun Hae.

Kajja, samchon. Hyunie lapar.”

“ Aissh. Hyunie…” Desis Hye Ra.

“ Hahaha mianhaeyo, Eomma. Tapi aku benar benar… lapar.”

Jongwoon terkikik geli melihat tingkah keponakan satu satunya itu.

Setelah menutup pintu mobil, Jongwoon memencet tombol yang memang terdapat pada kunci mobil untuk mengunci Mercedes Benz-nya itu secara otomatis.

Kajja!

Hye Ra mengangguk sambil mengaitkan tangannya ke sela sela lengan Oppa-nya itu. Pandangan mereka sempat bertemu. Jongwoon tersenyum dan menganggukkan kepalanya disambut dengan reaksi yang sama oleh Hye Ra.

Dinginnya angin malam kali ini membuat Hye Ra sedikit merapatkan tubuhnya melalui kaitan tangannya pada lengan Jongwoon yang semakin mengerat. Tanpa ia sadari, perlakuannya itu mengakibatkan sebuah sengatan terhadap Oppa-nya.

Tanpa disadarinya.

-oOo-

Kedua manik mata coklat tua itu sibuk memandang kosong kearah kerlipan lampu lampu jalanan yang seakan bergerak di balik jendela kaca audy hitam metalik. Kedua telapak tangan yang saling bertaut dan tak bisa tenang itu menyiratkan sebuah kegundahan dari seorang Cho Kyuhyun. Jika diberi pilihan hidup atau mati dia pasti akan memilih untuk mati detik ini juga daripada harus menikah dalam perjodohan konyol ini.

“ Kyuhyun-aah.” Sebuah tepukan lembut yang mendarat di pundak sempit Kyuhyun berhasil menyadarkannya dari lamunan.

Ne, aboji?”

            “ Kau tampak gelisah.”

Annimida.”

            “ Kau tak perlu khawatir. Kau tak akan menyesal dengan hal ini.”

Ye.

Kyuhyun tersenyum singkat dan membalikkan tubuhnya kembali menghadap jalanan luas di depan sana. Ia hanya bisa menghela nafas berat. Tak perlu khawatir? Hah.. itu adalah hal yang paling tidak mungkin dilakukannya dalam situasi seperti ini. Disituasi menuju detik detik masa depannya yang sama sekali tak di harapkannya, bagaimana bisa tercetus sebuah gagasan untuk tenang?

-oOo-

Hye Ra dan Jongwoon berjalan berdampingan memasuki salah satu bagian di Namsan Tower yang ber-tittle-kan N-Grill Restaurant itu. Kedua tangan mereka tak saling bertautan lagi melainkan sebelah tangan mereka saling menggenggam erat jemari mungil Hyun Hae kanan dan kiri. Mungkin bagi orang yang tak mengetahuinya akan menganggap mereka adalah sebuah keluarga kecil bahagia.

Oppa..

“ Hmm. Waeyo?

“ Aku sedikit gugup. Entahlah.”

Jongwoon yang mendengar ungkapan Hye Ra hanya tersenyum simpul dan terlihat penuh misteri tanpa berniat untuk menjawab atau menenangkan adiknya itu.

Eomma…

Ne?

“ Aku ingin ke kamar kecil.” Ujar Hyun Hae sambil memasang wajah memelas kearah Hye Ra.

“ Baiklah. Kajja.”

“ Biar aku saja, Ra-yaa.”

“ Tak apa. Oppa tunggu saja di dalam. Aku akan segera kembali.”

“ Hmm. Baiklah. Cepatlah kembali.”

Ne.

-oOo-

Hye Ra berjalan dengan begitu anggun sambil sebelah tangannya yang masih terulur mengenggam erat jemari jemari mungil Hyun Hae. Dilangkahkan kakinya dengan hentakan yakin melewati pintu berbahan kaca tembus pandang itu. Dihentikan sejenak kaki beralaskan high heels itu sementara sang pemilik mengedarkan mata indahnya ke seluruh penjuru ruangan berasitektur mewah dan glamour ini.

“ Nona Kim Hye Ra?” Sebuah suara berat dengan nada sopan tiba tiba terdengar dan sedikit mengejutkan Hye Ra.

“ Ahh. Ne.” Ujar Hye Ra menatap lelaki berpakaian hitam putih khas pelayan itu.

“ Mari saya antarkan ke meja Anda.” Lelaki itu tersenyum sambil mengarahkan tangan kanannya ke sebuah arah yang merupakan tanda agar Hye Ra dan Hyun Hae mengikutinya.

Hye Ra akhirnya berjalan tepat di belakang pelayan itu. Matanya terus saja berkeliaran menatap segala sudut ruangan yang ter-desain sempurna dihadapannya itu. Hye Ra terus terang kagum dengan tata ruang yang bisa di nilai kelas atas ini.

Tetapi sebenarnya banyak pasang mata yang lebih terlihat memasang tatapan kagum. Ya, tak sedikit yang memandang Hye Ra dengan tatapan kagum, dengan senyum mengembang tepat disaat wanita cantik itu berjalan tepat di hadapan mereka.

Tak di pungkiri, riasan tipis dan ala kadarnya itu mampu membius dan mengalihkan perhatian para pengunjung restaurant dengan sekali pesona yang dimiliki seorang Kim Hye Ra.

“ Silahkan.”

Hye Ra langsung menghentikan langkah kakinya saat pelayan yang sedari tadi memimpin jalan telah berhenti terlebih dahulu dan membalikkan tubuhnya menghadap Hye Ra.

Gamshamnida.

Pelayan itu mengangguk sopan sambil menampilkan senyum ramah sebelum pergi meninggalkan Hye Ra.

Kini, tinggal Hye Ra dan Hyun Hae yang masih berdiri dalam radius 2 meter dari mejanya. Matanya tak beralih dari punggung dua orang yang tengah duduk membelakanginya tepat di hadapan Jongwoon –kakaknya-. Punggung itu sama sekali tidak asing baginya, walau terasa sudah sangat lama ia tak melihatnya. Dilihatnya dengan seksama punggung pria ber-tuxedo dan wanita berbalutkan gaun simple berwarna merah yang dibalut dengan mantel bulu putih gading itu secara bergantian.

Eomma. Nuguya?” Hyun Hae mendongak menatap Hye Ra untuk mencari jawaban, sama seperti yang tengah di pikirkan ibunya itu.

“ Ra-yaa. Hyunie-aah. Kalian sudah kembali rupanya.” Belum sempat Hye Ra menjawab pertanyaan anaknya itu, Jongwoon telah menyadari keberadaan mereka terlebih dahulu. Jongwoon pun berdiri dan beranjak dari kursinya kearah adik dan keponakannya.

“ Aku punya sebuah kejutan untuk kalian.” Ucap Jongwoon dengan nada pelan.

Diraihnya pergelangan tangan Hye Ra dan dituntunnya untuk mengikuti langkah Jongwoon kembali ke kursi.

Kedua mata Hye Ra melebar dan seketika jatuh butiran kristal bening yang semakin lama semakin deras jatuh dari pelupuk matanya membasahi kedua pipi yang sudah terpoles tipis blush on merah itu.

Dirasa tangisannya akan meledak beberapa detik lagi, Hye Ra langsung membekap mulutnya dengan kedua tangan. Matanya terus saja menatap kearah dua orang yang tengah tersenyum haru di hadapannya.

“ Apa kabar, Sayang?” Terdengar aksen suara parau yang di lontarkan wanita paruh baya yang saat ini sudah berdiri dihadapan Hye Ra sambil mengelus pipi anaknya itu.

Eomma…” Lidah Hye Ra terasa kelu. Tak ada satu kalimat lain yang mampu ia ucapkan kepada sosok wanita di hadapannya ini.

Tangan Hye Ra langsung mendekap erat tubuh ibunya itu. Tak peduli bagaimana air mata yang terus membasahi pipinya. Rasa rindu yang sangat menggebu-gebu itu sangatlah menyiksa dan membuat ia tak peduli akan sekitarnya. Yang terpenting satu kerinduan sudah terobati. Setidaknya hal ini sedikit meringankan perasaan Hye Ra yang ia pendam selama ini.

“ Jangan menangis lagi. Eomma tak ingin melihat bidadari kecil eomma yang cantik menjadi berantakan karena menangis.” Nyonya Kim mengendurkan pelukannya. Di tatapnya lembut wajah Hye Ra yang terlihat memerah akibat menangis itu.

Appa…” Tatapan Hye Ra beralih menatap sosok paruh baya yang masih terlihat tegap yang berdiri di samping eomma-nya sambil tersenyum.

Appa sangat merindukanmu.” Tuan Kim memeluk singkat tubuh Hye Ra dan tangannya beralih ke pundak anaknya itu mengisyaratkan untuk memberi kekuatan lewat tepukan di kedua sisi bahu yang terbuka itu.

Sementara Hyun Hae, ia hanya menatap bingung kearah eomma-nya yang beberapa waktu lalu menangis tersedu sedu di dalam pelukan wanita yang tak pernah dilihatnya sebelumnya. Sesekali ia mendongak menatap pamannya yang tengah tersenyum melihat pemandangan mengharukan itu.

“ Hyunie.. mereka adalah haraboji dan halmeoni. Beri salam kepada mereka.” Ujar Jongwoon sambil mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Hyun Hae.

Jinjja? Haraboji… halmeoni??” Hyun Hae membulatkan matanya. Memandang tak percaya kearah Jongwoon.

“ Ya. Mereka adalah orang yang ingin Hyunie temui.” Jelas Jongwoon.

Hyun Hae mengalihkan pandangannya pada dua orang paruh baya yang ada di samping kiri dan kanan eomma-nya.

Annyeonghaseo haraboji.. halmeoni.. noneun.. Hyun Hae.. imnida” Ujar Hyun Hae seraya menmbungkukkan tubuhnya.

Neomu kyeopta.” Nyonya Kim berjalan kearah Hyun Hae sementara tangannya menghapus sisa sisa air mata yang ada di pelupuk matanya.

“.. dan juga sangat tampan.” Lanjut Nyonya Kim sambil menggenggam erat tangan Hyun Hae dan menatap wajah polos itu dengan penuh kasih sayang.

-oOo-

Sebuah audy cokelat tua berhenti tepat di depan loby Namsan Tower. Tak lama berselang keluar sosok namja tegap dengan jas hitam yang melekat indah pada tubuh proposionalnya. Kedua tangannya tergerak untuk sedikit menarik kedua sisi belahan jas-nya yang berada di bagian depan tubuhnya guna merapikan tatanan jas yang sedikit kusut itu.

“ Ayo.” Lelaki paruh baya yang tengah berjalan dengan bantuan satu tongkat kayu di genggamannya itu menepuk bahu Kyuhyun sebelum melangkah terlebih dahulu memasuki Namsan Tower.

“ Waktu terus berputar, Kyuhyun-ie.” Timpal wanita setengah baya yang mengkaitkan lengannya di sela siku suaminya sebelum pada akhirnya berjalan mendahului anaknya yang masih berdiri mematung di belakang.

Kyuhyun menatap nanar punggung kedua orang tuanya yang terlihat semakin menjauh. Sebuah senyuman pahit di lontarkannya. Nafasnya memburu dalam tempo yang semakin cepat. Membuat rasa sesak mendominasi setiap ruang di relung Kyuhyun.

“ Apa aku tak diperbolehkan egois? Untuk kebahagiaan yang kupilih. Tak bolehkah aku memilikinya?” Kyuhyun ber-monolog dengan mata yang tak lepas memandang kearah pintu kaca yang telah ‘menelan’ kedua orang tuanya hingga tak terlihat lagi di radius pandangannya.

Matanya tiba tiba merasa panas. Ia merasa sebuah cairan bening itu telah mendesak keluar dan mengalir. Tapi cepat cepat di tahan dengan mendongakkan kepalanya menatap langit gelap yang tak banyak bintang. Hanya beberapa yang berkelip dengan redup dan juga rembulan yang samar samar menggantung di langit sebagai pemanis yang ala kadarnya untuk malam ini.

“ Ahh. Aku mengerti. Batasan untuk egois-ku telah habis. Sebelumnya aku selalu bertindak egois tanpa memikirkan bagaimana perasaannya. Kurasa saat ini adalah waktunya untuk menerima takdir tanpa adanya sebuah keegoisan. Dan aku harus menerimanya.” Kyuhyun memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kain hitam yang di kenakannya itu.

Di hela nafas panjang dan di hembuskannya perlahan. Berharap rasa sesak yang membelenggu itu dapat berkurang. Ya walaupun tak memberikan hasil yang begitu signifikan.

Lelaki bermarga Cho itu kembali menegakkan tubuh menjulangnya itu. Dilangkahkan kaki bertungkai panjang itu dengan mantap. Meski tak semantap hati di dalam dirinya.

Setiap langkah dirasanya begitu berat. Langkah demi langkah menuju masa depannya yang tak tertebak. Selama perjalanan menuju N-Grill restaurant pikirannya melayang entah kemana. Ia memikirkan bagaimana wanita yang nanti akan menjadi pendampingnya. Apa dia secantik Hye Ra? Apa sebaik Hye Ra? Apa setegar Hye Ra? Apa sesempurna sosok idamannya… seorang Kim Hye Ra?

Akhirnya langkah kaki itu berhenti tepat di depan ruangan yang merupakan restaurant tujuannya itu. Dilihatnya samar samar kedua orang tuanya tengah berbincang bincang dengan raut wajah bahagia dengan dua orang namja yang ada di hadapan mereka. Tak terlihat satu wanita pun yang ada di antara mereka. Apa perjodohan ini di batalkan? Tetapi melihat ekspresi kedua orang tuannya yang tak terlihat sedih sama sekali, tak menggambarkan bahwa perjodohan ini batal.

Annyeonghaseo. Maaf saya sedikit terlambat.” Kyuhyun menundukkan kepala sembari membungungkukkan tubuhnya. Ia sama sekali tak berniat menatap lurus kedepan.

“ Ahh gwenchana, Kyuhyun-ssi.”

“ Ini Tuan Kim. Dia adalah sahabat aboji.” Suara khas ayahnya itu sontak membuat Kyuhyun mendongakkan kepalanya.

Mata Kyuhyun terbelalak lebar ketika menatap namja yang tengah duduk di sebelah lelaki paruh baya di hadapannya. 3 detik pertama tubuhnya kaku. Tak di sangka ia akan bertemu dengan lelaki pemilik tatapan tajam itu.

Terkejut bukanlah satu satunya ekspresi yang dimiliki Kyuhyun tetapi juga di tunjukkan oleh lelaki yang hampir sebaya olehnya itu. Tubuhnya terduduk tegak tepat disaat Kyuhyun mengangkat wajahnya. Tersirat sebuah amarah tersendiri dari balik mata bulan sabit itu. Tak ada yang berubah dengan tatapannya terhadap Kyuhyun. Tetap dingin dan tajam.

“ Bukankah Kyuhyun dan Jongwoon hanya terpaut 4 tahun?” Tuan Kim membuka suara untuk memecahkan keheningan diantara Jongwoon dan Kyuhyun yang hanya saling bertatapan tanpa ada niatan untuk memulai pembicaraan.

“ Ya. Jarak yang cukup dekat.” Sekarang giliran Tuan Cho yang menimpali ucapan sahabatnya.

Mereka tak mengetahui sedikit pun tentang apa yang terjadi sebelumnya. Antara Kyuhyun, Hye Ra dan Jongwoon.

“ Kyuhyun-ie. Duduklah. Sampai kapan kau akan berdiri seperti patung di sana.” Nyonya Cho tersenyum kearah Kyuhyun.

“ Ahh.. Ye, Eomma.” Kyuhyun menarik kursi yang ada tepat di sebelah ayahnya dan dengan cepat mendudukkan tubuhnya.

Pikiran Kyuhyun saat ini di penuhi dengan ribuan tanda tanya yang terus saja muncul. Satu kenyataan membuat tanda tanya itu semakin banyak bagaikan tumbuh bercabang cabang dengan kalimat kalimat pertanyaan penasaran yang sudah membuncah.

Jika Jongwoon dan orang tuanya ada di hadapannya, bukankah berarti ia akan di jodohkan dengan…… Hye Ra? Seketika jantung Kyuhyun berdetak dengan kencang. Ia berharap hal yang di pikirkannya itu memang adalah jawabannya. Tetapi dimana Hye Ra?.

Namja berambut cokelat gelap itu menyalurkan kegundahannya dengan meremas jemarinya sendiri. Berulang kali ia memejamkan mata dan menghembuskan nafas untuk mempersiapkan jantungnya akan sebuah kenyataan yang mungkin tak seburuk yang ia pikirkan sebelumnya.

Samchon, mengapa eomma dan halmeoni lama sekali?” Sebuah suara lugu tiba tiba menyusup ke dalam indera pendengaran Kyuhyun. Dengan satu kedipan mata, Kyuhyun sudah membuka lebar kedua matanya.

Dilihatnya seorang anak lelaki berusia sekitar 3 tahun yang tengah berusaha naik ke atas kursi yang tentu saja lebih tinggi darinya.

“ Hyunie….” Jongwoon yang tersadar langsung menatap kearah Hyun Hae.

Kyuhyun sama sekali tak melewatkan satu kedipan pun menatap sosok kecil yang sangat mirip dengannya itu. Diperhatikan dengan seksama wajah Hyun Hae di hadapannya. Benar benar seperti miniatur dirinya.

Didalam kepala Kyuhyun, tanda tanya itu kembali bermunculan. Apakah dia adalah……..

“ Dia bukan anakmu!” Desis Jongwoon memotong semua pemikiran dan pengandaian Kyuhyun.

Kyuhyun mengalihkan pandangannya kearah Jongwoon yang tengah menatapnya dengan sinis dan tajam.

“ Dia bukan anakmu, Cho Kyuhyun!”

Sepertinya pembicaraan menegangkan hanya terdengar oleh dua orang lelaki yang tengah saling menatap ini. Hyun Hae sama sekali tak mendengarnya karena bocah itu disibukkan oleh daging steak yang tersaji di hadapannya. Sedangkan orangtua mereka telah tenggelam dalam obrolan obrolan seputar bisnis mereka atau entahlah.

“ Aku sama sekali tak percaya denganmu, Jongwoon-ssi.”

“ Mengapa sekarang kau malah mengharapkan anak yang ingin kau bunuh? Lucu sekali. Kutegaskan sekali lagi… Dia bukanlah anakmu, Cho Kyuhyun! Anakmu sudah mati kau bunuh!.” Jongwoon menekankan suaranya. Meski berbicara lirih itu terdengar sangat tajam.

Mianhamnida, sedikit membuat kalian menunggu. Aku harus kembali meriasnya.”

-oOo-

            “ Dokter Lee…”

Tak ada jawaban dari sesosok lelaki yang tengah duduk termenung sambil memainkan sebuah bulpoint hitam ditangannya.

“ Permisi Dokter Lee.” Wanita berpakaian serba putih dengan topi perawat yang bertengger di atas kepalanya itu pun memanggil lelaki itu lagi. Berharap panggilannya kali ini tak di acuhkan begitu saja oleh dokter yang telah menjadi idola para wanita di rumah sakit ini.

“ Ahh.. ya.. suster Hanazawa.. ada apa?”  Lelaki bernama lengkap Lee Donghae itu akhirnya tersadar dan sedikit tergagap setelah wanita berpakaian suster itu melambai lambaikan tangannya tepat di depan wajah Donghae.

“ Ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda. Secara pribadi. Dia menyuruh Dokter Lee segera ke cafeteria rumah sakit.”

“ Baiklah.”

Suster Hanazawa sedikit membungkuk dan keluar dari ruangan Donghae.

Donghae berdiri sembari melepas jas dokternya dan menyampirkannya di sandaran kursi. Di liriknya arloji silver yang menggantung di pergelangan kirinya. Ternyata sudah pukul 8 malam. Ia heran berapa lama dihabiskannya waktu untuk termenung hari ini. Memang semenjak Hye Ra kembali ke Korea 2 hari yang lalu, Donghae seperti kehilangan semangatnya. Ia lebih sering menghabiskan waktu di rumah sakit hingga larut malam daripada pulang dan beristirahat dirumah. Hal itu karena sudah tak ada alasan untuk pulang lebih awal ke rumah. Karena tak ada lagi Hye Ra dan Hyun Hae yang ada di sana.

Donghae melipat lengan kemeja putihnya itu sampai batas siku. Dengan sedikit gontai, ia melangkah kearah pintu dan memutar knop-nya. Dilongokkan kepalanya kearah kanan dan kiri dan di dapatinya koridor rumah sakit yang sepi dan lengang, kursi kursi tunggu juga hanya teronggok begitu saja tanpa ada seorang pun yang duduk di atasnya.

Ia memutuskan untuk keluar dari ruangannya dan berjalan menyusuri lorong koridor rumah sakit yang gelap dan sepi ini. Dalam keheningan Donghae melangkahkan kakinya.

Sesampainya di cafeteria rumah sakit, Donghae mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan untuk mencari seseorang yang ingin menemuinya.

“ Donghae!”

Merasa dirinya di panggil oleh seseorang, ia langsung membalikkan tubuhnya menghadap ke asal suara.

Aboji?” Gumamnya.

Donghae berjalan mendekati ke satu meja cafeteria dimana ayahnya tengah duduk menunggunya.

“ Ada apa, aboji?” Tanya Donghae to the point.

“ Kau berhutang penjelasan padaku.”

Donghae mendadak termenung. Pandangannya kosong kedepan.

“ Siapa wanita itu?”

“…….”

“ Jawab aku Donghae-yaa. Siapa wanita itu dan apa hubungannya denganmu sampai sampai kau meminta bantuanku untuk menyembunyikan identitas aslinya?”

Donghae masih terdiam tetapi matanya menatap kearah ayahnya. Ia tak tahu harus mengatakan dan menjelaskan apa pada lelaki paruh baya itu.

“ Dia.. dia temanku.”

“ Hanya teman?”

“ Ya.”

“ Aku mengenalmu karena kau anakku. Kau tak akan melakukan hal sejauh ini jika wanita itu hanyalah temanmu.”

“ Baiklah. Aku memang menyukainya.”

Tuan Lee terlihat tersenyum tipis melihat ekspresi anaknya yang pasrah itu.

“ Mengapa harus menyembunyikan identitasnya?”

“ Kurasa dia dalam bahaya. Aku tak ingin dia terluka terlebih lagi meninggalkanku.”

“ Dimana dia sekarang?”

“ Kembali ke Seoul.”

“ Itu berarti dia meninggalkanmu?”

“ Tidak. Dia akan kembali segera….. meski tak ada yang bisa menjaminnya.”

“ Kejarlah dia jika memang kau yakin dengannya. Tetapi kau tak boleh memaksakan takdir.” Tuan Lee kembali tersenyum kearah anak lelakinya itu.

Donghae tersenyum kemudian menyesap perlahan moccacino yang sebelumnya telah di pesankan oleh ayahnya itu.

Ya, memang selama Hye Ra berada di Jepang, Donghae meminta bantuan ayahnya yang tak lain adalah salah satu petinggi di negara ini untuk menyembunyikan seluruh identitas Hye Ra tanpa sedikitpun bercerita tentang Hye Ra padanya.

-oOo-

Saat ini duduk seorang wanita cantik berbalut dress biru tua dengan make-up lengkap di wajahnya yang sempurna. Di hadapannya duduk seorang namja yang tak bisa mengalihkan pusat pengelihatannya dari wanita itu hingga ia lupa bagaimana cara untuk mengedipkan matanya.

“ Biar aku saja yang memotongnya.” Ujar Kyuhyun setelah kembali mendapatkan kendalinya.

Ne?

“ Daging steak.”

Kyuhyun mengambil piring putih berisikan steak daging sapi dari hadapan Hye Ra. Hye Ra memasang ekspresi kebingungan atas apa yang dilakukan Kyuhyun terhadapnya.

Kyuhyun memotong daging steak milik Hye Ra menjadi beberapa bagian setelah itu ia menaruh kembali piring steak itu di hadapan Hye Ra.

Gamshamnida, Kyuhyun-ssi.” Kyuhyun hanya membalasnya dengan senyuman lebar.

Hye Ra mulai memasukkan daging daging steak ke dalam mulutnya dengan gerakan yang begitu anggun. Pandangan Kyuhyun lagi lagi tersita oleh pesona gadis yang sangat ia rindukan itu.

Kyuhyun benar benar tak menyangka bahwa wanita yang selama ini ia cari sekarang tepat berada di hadapannya. Ia belum sepenuhnya percaya bahwa wanita yang selalu ingin dilihatnya saat ini dapat dilihatnya dalam jarak yang sedekat ini. Hanya di pisahkan oleh sebuah meja.

“ Beruntung sekali kita bisa berkumpul kembali dan membicarakan hal yang sama seperti beberapa tahun yang lalu.” Ucap Tuan Kim setelah meminum segelas air di gelas wine-nya.

Mendengar ucapan Tuan Kim membuat Jongwoon tersentak dan mendongakkan kepalanya. Ia memikirkan sesuatu hal yang memang sudah terhubung sedikit demi sedikit dari berbagai keanehan yang ada di malam ini.

“ Apa maksud aboji adalah……… perjodohan?” Jongwoon sedikit memelankan suaranya dan menatap kearah ayahnya dengan tatapan meminta penjelasan.

“ Kau benar sekali. Tetapi sekarang bukan dirimu, Jongwoon-aah.

Bagai tersambar petir di siang bolong, Jongwoon hanya bisa ternganga mendengar jawaban santai Tuan Kim. Ia sama sekali tak mengetahui tentang rencana yang dibuat oleh kedua orang tuanya dan juga orang tua Kyuhyun. Hal ini bukanlah yang diinginkannya. Ia sangat tak rela jika harus menyerahkan orang yang paling dicintainya ke namja yang salah. Kepada namja yang hampir saja membunuh wanita yang dicintainya.

“ Kami bermaksud untuk menjodohkan Kyuhyun… dan Hye Ra.” Kali ini ucapan Tuan Cho yang membuat 2 manusia yang sedari tadi duduk berhadapan di ujung meja itu tersedak sampai terbatuk batuk.

Terdapat 2 ekspresi yang berbeda. Kyuhyun terlihat tengah mengulum senyumanya. Rasanya ingin ia berteriak dan memeluk kedua orangtuanya yang ternyata sama sekali tidak salah berniat untuk menjodohkannya. Karena mereka akan menjodohkannya dengan wanita yang menjadi tujuan hidupnya.

Sedangkan Hye Ra, ekspresi kebingungan yang sangat amat jelas tergambar di wajah dengan riasan tipis nan natural itu. Ia menolehkan kepalanya kearah kedua orang tuanya dan juga Jongwoon berharap satu dari mereka akan bersedia memberi penjelasan tentang hal ini.

“ Apa sudah ada rencana tentang konsep pernikahan mereka nanti?” Tanya Nyonya Kim pada Nyonya Cho yang duduk berhadapan.

“ Bagaimana jika pernikahan mereka di laksanakan 2 bulan lagi? Bagaimana jika memakai konsep elegant? Lebih baik jika pernikahannya….”

“ Cukup. Hentikan.. Tolong jelaskan padaku apa maksud semua ini?” Hye Ra merasa sebuah beban berat tiba tiba menghantam kepalanya. Ia hanya bisa memejamkan matanya sambil mengangkat kedua tangannya di depan dada untuk memberi isyarat pada ibunya dan juga Nyonya Cho agar berhenti dari pembicaraan yang sungguh membingungkan itu.

“ Kami ingin kalian menikah, Hye Ra sayang. Kalian terlihat sangat serasi.” Nyonya Kim memberi pengertian pada Hye Ra sambil mengelus lembut punggung tangan anaknya yang mengepal keras di atas meja.

Eomma!

“ Kalian terlihat cocok. Eomma yakin kalian adalah sepasang jiwa yang diciptakan oleh Tuhan.”

“ Bagaimana kalian bisa melakukan hal ini?! Bahkan kami saja belum mengenal satu sama lain! Sungguh menyedihkan jika aku menikah dengan namja yang sama sekali tak ku cintai.” Ucap Hye Ra dengan nada amarah yang meluap luap.

“ Hye Ra…”

“ Tssk! Sungguh tak bisa dipercaya kalian tega berbuat seperti ini!” Hye Ra bangkit dari duduknya sembari menyambar tas tangannya yang ada di atas meja.

“ Aku pergi.” Desis Hye Ra sambil melangkahkan kakinya dengan hentakan hentakan high heels yang beradu dengan lantai marmer berwarna soft brown itu.

“ Hye Ra…”

-oOo-

Hembusan nafas kasar tanda kekesalan yang sudah meluap luap terdengar dari Hye Ra. Dengan frekuensi hentakan yang sama, high heels berwarna silver itu beradu di setiap anak tangga, menghasilkan sebuah suara yang cukup menyiksa telinga.

Sama sekali tak pernah terbayang bahwa orangtuanya akan melakukan hal yang sangat tak masuk akal. Menjodohkannya?. Zaman sudah berubah. Perjodohan bukanlah lagi cara yang efektif untuk mempertemukan belahan jiwa. Dibutuhkan proses, dibutuhkan rasa cinta yang akan tumbuh dengan sendirinya. Bukan dengan cara konyol yang terkesan dan bisa digambarkan dengan satu kata “pemaksaan” itu.

“ Hye Ra…” Derap langkah cepat yang berasal dari belakang tubuh Hye Ra pun terdengar. Menghantam lantai anak tangga dengan hak pendek sebuah pantofel.

Sama sekali tak dihiraukannya panggilan yang terus saja terdengar itu. Saat ini ia hanya cukup memfokuskan dirinya untuk cepat cepat keluar dari bangunan tempat mood-nya hancur lebur malam ini.

“ Dengarkan aku!”

Tubuh Hye Ra sedikit terhuyung ke belakang ketika sebuah tangan mencengkram erat pergelangan tangannya dan menariknya.

“ Lepaskan!” Hye Ra mencoba melepaskan cengkraman tangan Kyuhyun dari pergelangannya.

“ Dengarkan aku!” Ulang Kyuhyun sambil menghempaskan tubuh Hye Ra pada dinding yang ada di belakang tubuh wanita itu.

“ Apa maumu, Kyuhyun-ssi?!” Hye Ra mendongakkan wajahnya menatap Kyuhyun dengan wajah menantang.

“ Jangan berpura pura.”

“ Tssk! Berpura pura apa? Aku tak mengerti ucapanmu.”

“ Jangan bertindak seperti kita tak pernah bertemu sebelumnya.” Kyuhyun mengunci tubuh Hye Ra dengan menempelkan kedua tangannya didinding tepat disamping kepala Hye Ra.

“ Ck! Kau tidak sedang mabuk ‘kan, Tuan Cho! Kita memang tidak pernah bertemu sebelumnya.”

“ Jangan menyiksaku seperti ini, Hye Ra! Aku tahu kau marah. Kau benci padaku. Tetapi aku mohon jangan berbohong.”

“ Berbohong apa? Aku memang benar benar tak mengenalmu!”

“ Hye Ra, tatap aku!.” Kyuhyun menangkup wajah Hye Ra dengan kedua tangannya. Memang terkesan pemaksaan, tetapi hanya dengan cara inilah agar ia mau menatap Kyuhyun.

Hye Ra tertegun menatap mata bermanik cokelat yang tengah menghunus kedua bola matanya dengan tatapan tajam tanpa sela kedipan sedikitpun.

“ Katakan padaku kau mengenalku sebelumnya.”

Hye Ra terdiam. Kepalanya berdenyut denyut menyebabkan rasa sakit yang merambat di setiap bagiannya. Nafasnya berubah menjadi tersengal sengal. Peluh juga mengucur dari kedua pelipisnya. Kulitnya juga menjadi sedingin es.

“ Katakan padaku jika kau mengenalku, kau pernah mencintaiku, dan katakan sejujurnya jika Hyun Hae….”

“ CUKUP!” Hye Ra memegangi kepalanya yang semakin terasa tengah mencabik cabik dan menghantam tempurung kepalanya. Di acaknya rambut yang sebelumnya tertata rapi menjadi berantakan.

Bulir bulir air mata berjatuhan dengan cepat sejalan dengan peluh yang semakin mengucur membasahi pelipisnya. Rasa sakit yang menggerogoti kepalanya seperti hendak membunuhnya saat ini juga. Rasa sakit itu datang ketika Hye Ra mulai memikirkan setiap ucapan Kyuhyun.

“ Cukup. Jangan lanjutkan……”

BRUK

Tubuh Hye Ra terhuyung kedepan tepat berada di dalam pelukan Kyuhyun. Tubuh Hye Ra yang tak sadarkan diri begitu lunglai dan lemah.

“ Hye Ra….”

Eomma!!

TBC

Hiyaaa apa apa’an ini???

Mianhae kalo rada ga nyambung..

Ngetiknya pas lagi pusing pusingnya =.=v

I Can’t Hate You, Cho Kyuhyun ( It’s Your Baby ) Part 12

new

Tittle               : I Can’t Hate You, Cho Kyuhyun! ( It’s Your Baby )

Author            : Hilyah Nadhirah / Shin Hye Mi

FB                   : www.facebook.com/hilyah.nadhirah

Twitter           : www.twitter.com/#!/HilyahNadhz

WordPress      : www.nadhzworld.wordpress.com

Genre             : Sad Romance

Rating             : PG-15          

Leight             : Chapter

Main Cast      : Cho Kyuhyun, Kim Hye Ra, Kim Jongwoon

Disclaimer      : Don’t Bash.. Don’t PLAGIARISM..

 

FF I Can’t Hate You, Cho Kyuhyun! ( It’s Your Baby ) Part 1-11 bisa langsung klik di

www.nadhzworld.wordpress.com

~ HAPPY READING!!! ~

 

 

 

 

EOMMA!!” Hye Ra menatap lurus kedepan melihat Hyun Hae yang tengah berteriak histeris di sebrang sana.

Hye Ra tak mengerti apa maksud teriakan Hyun Hae sampai akhirnya ia merasa sebuah benda besar menabrak tubuhnya dengan keras sampai sampai ia bisa merasakan udara di bawah punggungnya sebelum sekujur tubuhnya terasa remuk akibat menghantam jalanan beraspal itu.

Dirasanya bau anyir menyeruak kedalam indra penciuman Hye Ra seiring dengan memburam pandangannya sebelum semua menjadi gelap.

Volume suara yang terdengar olehnya juga semakin kecil.. kecil.. kecil dan akhirnya yang tercipta hanya keheningan..

Dan kegelapan.

 

~Story Beginning~

 

Pancaran cahaya membentuk garis demi garis semu, menembus dengan mudahnya permukaan jendela kaca tanpa cela debu itu. Matahari baru saja menampakkan dirinya yang selalu bersinar dan menyinari diiringi dengan kicauan burung yang sahut menyahut memainkan sebuah simfoni nan indah.

Garis garis semu pancaran matahari itu menyinari tepat pada satu objek. Seorang wanita yang tengah terbaring lemah di ranjang lengkap dengan infus yang terhubung menembus kulit putih bersihnya dan juga perban yang membalut melingkari kepalanya.

Tepat di sebelah wanita itu, tengah tertidur pulas seorang bocah lucu berusia 3 tahun. Jemari jemari mereka tertaut erat, mensiratkan bertapa bocah itu menjaga dan mencintainya.

Tak lama berselang, terdengar suara pintu yang di buka. Suara derap langkah pun juga terdengar seiringan dengan sesosok namja berjas putih yang tengah menenteng kantong plastik berisikan beberapa makanan.

Langkah namja yang terdapat name tag bertuliskan nama “Lee Donghae” itu pun terhenti disaat melihat sebuah objek pandangan yang membuatnya tersentuh yang saat ini tersuguh di hadapannya.

“ Hyunie..” Tangan Donghae tergerak menggugah bocah kecil bernama Cho Hyun Hae itu untuk segera terbangun dari tidurnya.

Terlihat Hyun Hae tengah membuka dan mengerjap-ngerjapkan matanya untuk menyesuaikan retina dengan cahaya yang langsung menerobos masuk.

Appa..” Panggil Hyun Hae pada Donghae.

“ Bangunlah. Appa membawakan makanan untukmu.” Donghae mengangkat sedikit kedua kantong plastik di tangannya.

“ Tapi…”

Appa tidak menerima penolakan.” Donghae sedikit memicingkan matanya.

Hyun Hae menghela nafas dan kemudian beringsut turun dengan malas dari ranjang. Donghae tersenyum melihat tingkah Hyun Hae sambil meletakkan kantong plastik itu di atas nakas.

“ Cha… Ayo basuh wajah dulu.” Donghae meraih tubuh Hyun Hae dengan cepat ke dalam gendongannya.

Yes, Sir!

-oOo-

            “ Bagaimana?”

“ Aku berhasil, Eonni!” Terdengar suara dengan nada bangga di ujung sambungan telepon.

“ Baguslah. Kau sudah memastikan keadaannya?”

“ Sudah. Dia tak akan mati. Dia sudah mendapat perawatan di rumah sakit.”

“ Anak pintar. Kau ternyata tahu juga maksudku.”

“ Ya, aku memang mengetahui sifatmu itu, Eonni. Kau tak akan membiarkan seseorang mati dengan mudah sebelum kau puas menyiksanya. Betul?”

“ Jenius!”

Tersungging senyuman sinis disaat jeda pembicaraan itu. Sosok wanita cantik dengan aura angkuh yang mengitarinya itu menatap dengan tajam sebuah foto yang terpampang di layar laptopnya. Tangannya seketika mengepal erat menahan gejolak dari dalam tubuhnya. Entah ini perasaan senang yang begitu membuncah atau perasaan lainnya.

“ Hahaha.”

Gumawo.

“ Bukan Jung Rae Mi namanya kalau tak bisa menyelesaikannya dengan baik. Meskipun ini pengalaman pertamaku….”

“ Membalaskan dendam?”

Nde. Sebenarnya bukan dendam-mu saja, tetapi dendam-ku juga. Eonni tahu bukan selama 3 tahun ini aku harus mem-betah-kan diri melihat wanita jalang itu mendekati Donghae Oppa? Sungguh melihatnya membuatku muak!”

“ Hahaha. Kau sungguh jahat, Rae Mi-yaa!”

“ Hahaha. Kau yang menyebabkannya, Eonni.”

-oOo-

Appa..Appa..” Hyun Hae menepuk nepuk lengan Donghae yang tengah memangkunya.

“ Hmm. Ada apa, Hyunie?” Jawab Donghae sambil mengarahkan sesendok nasi lengkap dengan lauk berupa daging ikan ke mulut mungil Hyun Hae.

“ Lihatlah Eomma, Appa. Tangannya bergerak. Apa itu tandanya Eomma akan segera sadar?”

Donghae tersentak mendengar ucapan Hyun Hae. Matanya segera menatap kearah Hye Ra yang masih terbaring di atas ranjang. Di lihatnya dari ujung kepala hingga akhirnya berhenti pada jemari jemari Hye Ra yang bergerak walaupun hanya sedikit.

“ Hyunie, Appa akan periksa keadaan Eomma sebentar.” Donghae berdiri sambil mengangkat tubuh Hyun Hae dan mendudukkan di kursi yang sama dengan yang baru saja didudukinya.

“ Hyunie bisa melanjutkan sarapan sendiri, bukan?” Donghae menyodorkan piring berisi sarapan yang sebelumnya ia suapkan kepada Hyun Hae.

Ne.”

Donghae berjalan ke samping ranjang. Di tatapnya wajah Hye Ra dengan mata sendunya sebelum akhirnya tangan Donghae meraih pergelangan tangan Hye Ra. Dirasakan denyut nadi yang berdetak teratur. Hal itu membuat Donghae tersenyum lembut.

Eomma, akan sadar sebentar lagi.” Donghae membalikkan tubuhnya kembali kearah Hyun Hae yang tengah menyuap makanan meski matanya tetap memperhatikan kearah Donghae dan Hye Ra.

Jinjja!

Donghae mengangguk membenarkan. Ditatapnya wajah berseri seri Hyun Hae saat ini hingga membuatnya menyunggingkan senyuman.

“ Aku berjanji tak akan meninggalkan Eomma. Aku akan disini menunggu sampai Eomma membuka mata.” Kata Hyun Hae tegas sambil menegakkan duduknya.

“ Hyunie memang anak yang baik. Kau tahu, Appa sangat bangga padamu.” Donghae menekuk kakinya untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Hyun Hae. Di usapnya perlahan pucuk rambut berwarna kecoklatan itu dengan penuh sayang.

Hyun Hae tersenyum penuh bangga kearah Donghae. Hal yang paling ia senangi adalah ketika Appa-nya mengatakan bahwa ia bangga pada Hyun Hae. Sungguh Hyun Hae sangat menyukai ketika pujian itu di lontarkan padanya.

“ Hyu..nie..”

Tiba tiba suara serak dan hampir saja tak terdengar itu pun memecah keheningan yang sempat terjadi di ruangan bernuansa putih ini.

Eomma!!

-oOo-

Hari ini tepat seminggu setelah Hye Ra membuka kembali matanya dan sepenuhnya sadar menatap dunia. Itu berarti sudah 10 hari Hye Ra berada dan di rawat di rumah sakit. Sejujurnya ia sudah tak begitu betah berada di sini dengan bau bau obat yang menyeruak ke dalam hidungnya setiap hari. Ia juga merindukan makanan makanan selain bubur yang selalu di siapkan disini. Sungguh Hye Ra merasa jenuh dan segera ingin pulang menjalankan aktivitas sehari harinya.

“ Bagaimana keadaan Anda?” Tanya seorang lelaki setengah baya berbalutkan jas dokter yang baru saja memasuki ruang perawatan Hye Ra.

“ Aku sudah merasa sehat. Bolehkah aku pulang, Uissa?” Tanya Hye Ra penuh harap.

“ Saya akan memastikan dulu keadaan Anda dalam kondisi stabil.”

Dokter itu pun melakukan pengecekan terhadap kondisi tubuh Hye Ra dengan teliti. Tak ada sedikitpun yang terlewatkan.

“ Baiklah. Anda boleh pulang besok. Hari ini perbanyaklah istirahat.” Ujar Dokter itu sambil menutup map berisi laporan tentang perkembangan Hye Ra.

Gamshamnida, Uissanim.

-oOo-

            “ Jinjja? Eomma diperbolehkan pulang besok?”

“ Hmm. Kau senang ‘kan, Hyunie?”

Neomu neomu haengbokke!”

Hyun Hae merentangkan tangannya dan langsung memeluk tubuh Hye Ra erat dalam sekali gerakan. Hye Ra meletakkan dagunya diatas kepala Hyun Hae sementara tangannya mengelus lembut punggung anaknya itu.

“ Wah, rupanya aku mengganggu acara ibu dan anak ini.”

Appa!!” Hyun Hae sontak menoleh dan melepaskan pelukannya pada Hye Ra.

Mianhae Hyunie, beberapa hari ini Appa sangat sibuk. Banyak pasien yang harus Appa tangani sampai sampai tak ada waktu untuk bertemu Hyunie.” Donghae berjalan kearah ranjang Hye Ra dimana Hyun Hae tengah duduk di atasnya.

Appa, Hyunie sangat merindukan Appa!”

Nado.” Donghae mengambil tubuh Hyun Hae dan menggendongnya. Diciumi-nya pipi gembil itu dengan gemas.

“ Tapi, Appa sudah tahu kalau besok Eomma sudah boleh pulang ke rumah?”

Ne. Kim uissanim sudah mengatakannya pada Appa.” Kata Donghae tetap dengan menggendong Hyun Hae.

Hye Ra nampak tengah tersenyum menatap Donghae dan Hyun Hae yang tengah tertawa bersama. Sungguh hal ini membuat sedikit kelegaan di dalam hatinya. Entah apa alasannya.

“ Apa pekerjaanmu berjalan lancar?”

“ Mmm. Semua berjalan dengan baik karena aku selalu melakukannya dengan sempurna.”

“ Kau mulai menyombongkan diri lagi, Oppa.” Ujar Hye Ra sambil tergelak.

“ Hahaha. Bukankah orang hebat sepertiku diperbolehkan untuk sedikit menyombongkan diri?”

“ Huh. Kau benar benar sombong sekarang, Oppa. Kurasa aku tak menyukaimu lagi jika terus seperti ini.” Canda Hye Ra,

“ Kau menyukaiku? Benarkah?” Tanya Donghae dengan mata yang melebar dan raut wajah serius.

“ Itu… itu..”

Hye Ra mendadak kagok setelah menyadari kesalahan bicaranya. Saat ini otaknya tengah bekerja keras untuk menemukan alasan untuk meluruskan ucapannya itu. Hal itu membuat kepala Hye Ra sedikit sakit.

Appa, turunkan aku. Aku ingin bermain dengan anak di kamar sebelah.” Tiba tiba Hyun Hae angkat bicara memecahkan atmosfer kecanggungan di ruangan ini. Sepertinya ia mengerti kapan harus memberikan waktu untuk Appa dan Eomma-nya bicara berdua. Benar benar anak pintar.

Donghae menurunkan Hyun Hae dan anak itu berlari keluar, mengakibatkan hanya tersisa Hye Ra dan Donghae di ruangan ini. Hawa canggung semakin menyeruak. Suasana mendadak hening. Tak ada pembicaraan sedikit pun.

“ Apa benar kau menyukaiku?” Tanya Donghae setelah sekian lama diam.

“ Hahaha. Itu… ya.. aku memang menyukaimu, Oppa. Karena aku ingat selama ini kau selalu menjagaku dengan baik. Gumawo.”

“ Kau memang adalah sosok kakak yang selalu ku inginkan. Karena disaat bersamamu aku merasa aman.” Tambah Hye Ra.

“ Hahahaha. Aku juga menyukaimu, Kim Hye Ra. Kau adik yang paling ku sayangi.” Sangat jelas terlihat Donghae memaksakan senyum dan menawarkan sebuah tawa yang bahkan terdengar hambar.

“ Baiklah. Kurasa aku akan mulai sibuk lagi hari ini. Ada beberapa jadwal operasi. Aku pergi dulu. Jaga dirimu.” Donghae tersenyum ketika tangan kanannya mengacak lembut puncak kepala Hye Ra.

“ Semoga sukses.”

Donghae hanya mengacungkan ibu jari disamping tubuhnya  sambil terus berjalan kearah pintu.

‘Asal kau tahu, Hye Ra. Aku sama sekali tak pernah menganggapmu sebagai adik. Sungguh! Aku memandangmu dan menganggapmu sebagai wanita.’

-oOo-

            “ Sudah kau pastikan tidak ada barang yang tertinggal?” Tanya Donghae sambil menutup bagasi mobilnya.

Ne.”

“ Baiklah. Kajja!”

Hari ini, Hye Ra akan pulang ke rumah. Kembali dari kehidupan yang sangat membosankan yang sudah 11 hari dijalaninya di dalam rumah sakit. Sangat senang, sudah pasti. Bahkan Hye Ra sangat kegirangan saat membereskan barang barang yang ia bawa ke rumah sakit. Sudah terbayang di benaknya segala hal yang ia rindukan  dan tak bisa ia lakukan disaat dirumah sakit. Memabayangkan membuat jantung Hye Ra seperti melompat lompat.

Hye Ra membuka pintu mobil dan langsung menghempaskan tubuhnya di atas jok mobil. Disandarkan pula punggungnya sembari menghela nafas panjang untuk menyegarkan kembali paru parunya.

Eomma ingin melakukan apa sepulang dari rumah sakit?” Hyun Hae membalikkan tubuhnya yang tengah duduk di jok depan tepat di sebelah Donghae menjadi menghadap Hye Ra.

“ Emm. Entahlah. Hyunie ingin Eomma memasakkan sesuatu?” Hye Ra sedikit memajukan tubuhnya ke arah Hyun Hae.

Anni. Hyunie hanya ingin Eomma beristirahat.” Hyun Hae menggelengkan kepalanya tegas.

“ Manis sekali. Hyunie benar benar seorang lelaki! Appa bangga pada Hyunie.” Ujar Donghae yang baru saja masuk ke dalam mobil dan duduk di jok kemudi.

“ Dan itu berarti kita harus mengerjakan semua pekerjaan Eomma.” Hyun Hae membalikkan tubuhnya ke arah semula dan duduk dengan manis dengan tangan yang terlipat di depan dada. Ia menyunggingkan sebuah senyuman yang sedikit terlihat jahil ke arah Donghae.

“ Berarti Hyunie menyuruh Appa mengerjakan semuanya.”

“ Bersamaku, Appa.” Ujar Hyunie sambil tergelak melihat ekspresi Appa-nya itu.

-oOo-

Hye Ra mendudukkan tubuhnya di atas ranjang empuk yang hampir 2 minggu tak pernah ia tiduri itu. Buktinya, sprei beserta selimut itu masih terbentang rapi tanpa ada lipatan kusut sedikit pun.

“ Hhh~ setiap aku berada disini, aku malah merindukan suasana rumahku.” Hye Ra ber-monolog.

Hye Ra hanya duduk selama kurang lebih satu menit sebelum bangkit dan berinisiatif untuk menata kembali barang barang yang dibawanya saat di rumah sakit kembali pada tempat sebelumnya.

Drrt.. Drrtt..

Tiba tiba ponsel Hye Ra bergetar dan membuatnya langsung merogoh tas tangannya.

“ Jongwoon Oppa?”

Tanpa pikir panjang Hye Ra menekan tombol hijau untuk menjawab telepon kakak-nya itu.

Ne Oppa, Waeyo?

“ Bagaimana kabarmu, Hye Ra?”

Hye Ra termenung. Ia tak mungkin mengatakan bahwa dirinya baru saja pulang dari rumah sakit karena kecelakaan yang hampir saja merenggut nyawanya itu.

“ Aku baik baik saja. Bagaimana keadaanmu, Oppa?”

“ Aku sangat merindukanmu.”

“ Hahaha. Baiklah. Jika ada waktu aku akan pulang ke Korea.”

“ Justru itu yang ingin ku bicarakan denganmu.”

“ Maksud Oppa?”

“ Aku sudah menyiapkan tiket pesawat untukmu dan juga…. Keponakanku.”

Oppa?”

“ Jadwal penerbangannya lusa. Persiapkanlah dirimu.”

“ Tapi….”

“ Aku rasa aku harus menutup teleponnya. Kau tahu, sambungan telepon internasional sangatlah mahal.”

“ Dasar pelit!”

“ Hahaha. Anniya. Ada klien yang harus ku temui segera.”

“ Oke. Tutuplah teleponnya.”

Ne. Bogoshipeo. Sampai jumpa di Seoul lusa.”

Nado bogoshipeoso, Oppa.

PIP..

-oOo-

            “ Aku akan kembali ke Seoul lusa.”

“ Secepat itukah? Kau baru saja pulih, Hye Ra.”

Donghae menatap Hye Ra yang ada di hadapannya dengan tatapan tak percaya bercampur tatapan kaget.

“ Tapi aku juga merindukan Seoul. Sudah 3 tahun aku di Tokyo tanpa sekalipun pulang ke negara asalku.”

“ Tapi Hyun Hae….”

“ Aku akan membawanya bersamaku.”

“ Hye Ra, kau tahu aku sangat mengkhawatirkanmu…”

“ Kumohon Oppa. Aku juga ingin berkumpul dengan keluargaku lagi.”

Donghae tersentak kaget disaat tangan Hye Ra sudah menggenggam erat tangannya. Hye Ra terlihat tengah meyakinkan Donghae bahwa ia akan baik baik saja.

“ Baiklah. Aku juga tidak mempunyai hak khusus untuk melarangmu bertemu keluargamu kembali.” Tersirat sebuah nada ketidak relaan setelah hembusan nafas panjang dan berat seorang Lee Donghae.

Gumawo, Oppa. Aku berjanji akan menjaga diriku dan Hyun Hae dengan baik disana.”

Hye Ra berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah Donghae. Direngkuhnya leher namja itu dari belakang.

“ Sekali lagi. Terimakasih, Oppa.

Hye Ra melepas pelukan singkatnya itu dan berjalan meninggalkan Donghae yang masih termenung di ruang keluarga. Sendirian. Dengan pikiran yang berkecamuk hebat didalam sana.

‘ Aku tak mempermasalahkan kau bertemu keluargamu kembali. Tetapi aku takut satu hal.. Kau bertemu dengan laki laki itu lagi dan tak akan bisa kembali ke sisiku. Sungguh aku takut, Kim Hye Ra.’

-oOo-

Hari masih menunjukkan pukul enam waktu Tokyo. Matahari bahkan masih tampak terlalu enggan muncul dan menjalankan tugas sebagaimana mestinya. Tetapi berbeda dengan dua orang dewasa yang tengah berjalan di antara seorang anak kecil yang sibuk menggeret koper kecilnya.

“ Kapan pesawatmu akan lepas landas?” Tanya Donghae pada Hye Ra yang ada di hadapannya.

“ Setengah jam lagi.”

“ Mengapa kau mengambil pesawat pagi? Padahal aku masih ingin lebih lama bersama kalian. Kita bisa membeli buah tangan terlebih dahulu atau apapun.”

“ Aku tak tahu. Oppa-ku yang menyediakan tiket ini.”

“ Emm. Baiklah. Tapi.. kapan kau akan kembali?”

“ Segera.”

“ Aku akan selalu menunggumu.”

Hye Ra hanya membalasnya dengan senyuman. Cukup lama Hye Ra dan Donghae saling bertatapan tanpa adanya kata kata. Ya, hanya menatap manik mata satu sama lain dalam dalam.

Eomma, bukankah kita harus check in?” Hyun Hae menarik pelan ujung dress panjang yang di kenakan Hye Ra.

“ Ooh.. ne.. kita harus check in sekarang.” Hye Ra mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Sunguh terlihat sebuah kecanggungan dari sorot matanya.

“ Emm. Benar. Kalian harus segera check in.” Ujar Donghae sambil mengamati arloji di pergelangan tangannya.

Dalam hati Donghae terus berharap agar waktu berhenti saat ini juga. Tepat disaat Hye Ra masih berada di hadapannya dan masih berada di area penglihatannya. Ia ingin waktu berhenti dan berputar kembali dimana saat Hye Ra belum bertemu dengan Kyuhyun. Ia ingin Hye Ra menemukannya terlebih dahulu karena ia berjanji akan merubah semua kehidupan menyedihkan Hye Ra selama ini. Tentu dengan kebahagian.

Appa…

Appa akan sangat merindukanmu, Hyunie.”

“ Jaga diri Appa baik baik.”

“ Hahaha. Kau lucu sekali. Seharusnya Appa yang berkata padamu seperti itu.”

“ Aku janji akan menjaga diriku sendiri dan juga menjaga Eomma.” Hyun Hae menyudahi pelukannya kepada Donghae. Terlihat mata bulat itu sedikit berair karena ingin menangis.

“ Hye Ra, jaga dirimu. Aku tak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika kau kembali dengan keadaan yang tidak baik.”

“ Kau sudah mengatakannya berkali kali, Oppa.

Oppa, terimakasih untuk selama ini. Terimakasih sudah menjagaku, merawatku dan menyayangiku. Dan.. terimakasih sudah merahasiakan identitas dan keberadaanku disini. Aku berhutang padamu, Oppa.” Hye Ra memeluk ringan tubuh Donghae.

“ Aku senang… aku senang kau berada disisiku.”

-oOo-

Di dalam ruangan yang di dominasi warna coklat ini, tengah duduk seorang namja tepat di depan laptop. Matanya dengan jeli mengamati setiap deret kata yang terdapat pada layar datar itu. Serentetan tulisan yang merupakan e-mail yang dikirim oleh detektif bayarannya itu di baca dengan begitu cermat. Tak ada satu huruf pun yang terlewat.

‘ Selama ini nona Kim Hye Ra mengganti namanya menjadi Yoshizawa Naoko. Ia juga mengganti tanggal lahir dan seluruh identitasnya. Hal itu yang selama ini menyusahkan kami untuk melacak keberadaannya. Informasi yang kami dapat, ia baru saja lulus dari Universitas Tokyo jurusan Kedokteran dan nona Kim Hye Ra tinggal di daerah Bunkyo dekat dengan Universitas Tokyo. Kerap beberapa kali ia terlihat tengah bersama seorang anak kecil yang kira kira berusia 3 tahun yang setelah kami selidiki bernama Hyun Hae.’

“ Hyun Hae? Apa mungkin……”

Namja bermarga Cho itu mengambil ponsel yang ada tepat di sebelah laptop-nya itu dengan gerakan cepat.

Yeobseo.

“ Anda sudah membaca e-mail saya?”

“ Ya. Tolong berikan alamat lengkap rumah Hye Ra. Aku akan menyusulnya sendiri ke Jepang hari ini.”

“ Baik. Saya akan kirimkan segera.”

Kyuhyun mematikan sambungan telepon dan langsung meletakkan kembali ponselnya di atas meja.

“ Hhh~ begitu sulit untuk menemukanmu. Tetapi disaat saat terakhir akhirnya aku bisa menemukanmu.” Kyuhyun menghela nafas panjang. Mengeluarkan semua hembusan nafas yang sempat ditahannya tadi.

Ditegapkannya lagi tubuh yang sudah terlanjur tersandar pada sandaran kursi itu.Tangan kanannya bergerak lincah menggerakkan mouse dengan meng-double klik sebuah file yang baru ia sadari juga terlampir di badan e-mail.

Sedetik kemudian terbukalah file berformat .jpg itu. Lagi lagi Kyuhyun hanya bisa diam dan menahan nafasnya. Sebuah foto wanita yang selama ini di carinya dan juga dirindukannya. Kim Hye Ra. Tak ada yang berubah. Ia masih memiliki senyum malaikat itu. Ia masih memiliki pancaran semangat di kedua manik mata hitamnya itu.

Drrrt.. Drrrt..

Beruntung suara getaran ponsel Kyuhyun mampu mengembalikan pemiliknya dari dunia pikirannya sendiri. Dan juga membuat Kyuhyun ingat bagaimana cara menghembuskan nafas kembali.

Di sambar cepat ponselnya untuk melihat siapa yang mengirim pesan untuknya. Benar saja, detektif Jang mengirimkan sederet alamat lengkap berdomisili Jepang itu.

Kyuhyun segera berdiri dan mengambil jas hitam yang tersampir di sofa. Ia juga mengambil koper berukuran sedang dan dimasukkan kebutuhan kebutuhannya saat disana. Setelah dirasa semua selesai, Kyuhyun bergegas keluar dari kamarnya.

Waktu seperti tengah mengejarnya tanpa henti. Namja itu melangkahkan kakinya dengan cept saat menuruni setiap anak tangga yang membentang panjang ke bawah.

“ Kau mau kemana, Kyuhyun-aah?” Suara berat itu sukses membuat Kyuhyun menghentikan langkahnya dan menoleh ke sumber suara.

Dilihat ayahnya yang tengah menyesap secangkir teh gingseng sambil membaca koran dan juga ibunya yang sedang memakan buah buahan segar tepat disamping suaminya itu.

“ Aku akan ke Jepang.”

Mwo?!

“ Aku akan menjemput gadis-ku. Dan memperkenalkannya kepada kalian.”

“ Tetapi keluarga gadis yang akan kami kenalkan padamu akan datang besok, Kyuhyun-aah.”

Mianhamnida, Eomma. Tetapi aku harus tetap ke Jepang.”

“ Tidak! Aku tidak mengizinkanmu!”

Aboji?”

“ Seharusnya kau membawanya jauh jauh hari sebelum aku akan memperkenalkanmu dengan anak relasiku.”

“ Tetapi Aboji. Aku benar benar tak bisa. Aku tak bisa mencintai selain wanita itu.”

“ Tak ada membantah! Kau tak ku izinkan pergi.”

Mianhamnida, Aboji. Saat ini aku harus egois.”

Di cengkramnya kuat kuat tuas kopernya dan ia melangkahkan kakinya lagi menuju pintu utama.

Yeobo-yaa!!

Sebuah teriakan histeris dari balik badan Kyuhyun membuatnya lagi lagi harus menghentikan laju kakinya dan membalikkan tubuhnya.

Aboji!” Mata Kyuhyun membulat melihat ayahnya yang tengah terkapar di lantai dengan tangan yang memegangi dada kirinya.

-oOo-

            “ Detektif Jang, aku tak bisa ke Jepang. Tolong kau saja yang bawa Hye Ra kembali ke Korea.”

“ Tetapi Tuan Cho, saya baru saja menyelidiki dan mendapat info bahwa hari ini nona Kim Hye Ra sudah meninggalkan Jepang dan pergi ke luar negeri. Lagi lagi kita tak bisa melacak tujuannya. Sepertinya nona Kim Hye Ra mempunyai seorang kenalan yang berpengaruh di Jepang sehingga data data selama dia berada di sana sangat sulit di lacak.”

“ Seseorang?”

“ Kami masih mengupayakannya dan berusaha yang terbaik.”

“ Baiklah. Jika ada perkembangan, segera hubungi aku.”

Ye.”

PIP.

Kyuhyun menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Di helanya nafas kasar sembari memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana jeans-nya itu. Kedua telapak tangan hampa itu tergerak untuk mengusap wajahnya yang terlihat sudah sangat kusut itu. Diacaknya frustasi rambut berwarna coklat tua itu.

Dengan gusar ditatapnya sosok paruh baya yang tengah terbaring lemah di ranjang tepat di samping kursi tempat Kyuhyun duduk.

Aboji. Aku sangat mencintainya. Tetapi aku pernah melakukan hal yang benar benar buruk. Aku ingin meminta maaf dan ingin memulai dari awal bersamanya.”

“ Masih banyak hal yang ingin ku bicarakan dan ku lakukan dengannya.”  Ujarnya lirih.

Ditatapnya iba sang ayah yang belum juga sadarkan diri. Terbesit sebuah perasaan bersalah yang sedikit membuatnya kembali berfikir. Kyuhyun menundukkan kepalanya dalam. Terdengar berkali kali ia menarik nafas dan menghembuskannya dengan keras. Saat ini di dalam hati dan pikirannya sedang terjadi sebuah badai hebat. Ia benar benar harus memutuskannya. Keputusan yang berimbas pada kelanjutan hidupnya nanti.

“ Baiklah. Aku akan melepaskannya. Aku mencoba.”

“ Maaf Aboji. Telah membuatmu kembali terbaring lemah.”

-oOo-

Hari masih pagi, matahari baru saja menyapa belahan dunia ini sekitar sejam yang lalu, tetapi itu tak berpengaruh pada keadaan Bandara Incheon yang sudah mulai padat. Banyak orang yang berlalu lalang.

Diantara banyak orang yang tengah sibuk berlalu lalang itu terlihat sesosok wanita dengan kacamata hitam yang menggantung apik pada batang hidungnya yang mancung dan juga memberi kesan elegant pada sang pemakai. Dia tengah berjalan melewati pintu kedatangan internasional dengan menggandeng seorang anak laki laki yang begitu terlihat tampan dengan balutan jaket rajutan berwarna biru dongker dan juga kacamata yang sengaja di selipkan di antara helaian rambut tebalnya. Merekalah Kim Hye Ra dan Hyun Hae.

“ Woaaah.”

“ Inilah Korea, Hyunie. Apa Hyunie senang?”

Ne. Tak jauh beda dengan Tokyo. Tapi eomma, apa samchon sudah datang untuk menjemput kita?”

Chakkaman.” Untuk beberapa saat Hye Ra melepas kacamata hitamnya dan menyipitkan matanya untuk mencari sosok namja itu. Kim Jongwoon. Kakaknya.

Kajja.” Hye Ra tersenyum senang ketika berhasil menemukan kakaknya diantara kerumunan orang. Ia langsung menggandeng kembali tangan Hyun Hae dan melangkah beriringan kearah Jongwoon.

Oppa!!

-oOo-

            “ Welcome to our house, My Dear!” Ujar Jongwoon sambil membuka lebar lebar pintu utama rumah bergaya mediteran ini.

“ Woaaah. Tak begitu banyak perubahan. Kau tahu Oppa, aku sangat merindukan suasana di rumah ini.”

Samchon.” Panggil Hyun Hae.

Ne, Hyunie. Waeyo?” Jongwoon sedikit membungkukan tubuhnya.

“ Apa eomma dan samchon selalu tinggal berdua? Mana haraboji dan halmeoni?”

Haraboji dan halmeoni sedang berada di Paris karena harus mengurus bisnis. Hyunie pasti tahu Paris, bukan?”

Ne. Ibukota Perancis?”

“ Anak pintar.” Jongwoon tersenyum sambil mengusap lembut puncak kepala Hyun Hae.

“ Ahh.. samchon neoumu kyeopta. Mata samchon bisa menghilang saat tersenyum.”

“ Hahahahaha. Kau benar, Hyunie.” Hye Ra terkikik geli mendengar penuturan anaknya itu.

“ Kau tahu, Hyunie benar benar terlalu pintar dan kadang terlalu jahil untuk anak seumurannya.” Dengus Jongwoon sambil menatap Hye Ra.

“ Hahahaha. Hyunie memang anak yang seperti itu. Tapi bukankah itu lucu?”

‘ Dia benar benar mewarisi sifat ayahnya. Mirip sekali!’ Ucap Jongwoon dalam hati.

“ Oh ya, samchon. Kapan Hyunie bisa bertemu dengan haraboji dan halmeoni? Hyunie sangat ingin bertemu mereka.”

“ Hyunie pasti akan bertemu dengan mereka. Tenang saja!”

-oOo-

Jongwoon menghentikan langkahnya ketika melihat Hye Ra tertawa lepas disaat tengah bermain dengan Hyun Hae. Seulas senyum tersungging di bibirnya. Ada perasaan sedikit lega yang menyeruak di dalam dadanya. Akhirnya Hye Ra bisa kembali tertawa tanpa terlihat sedikit pun beban yang tengah menghimpitnya.

Tetapi, disatu sisi ia merasakan sebuah keanehan. Hye Ra sudah tak pernah mengungkit ungkit tentang Kyuhyun semenjak kembali ke Seoul. Apakah ia sudah benar benar melupakan Kyuhyun dan perasaannya? Atau mungkin telah ada yang menggantikan posisinya di hati Hye Ra? Tetapi apakah semudah itu?. Banyak pertanyaan yang memenuhi kepala Jongwoon seputar Hye Ra dan Kyuhyun. Rasa penasaran mau tak mau ikut membuncah. Tetapi niatan untuk bertanya itu ia urungkan karena Jongwoon tak mau merusak suasana hati Hye Ra yang tampak sangat bahagia ini.

“ Hey.. hey.. apa kalian tidak lelah terus tertawa terbahak bahak seperti itu?” Jongwoon akhirnya memutuskan untuk ikut bergabung dengan Hye Ra dan Hyun Hae yang tengah asyik bercanda di ruang tengah.

Anniya. Di Jepang aku selalu bercanda seperti ini dengan Hyunie.”

“ Iya. Hyunie selalu bercanda dengan appa dan eomma. Kadang kadang perut Hyunie sampai sakit karena terlalu lama tertawa. Hahahaha.”

“ Hahaha. Benar.”

‘Appa?’

-oOo-

Hye Ra melepaskan ikat rambutnya dan kemudian duduk di depan meja rias. Di ambilnya sisir yang tergeletak di atas meja itu dan mulai menyisirkannya ke rambut hitam nan lurus itu. Ditatapnya pantulan gambar diri yang terbias lurus dan tegak itu dengan seulas senyum. Hye Ra menatap cermin cukup lama. Entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini. Ia terlihat tengah berpikir dalam tatapan kosongnya itu.

Raut wajahnya seketika berubah. Senyuman itu tak lagi terkembang. Hye Ra menjadi tampak begitu gelisah. Butir demi butir keringat mulai membasahi pelipisnya.

“ ARGGH!” Hye Ra meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangan.

Dengan tangan yang gemetar itu, diraihnya gelas berisi air mineral yang kebetulan berada di dekatnya. Segera ditenggaknya habis tak bersisa air mineral itu.

“ Hari ini aku begitu kelelahan. Aku harap Jongwoon Oppa mempunyai persediaan obat sakit kepala.”

Hye Ra beranjak dari duduknya dan melangkah keluar kamar dengan sedikit terhuyung huyung.

Oppa.” Hye Ra memanggil Jongwoon yang tengah menonton televisi dengan nada lemah.

“ Hye Ra. Apa ada masalah? Kau terlihat pucat.” Jongwoon terkesiap melihat keadaan Hye Ra yang lemas.

“ Aku hanya merasa sedikit pusing. Apa Oppa punya obat sakit kepala?”

“ Aku punya. Duduklah. Aku akan mengambilnya.”

“ Hmm. Baiklah.”

Hye Ra duduk di sofa yang sebelumnya di duduki oleh kakaknya itu. Tangan kanannya tergerak untuk memijat dahinya yang terasa sedikit pening itu.

Ige. Minumlah.”

Gumawo, Oppa.”

Hye Ra mengambil pil yang di sodorkan oleh Jongwoon dan langsung menelannya.

Ige.” Jongwoon menyodorkan air mineral kepada Hye Ra.

Ne.”

Hye Ra mendesah lega setelah sebutir obat tadi telah diminumnya. Dirasa kepalanya sudah sedikit membaik.

“ Kemarilah.” Tiba tiba Jongwoon  menepuk nepuk pahanya sebagai isyarat agar Hye Ra merebahkan kepalanya di sana.

Mau tak mau Hye Ra menuruti keinginan kakaknya itu. Direbahakan kepalanya di atas paha Jongwoon.

“ Mungkin ini akan sedikit meredakan sakit kepalamu dan mungkin akan membuatmu sedikit mengantuk.”

Tangan berjari mungil itu mulai menyentuh dahi Hye Ra dan memijatanya dengan arah yang teratur. Diulanginya berkali kali gerakan dengan arah yang sama itu, dari kedua sisi dahi ke satu titik tepat diantara kedua alis Hye Ra.

Hye Ra merasa sakit kepalanya mulai mereda dan digantikan oleh rasa kantuk yang membuai untuk cepat menutup kedua matanya. Tanpa ada penolakan, Hye Ra pun menutup matanya dan tertidur pulas.

“ Kau benar benar tak berubah, Kim Hye Ra.”

-oOo-

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 7 malam waktu Korea. Di sebuah ruang keluarga yang sangat luas dan megah itu, tengah duduk sepasang suami istri paruh baya dengan pakaian yang terlihat glamour khas kaum pejabat.

“ Mengapa Kyuhyun lama sekali?” Tanya pria bernama Cho Yeung Hwan itu kepada istrinya, Cho Hana.

“ Sebentar lagi ia akan turun. Sabarlah.”

Tak lama kemudian, terdengar sebuah derap langkah dari arah tangga. Yap, Cho Kyuhyun!. Setelan jas hitam yang membalut kemeja putih itu terlihat begitu apik membalut tubuhnya. Dari ujung rambut sampai ujung kaki benar benar sempurna. Tak ada cela sedikit pun. Dialah sosok yang paling diidam idamkan hampir seluruh wanita.

“ Apa kau sudah siap?” Tanya pria paruh baya itu lagi.

Ye, Aboji.

Ia berbohong karena sama sekali tak ada kata siap dalam dirinya untuk apa yang akan terjadi malam ini. Malam ini akan menjadi malam dimana ia harus melupakan Hye Ra dan akan bertemu dengan seseorang yang akan di jodohkan dengannya. Hhh~ sungguh malam yang buruk!.

“ Jae Min-ssi. Antarkan kami ke restaurant N-Grill.”

“ Baik Tuan.”

-oOo-

Oppa, sebenarnya kita mau kemana?” Tanya Hye Ra sambil membenahi lipatan pada gaun malam berwarna biru tua itu.

“ Mengajakmu dan Hyun Hae ke suatu tempat.”

“ Tetapi apa harus memakai pakaian formal seperti ini?”

“ Sudahlah.”

“ Beritahu aku terlebih dahulu kemana kita akan pergi. Baru aku akan ikut.”

“ Baiklah.. Baiklah.. Kita akan makan malam di N-Grill.”

“ N-Grill? Namsan?”

“ Ya. Kau senang?”

Ne.”

..TBC..

I Can’t Hate You, Cho Kyuhyun! ( It’s Your Baby ) Part 11

new

Tittle               : I Can’t Hate You, Cho Kyuhyun! ( It’s Your Baby )

Author            : Hilyah Nadhirah / Shin Hye Mi

FB                   : www.facebook.com/hilyah.nadhirah

Twitter           : www.twitter.com/#!/HilyahNadhz

WordPress      : www.nadhzworld.wordpress.com

Genre             : Sad Romance

Rating             : PG-15          

Leight             : Chapter

Main Cast      : Cho Kyuhyun, Kim Hye Ra, Kim Jongwoon

Disclaimer      : Don’t Bash.. Don’t PLAGIARISM..

 

FF I Can’t Hate You, Cho Kyuhyun! ( It’s Your Baby ) Part 1-10 bisa langsung klik di

www.nadhzworld.wordpress.com

~ HAPPY READING!!! ~

 

 

 

 

 

               “ Kau mau memberinya nama siapa?”

“ Emm.. aku akan memberi nama Hyun Hae. Cho Hyun Hae.”  Hye Ra menyebut marga “Cho” itu dengan lirih dan menundukkan kepalanya.

“ Nama yang baik. Hyun Hae. Ada nama kecilku juga disana. Gumawo Hye Ra.”

“ Emm.” Hye Ra tersenyum simpul.

Annyeong Cho Hyun Hae. Appa disini.” Ujar Donghae sambil melambaikan tangannya kearah bayi yang masih berada dalam gendongan Hye Ra.

Appa?”

 

~ Story Beginning ~

-Introducing-

tumblr_lmvafui4WS1qbulz0o1_400

(Cho Hyun Hae)

 

Udara pembawa embun berhembus cukup kencang pagi ini. Berlalu lalang menunggu biasan Sang Surya yang mungkin sebentar lagi akan menggantikannya. Menghilangkan rasa dingin yang menggigit permukaan kulit ini dengan pancaran sinar hangat yang menembus lapisan awan tipis nan terlihat lembut.

Disebuah rumah berasitektur elegant ini, terlihat sesosok namja berbalutkan T-shirt yang dipadu-padankan dengan celana training panjang itu tengah melangkahkan kakinya menuju sebuah kamar.

Ayunan kakinya pun terhenti di ambang pintu berbahan dasar kayu jati ini. Terkembang seulas senyum pada bibir tipis dan merah itu. Mata berpancarkan sebuah kesenduan tersendiri itu pun sedikit menyipit menatap objek yang ada di hadapannya saat ini.

Dilihatnya gumulan selimut putih yang tebal itu tengah berada di atas springbed king size itu. Rasa gemas tiba tiba menjalar di sekujur tubuhnya. Membuatnya ingin berlari dan segera memeluk erat gumulan selimut tebal itu.

“ Hiyaaaa..Ppaliwa irreona..Namja itu akhirnya berlari dan langsung menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang empuk itu. Di peluknya erat erat selimut tebal yang ada di sampingnya itu. Diselipkan tangannya kedalam selimut dan mulai melancarkan aksinya. Menggelitiki tubuh yang masih terbungkus selimut itu.

“ Akkhh. Geli. Hahahaha.” Selimut itu akhirnya tersibak dan langsung memperlihatkan wajah imut berpipi gembil yang matanya tengah menyipit menahan rasa geli yang tercipta pada tubuhnya akibat ulah tangan namja bernama Lee Donghae yang sedari tadi bergrilya menggelitiki tubuh mungil itu

“ Ayo bangun. Hari ini, hari pertama Hyunie sekolah.” Donghae menghentikan aktivitas menggelitik-nya dan langsung beralih merengkuh tubuh bocah mungil itu keatas tubuhnya yang tengah telentang di atas kasur dan mendudukkannya di atas perut Donghae.

“ Ahh.. Tapi Hyunie masih mengantuk.” Bocah berusia 3 tahun itu lunglai dan langsung merebahkan tubuhnya diatas tubuh Donghae. Matanya tertutup kembali.

Andwae.. Andwae.. Andwae.. Hyunie harus pergi mandi, sarapan, dan pergi ke sekolah.” Donghae bangkit dari tidurnya dan langsung menopang punggung bocah lucu bernama Cho Hyun Hae yang masih bersikukuh menutup matanya erat erat.

Donghae beringsut dari ranjang sambil tetap menggendong tubuh mungil Hyun Hae. Bocah yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri itu pun masih enggan bergeming. Dirasanya pelukan dan gendongan Donghae adalah hal yang begitu nyaman dan tak rela ia lepaskan sedetikpun.

Lihatlah eomma, dia sudah bangun sejak pagi dan sekarang sedang membuat masakan untuk Hyunie. Jika Hyunie masih belum mau bangun, eomma akan sedih karena masakannya tidak Hyunie makan.” Donghae membawa Hyun Hae yang masih setia di dalam dekapannya itu ke ruang makan. Dilihatnya Hye Ra yang tengah berkutat di depan penggorengan.

“ Eungghh.” Hyun Hae hanya menggeliat pelan sebelum tidur kembali di dalam gendongan Donghae dengan tangan yang semakin melingkar erat di leher namja berkulit putih itu.

“ Hei.. ayo bangun anak tampan.” Donghae kembali menggelitiki perut Hyun Hae.

Hyun Hae seketika membuka matanya dan tertawa sambil menggeliatkan tubuhnya menghindari tangan Donghae yang masih berada di perutnya.

“ Hahahaha. Hentikan. Hahahaha.”

“ Tidak akan sebelum Hyunie benar benar bangun.”

“ Hahahaha.. tapi.. hahahaha.. tapi Hyunie sudah membuka mata.” Ujar Hyun Hae disela sela tawa kegeliannya.

“ Anak pintar.” Ujar Donghae sambil menatap mata Hyun Hae.

Donghae masih merasa gemas melihat bocah berpipi gembil ini. Memang, Donghae adalah seorang yang begitu sayang kepada anak anak. Apalagi pada Hyun Hae. Ia menyayangi bocah ini melebihi anak manapun.

“ Tapi Hyunie ingin naik pesawat dulu.” Ujar Hyun Hae polos.

“ Oo. Baiklah.” Donghae tersenyum. Ia mangangkat tubuh Hyun Hae dan mendudukannya di pundaknya.

“ Sudah siap untuk lepas landas, Mister?”

Ne!.” Seru Hyun Hae penuh semangat.

Donghae lantas berlari mengitari meja makan sambil kedua tangannya memegang erat jemari jemari mungil Hyun Hae.

EOMMA!! Aku terbang!” Teriak Hyun Hae pada Hye Ra yang tengah sibuk dengan tumis masakannya.

“ Hati hati, Sayang.” Ujar Hye Ra sambil tersenyum ke arah Hyun Hae.

“ Sebentar lagi kita akan melakukan manufer, Mister.” Seru Donghae dengan tak kalah heboh.

Dengan terus berlari mengitari setiap sudut ruang makan, Donghae memiringkan sedikit tubuhnya. Hal itu membuat Hyun Hae berteriak.

“ HWAAAA.. AKU TAKUT JATUH.. APPA!!

DEG..

Donghae langsung menghentikan laju kakinya. Matanya memandang jauh tepat kearah Hye Ra yang sepertinya juga tersentak kaget mendengar kata terakhir yang meluncur dengan mudahnya dari mulut mungil Hyun Hae.

Sama seperti Donghae, Hye Ra tersentak kaget dengan apa yang di ucapkan anaknya itu sampai sampai ia membalikkan tubuhnya. Tatapannya terkunci pada mata Donghae yang juga sedang menatapnya tanpa berkedip sedetikpun.

Appa.. mengapa berhenti?” Tanya Hyun Hae yang sukses membuat lamunan Donghae dan Hye Ra buyar.

“ Ahh. Ne.

Hye Ra masih terpaku menatap dua orang lelaki yang sudah seperti ayah dan anak itu. Dikembangkan sebuah senyum di bibirnya disaat Donghae menatapnya lagi untuk memastikan keadaannya baik baik saja.

Hye Ra berbalik ke arah semula. Tanpa disangka sangka sejurus kemudian, air mata meluncur dengan derasnya dari kedua pelupuk matanya. Mencoba menangis didalam keheningan, mencoba untuk tak mengeluarkan isakan sekalipun. Karena ia tak ingin anaknya melihat sisi lemah Hye Ra.

Sisi lemah…

Yang selalu di akibatkan oleh satu hal…

Cho Kyuhyun..

***

Laju audy hitam metalik itu perlahan berhenti tepat di depan gerbang sebuah bangunan yang merupakan Playgroup tempat Hyun Hae akan memulai sekolahnya hari ini.

“ Cha, kita sudah sampai.” Donghae mencondongkan tubuhnya kearah Hyun Hae untuk menggapai seatbelt yang menyilang di tubuh bocah bermata onyx ini.

Kajja.” Kata Donghae setelah berhasil membuka seatbelt di tubuh Hyun Hae.

Tak ada jawaban sedikitpun dari Hyun Hae. Donghae mengerutkan dahinya disaat melihat ekspresi Hyun Hae yang tengah melipat kedua tangannya di depan dada dan juga menggembungkan kedua pipi yang berona merah itu.

“ Ada apa, Hyunie?” Tanya Donghae sambil mengelus lembut puncak kepala Hyun Hae.

Hyun Hae tak menjawab namun hanya melirik Donghae sekilas kemudian kembali menatap lurus kedepan.

“ Hei anak tampan. Ada apa?” Tanya Donghae sambil menangkup kedua belah pipi yang menggembung itu.

“ Hyunie tak mau berpisah dengan Appa. Hyunie ingin ikut Appa saja ke rumah sakit. Hyunie tak mau sekolah.” Hyun Hae menatap Donghae dengan wajah memelas.

“ Tak boleh begitu. Bukannya Hyunie ingin menjadi penguasa dunia? Dan penguasa dunia itu harus pintar. Tidak boleh malas sekolah.” Ujar Donghae memberi pengertian pada Hyun Hae.

Tampak Hyun Hae tengah merenung mencoba meresapi ucapan namja yang dianggap sebagai ayahnya itu. Tak lama kemudian, sebuah senyuman lebar tergambar jelas di kedua sudut bibir bocah tampan ini. Senyumannya begitu manis sekaligus mematikan. Kau tahu bukan, siapa yang menurunkan senyuman seperti itu?

Ne. Aku akan sekolah. Karena aku ingin memiliki seluuuuruh dunia.” Ujar Hyun Hae penuh semangat sambil merentangkan tangannya lebar untuk memberi gambaran atas seberapa besar dunia yang ingin ia miliki.

“ Anak pintar! Kajja!.”

***

               “ Gamshamnida. Saya mohon bantuannya untuk menjaga Hyun Hae.” Donghae sedikit membungkukkan tubuhnya di hadapan seorang wanita yang merupakan salah satu guru di Playgroup ini.

Ne.” Wanita yang kira kira berusia 35 tahun itu membalas senyuman Donghae dengan ramah.

“ Hyunie, ayo ucapkan salam pada Jung seongsenim.” Donghae mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Hyun Hae yang berada di sampingnya.

Annyeonghaseo, Jung seongsenim. Noneun Hyun Hae imnida.” Hyun Hae membungkukkan tubuhnya sambil tersenyum lebar.

“ Ahh. Kyeopta.” Jung seongsenim menggapai pipi Hyun Hae dan mencubitnya pelan.

Entah daya tarik apa yang dimiliki Hyun Hae sehingga setiap orang yang melihatnya langsung mendadak gemas. Hahahaha Hyun Hae benar benar akan menjadi namja yang mempesona nantinya.

“ HWAAAA.. APPO!” Tiba tiba terdengar raungan seorang anak kecil dari arah belakang. Hal itu sontak membuat Hyun Hae dan Donghae membalikkan tubuhnya.

Omo! Dia terluka. Appa, Appa.. cepat bantu dia.” Hyun Hae menarik narik ujung celana bahan yang di kenakan Donghae.

Ne.” Donghae pun menghampiri yeoja kecil yang tengah meraung raung kesakitan itu dan langsung menggendongnya. Dilihatlah sekilas lutut bocah itu, terdapat luka menganga.

“ Dimana ruang kesehatannya?” Tanya Donghae pada Jung seongsenim.

“ Disana.”

Donghae menganggukkan kepalanya tanda mengerti dan akhirnya langsung melangkah lebar menuju arah yang ditunjukkan Jung seongsenim.

“ Apa dia Appa-mu?” Hyun Hae menolehkan kepalanya dan menghadap sesosok yeoja seumurannya tengah berdiri disampingnya untuk menunggu jawaban Hyun Hae.

Ne. Dia Appa-ku.”

“ Woaah. Jeongmal? Pasti kau bangga sekali mempunyai Appa seorang dokter yang hebat.”

Hyun Hae tersenyum sambil memandang lurus kedepan, dimana punggung Donghae hampir tak terlihat olehnya.

Ne. Aku bangga sekali. Dia Appa yang paling hebat di dunia.” Hyun Hae menoleh kearah gadis kecil itu sambil memamerkan senyuman lebarnya.

-oOo-

Setelan jas hitam membalut kemeja putih dengan sentuhan simpulan dasi sempurna di bagian lipatan kerah itu terlihat begitu apik saat dikenakan oleh seorang namja yang tengah berdiri tegap memandang kearah luar ruang kerjanya dari balik jendela berukuran besar itu.

“ Jika ada perkembangan kabar tentang dimana keberadaan Kim Hye Ra saat ini, tolong segera hubungi aku.” CEO muda dan berbakat bernama Cho Kyuhyun itu pun mengakhiri pembicaraan via telepon itu dan langsung memasukkan ponsel keluaran terbaru miliknya ke dalam saku celana.

Ia memutar arah tubuhnya dan berjalan menuju meja kerjanya. Setelah duduk di kursi kebesarannya itu, mata bermanik coklat tua itu menatap tajam setumpuk map berisi berkas berkas yang harus di tandatangani.

Cukup lama ia terdiam dengan pandangan yang masih menatap tumpukan map itu sampai pada akhirnya ia menghela nafas kasar. Ditopang kepalanya dengan sebelah tangannya. Dipijitnya dahi yang mulai berdenyut denyut itu, memberikan efek pusing di dalam kepala Kyuhyun.

“ Sungguh aku tak bisa bekerja dengan baik. Aku selalu memikirkannya.” Gumam Kyuhyun.

Kembali terngiang pembicaraan via telepon dirinya dengan Detektif Jang. Detektif itu adalah orang yang Kyuhyun sewa untuk mencari tahu keberadaan Hye Ra saat ini. Sudah 2 tahun belakangan ini Kyuhyun meminta bantuan Detektif Jang tetapi hasilnya nihil. Tak ada satu pun petunjuk yang ia dapatkan mengenai tempat dimana keberadaan Hye Ra. Sungguh hal ini membuat Kyuhyun frustasi.

“ Permisi. Tuan Cho Yeung Hwan ingin bertemu dengan Anda.” Ujar sekertaris Kyuhyun yang baru saja masuk kedalam ruangan kerja Kyuhyun.

“ Ya, persilahkan beliau masuk.”

Kyuhyun bangkit dari duduknya ketika melihat sosok paruh baya yang tengah memasuki ruang kerjanya.

“ Sudah lama aku tak berada diruangan ini.” Ujar Tuan Cho sambil tersenyum kearah Kyuhyun.

Ne.

“ Kau benar benar merawat ruangan ini dengan baik. Terimakasih.”

“ Ahh. Ye.”

Tuan Cho pun berjalan mengitari setiap sudut ruang kerjanya dulu dengan bantuan sebuah tongkat kayu yang terlihat mengkilat tengah berada di dalam genggamannya.

“ Bagaimana keadaan perusahaan?” Tanya Tuan Cho dengan tatapan yang masih terkunci pada sebuah foto berukuran besar yang tergantung kokoh di dinding. Foto keluarga Cho.

“ Stabil. Kemungkinan dalam waktu dekat ada peningkatan omzet.” Jawab Kyuhyun.

“ Kerja bagus. Bukan keputusan yang salah aku mengangkatmu menjadi CEO.” Tuan Cho berbalik dan menatap Kyuhyun penuh rasa bangga sambil menepuk nepuk pundak anak bungsu-nya itu.

Gamshamnida.” Kyuhyun setengah menundukkan kepalanya.

“ Apa kau tak ingin menanyakan maksud kedatanganku kemari?” Tuan Cho mendudukkan tubuhnya di sofa berwarna coklat tanah yang memang ada di dalam ruangan Kyuhyun.

Ye?

“ Aku ingin mengatakan suatu hal yang menurutku penting bagimu. Duduklah.” Tuan Cho menunjuk sofa yang ada di sampingnya.

Masih dengan raut wajah bingung, Kyuhyun pun duduk di sofa yang ada di samping tempat duduk ayahnya itu.

“ Aku mohon kau bersiap siap.” Tuan Cho membuka pembicaraan.

“ Bersiap untuk apa, Aboji?”

“ 2 minggu lagi keluarga wanita yang ingin ku kenalkan padamu akan berkunjung ke rumah.”

Aboji… Aboji masih berniat untuk menjodohkanku?” Tanya Kyuhyun dengan nada tak percaya.

“ Ya, ini demi kebaikanmu juga. Bukankah menyandang pekerjaan berat dan besar seperti dirimu yang menjadi CEO, harus memiliki pendamping yang nantinya juga akan membantumu?”

“ Tapi bukankah aku sudah pernah mengatakan tidak akan menikah dengan wanita pilihanku sendiri?”

“ Ya aku tahu. Tetapi selama ini kau tak pernah mengenalkan siapa gadis yang kau maksud.”

“ Saat ini aku masih berusaha mencari keberadaannya. Jadi mohon Aboji bersabar sedikit lebih lama.” Mohon Kyuhyun.

“ Kyuhyun-aah, kau mengerti bagaimana keadaanku saat ini. Jika sesuatu terjadi padaku secara tiba tiba dan kau juga belum menemukannya, apa kau tega?”

“ Tapi, Aboji…

“ Aku mohon… kali ini saja.”

Tuan Cho berdiri dan melangkahkan kakinya menuju pintu, meninggalkan Kyuhyun yang masih terduduk dengan mata yang menatap nanar punggung ayahnya yang mulai menghilang di balik daun pintu.

Sendirian. Hanya tersisa Kyuhyun seorang dalam ruangan megah ini. Dihempaskan punggungnya pada sandaran kursi yang empuk. Matanya terpejam meresapi denyutan denyutan pada dahinya. Pening. Benar benar rasa pusing telah menjalar di seluruh rongga kepalanya.

Kyuhyun pun membuka kembali matanya dan menghembuskan nafas berat. Ditautkan jemari jemarinya dengan erat. Matanya memandang kosong lurus kedepan, sepertinya ia tengah menimbang nimbang suatu hal.

Tak lama berselang, dirogohnya saku celana dan dikeluarkannya ponsel berwarna putih itu. Jemari Kyuhyun dengan lincahnya menekan angka angka yang terdiri dari beberapa digit itu. Sepertinya nomor itu telah dihafalnya di luar kepala.

Yeobseo.

“………”

Ne. Temukan keberadaannya sebelum 2 minggu lagi.”

“……….”

“ Akan kupastikan bonus langsung ku kirim ke rekening Anda.”

PIP..

Dijauhkan ponsel itu dari telingannya dan dimasukkan kembali ke dalam saku celana bahan berwarna hitam itu.

“ Hanya kabar dari Detektif Jang satu satunya harapanku. Sungguh aku mulai gila memikirkan semua ini.”

-oOo-

Donghae’s Home, Bunkyo, Tokyo.

 

“ Hyunie.. Hyunie.”

Donghae dengan cepat membuka pintu audy-nya dan langsung berlari mengejar Hyun Hae yang telah terlebih dahulu berlari masuk kedalam rumah sesaat ketika mobil Donghae berhenti di pekarangan.

Donghae tahu pasti ada yang tidak beres dengan Hyun Hae. Ia tahu betul sifat dan sikap anak yang sudah ia besarkan selama 3 tahun ini bersama Hye Ra.

Kali ini sikap Hyun Hae sangat aneh. Ia terus saja merengut dan tak mengatakan sepatah kata pun saat dalam perjalanan pulang. Hal  ini bertolak belakang dengan sifat Hyun Hae yang terkenal pintar dan banyak bertanya tentang apapun yang tak ia ketahui, seperti juga saat perjalanan pulang. Selalu saja ada yang di tanyakan, entah itu rambu lalu lintas atau hal lain yang ia lihat.

“ Hyunie, ada apa? Hyunie pulang dengan samchon Lee ‘kan?” Tanya Hye Ra disaat melihat Hyun Hae memasuki rumah dengan menenteng sepasang sepatunya.

Hyun Hae menghentikan langkahnya dan menatap Hye Ra sekilas sebelum melanjutkan hentakan langkahnya.

“ Hei. Kalau eomma sedang bertanya, Hyunie harus menjawabnya. Hyunie pulang bersama samchon Lee ‘kan?” Hye Ra meraih tangan mungil Hyun Hae dan mencegahnya untuk pergi. Hye Ra juga menekuk lututnya di hadapan Hyun Hae untuk mensejajarkan tinggi mereka.

“ SIAPA SAMCHON LEE?! AKU TIDAK MENGENALNYA!!” Teriak Hyun Hae tepat di depan ibunya. Tentu saja Hye Ra kaget dengan sikap anaknya itu.

“ Hyunie…” Nada bicara Hye Ra melemah.

“ MENGAPA EOMMA SELALU MEMANGGIL APPA-KU DENGAN SEBUTAN SAMCHON?”

“ Hyunie..”

“ MENGAPA AKU BERMARGA CHO SEDANGKAN APPA-KU BERMARGA LEE?! APA AKU BUKAN ANAK KALIAN?” Hyun Hae melemparkan sepatunya dengan murka ke lantai. Matanya dengan cepat berkilat kilat akibat air mata yang sudah terbendung di pelupuk matanya.

“ Hyunie. Mengapa kau berbicara seperti itu?” Tanya Hye Ra sambil menahan isak tangisnya.

“ Teman temanku disekolah… mengolok-olok-ku. Mereka bilang.. aku bukan anak Appa. Karena marga kami berbeda.” Air mata sukses menggenang melewati pipi putih itu dengan derasnya.

Hye Ra mendadak merasakan sesak yang begitu menyiksa mendengar penuturan anaknya. Ia masih tak menyangka, Hyun Hae benar benar anak yang pintar. Di usianya yang masih 3 tahun dia sudah mengerti perbedaan marga. Dia mengerti jika seharusnya ayah dan anak memiliki marga yang sama. Dia peka jika ada sebuah keanehan yang terjadi. Benar benar anak yang pintar. Sama seperti Kyuhyun. Hyun Hae sangat mirip dengan Kyuhyun.

“ Hyunie.. Kau anak Appa. Anak Appa hanya Hyunie.” Donghae yang sedari tadi hanya melihat perseteruan ibu dan anak itu dari balik dinding penyekat akhirnya menghampiri mereka dan langsung memeluk tubuh Hyun Hae yang sudah bergetar hebat akibat tangisannya.

“ Hyunie adalah anak Appa dan Eomma. Hyunie bukan anak orang lain.” Donghae mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil Hyun Hae.

Hatinya benar benar sesak, sama seperti Hye Ra yang saat ini tengah menatap 2 orang laki laki di hadapannya dengan mata yang berurai air mata, dengan tangisan yang ia coba redam dengan kedua tangan yang membekap mulutnya.

Uljjima. Lelaki sejati tidak boleh menangis.” Donghae melepaskan pelukannya dan beralih menatap Hyun Hae. Sebuah senyuman yang tentu saja terlihat di paksakan terkembang di bibir Donghae. Ditatapnya mata onyx yang tajam itu. Ia tahu mata itu sama sekali tak mirip dengan matanya. Tentu saja.

“ Lelaki sejati juga selalu meminta maaf. Hyunie lelaki sejati ‘kan?” Tanya Donghae sambil menyeka air mata Hyun Hae.

Hyun Hae mengangguk mantap menatap Donghae.

“ Berarti sekarang Hyunie harus minta maaf pada Eomma. Lain kali, Hyunie tidak boleh berteriak pada Eomma. Arrachi?” Donghae mencubit gemas cuping hidung Hyun Hae.

Ne. Arrachi.”

               “ Ayo kita berjanji sebagai laki laki. Yaksok?” Donghae mengacungkan kelingkingnya di hadapan Hyun Hae.

               “ Yaksok.” Hyun Hae menyambutnya dan langsung mengaitkan kelingking mungilnya di kelingking Donghae.

“ Anak pintar. Sekarang minta maaf-lah pada Eomma.

Hyun Hae berbalik dan menatap Hye Ra yang masih menangis. Kaki kaki kecil Hyun Hae berlari menuju ke hadapan Hye Ra.

Eomma, Hyunie minta maaf. Hyunie tidak akan mengulanginya lagi.” Hyun Hae langsung memeluk tubuh Hye Ra erat. Di tenggelamkan kepalanya di bahu Hye Ra.

Disela tangisannya, Hye Ra tersenyum. Dipejamkan kedua matanya sembari tangannya mengusap punggung Hyun Hae dengan lembut.

“ Maafkan Eomma juga.” Ujar Hye Ra lirih.

***

               “ Aku tak menyangka Hyun Hae akan cepat menyadari kejanggalan dalam namanya.” Donghae menatap hamparan langit luas nan indah akibat semburat kuning kemerahan yang merona di awan awan yang masih setia menggantung.

“ Dia terlalu pintar untuk anak seusianya.” Timpal Hye Ra yang memang duduk tepat disebelah Donghae.

Matanya beralih menatap air kolam renang dimana kedua kakinya dan kaki Donghae sengaja mereka benamkan.

“ Ya, dia memang benar benar anak yang jenius.”

“ Aku merasa mentalnya belum terlalu kuat untuk mengetahui semuanya.”

“ Tapi cepat atau lambat dia akan mengetahui jati dirinya. Cepat atau lambat, Hye Ra.” Donghae beralih menatap Hye Ra yang tengah sibuk menyelipkan anak rambutnya yang diterbangkan oleh angin angin sore yang berhembus sepoi sepoi.

Donghae mengerjap-ngerjapkan matanya menatap Hye Ra yang saat ini terlihat begitu mempesona. Anni.. bukan hanya saat ini, tetapi setiap detik. Hye Ra selalu menyita perhatian Donghae setiap waktu.

“ Untuk saat ini, biarkan saja Hyun Hae menganggapku sebagai ayahnya. Biarkan saja. Aku senang mendengarnya memanggilku Appa.” Ujar Donghae dengan perhatian yang masih tersita dengan pesona wajah yang ada dihadapannya.

Hye Ra tersentak dan langsung menoleh menatap Donghae.

“ Perlukah kita mengubah akta kelahiran Hyun Hae? Merubah marganya menjadi Lee?”

Oppa?” Tanya Hye Ra tak percaya.

Donghae tersadar dengan apa yang baru saja ia ucapkan. Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri.

“ Emm… maksudku.. hanya untuk sementara… emm.. agar Hyun Hae tidak curiga.”

“ Akan kupikirkan dulu.”

-oOo-

               “ Baiklah Mi-yaa. Lakukan apa yang ingin kau lakukan saat ini. Kita sudah memberi waktu yang sangat lama untuknya menghela nafas bebas. Saat ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan segalanya.” Seorang yeoja berparas cantik menawan dan berambut kecoklatan itu menyeringai kejam disaat tengah berbicara via telepon dengan seseorang di sebrang sana.

“ Lakukan dengan sempurna. Jangan ada kesalahan sedikitpun.” Lanjutnya.

“…………”

Ne. Bersenang senanglah dengan buruan pertamamu.”

PIP..

Yeoja itu menjauhkan ponsel dari telinga dan mematikan sambungan teleponnya. Ditatapnya hamparan langit sore yang begitu indah dari balik jendela kaca berukuran besar itu. Senyuman yang terlihat jahat itu masih saja menghiasi wajah cantiknya. Tangannya juga terlipat angkuh di depan dadanya.

“ Habislah kau.”

-oOo-

               “ Bagaimana? Apa ada perkembangan informasi?” Tanya Kyuhyun antusias pada namja yang duduk berhadapan dengannya itu.

“ Maafkan aku, Tuan Cho. Kasus ini benar benar sulit. Tak ada petunjuk dimana keberadaan Nona Kim Hye Ra.” Terdapat nada dan raut wajah menyesal dari namja yang berusia sekitar 35 tahun itu.

“ Tak bisakah kau usahakan sebelum 2 minggu lagi?” Tanya Kyuhyun dengan sedikit memelas.

“ Tim kami akan mengusahakannya.”

“ Terimakasih.”

-oOo-

Drrrt.. Drrtt..

Hye Ra segera merogoh saku arpon yang tengah ia kenakan itu dan mengeluarkan smartphone miliknya.

Yeobseo?”

“ Hye Ra-yaa. Hari ini aku tak bisa menjemput Hyun Hae. Tiba tiba ada pasien yang harus di operasi.”

“ Ahh. Ne, gwenchana.”

“ Oke. Aku tutup teleponnya.”

Ne.

Hye Ra meletakkan ponselnya di atas nakas dan langsung melangkahkan kakinya menuju kamar untuk berganti pakaian.

Memang hari ini Hye Ra tak ada kegiatan. Jadwal perkuliahan Hye Ra yang memang tersendat hampir setahun akibat cuti hamil dan melahirkan itu akhirnya bisa ia selesaikan. Ya, ia sudah dinyatakan lulus dari Fakultas Kedokteran dan sudah diwisuda seminggu yang lalu. Dan sekarang adalah liburan panjang bagi Hye Ra.

Tak lama berselang, Hye Ra keluar dari kamarnya sambil memakaikan coat berwarna soft brown pada tubuh rampingnya. Dilihat jam yang tergantung di dinding ruang keluarga. Pukul 10 pagi. Berarti masih 30 menit lagi Hyun Hae pulang.

Dengan cepat disambarnya kunci mobil yang baru dua minggu lalu di kirim oleh Jongwoon untuk Hye Ra sebagai hadiah kelulusan dan juga sebagai permintaan maaf karena ia tak bisa menemui dan mengucapkan selamat pada Hye Ra secara langsung karena perusahaan keluarga Hye Ra sedang dalam masa bangkit setelah krisis yang hampir saja mem-bangkrut-kan perusahaan itu.

Dilajukan mobil berwarna silver itu dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota Tokyo yang sudah mulai memadat. Dari balik kacamata hitam yang tengah dikenakannya, Hye Ra menelisik setiap sudut kota yang strukturnya sangat mirip dengan Seoul. Padat dan teratur. Sungguh hal ini semakin membuatnya merindukan Seoul. Merindukan Namsan Tower, merindukan aliran Sungai Han yang tenang, merindukan masakan Korea, merindukan Oppa-nya, merindukan sahabat sahabatnya. Dan satu lagi yang tak pernah ia pungkiri.. ia sangat.. jauh di dalam lubuk hatinya yang terdalam.. sangat.. dan amat.. merindukan sosok pria itu. Cho Kyuhyun.

30 menit kemudian, tepat pukul setengah sebelas siang mobil Hye Ra telah berhenti di seberang gerbang Playgroup tempat Hyun Hae bersekolah. Segera dibukanya pintu mobil keluaran terbaru itu. Hye Ra mengunci otomatis mobilnya dan hendak menyeberang.

EOMMA!!” Ternyata Hyun Hae tengah berada di seberang jalan sambil melambai lambaikan tangan mungilnya. Hye Ra hanya tersenyum kearah anaknya.

Hye Ra melangkahkan satu kakinya memasuki badan jalan. Setelah dirasa cukup aman untuk menyebrang, Hye Ra mempercepat langkahnya membelah jalanan secara vertikal. Di gengamnya erat tas yang tersampir di bahunya itu.

EOMMA!!” Hye Ra menatap lurus kedepan melihat Hyun Hae yang tengah berteriak histeris di sebrang sana.

Hye Ra tak mengerti apa maksud teriakan Hyun Hae sampai akhirnya ia merasa sebuah benda besar menabrak tubuhnya dengan keras sampai sampai ia bisa merasakan udara di bawah punggungnya sebelum sekujur tubuhnya terasa remuk akibat menghantam jalanan beraspal itu.

Dirasanya bau anyir menyeruak kedalam indra penciuman Hye Ra seiring dengan memburam pandangannya sebelum semua menjadi gelap.

Volume suara yang terdengar olehnya juga semakin kecil.. kecil.. kecil dan akhirnya yang tercipta hanya keheningan..

Dan kegelapan.

..TBC..